Menelisik Formalisme Arab

Judul Buku: Teori Kritik Sastra Arab: Klasik dan Modern
Penulis : Sukron Kamil
Penerbit : Rajawali Pers, Jakarta
Cetakan : I, 2009
Tebal : xxviii + 265 hlm
Peresensi: Misbahus Surur*
http://www.lampungpost.com/

KELAHIRAN karya sastra bak kelahiran anak manusia, ia muncul begitu saja di tiap-tiap jenjangnya, tanpa terikat oleh adanya sebuah aturan. Namun, tanpa kritik sastra yang memadai karya sastra terkesan tak berimbang. Sebab, munculnya karya sastra dan kritik, lazimnya berjalan beriringan, sehingga tercipta iklim sastra yang hebat.

Dalam ranah kesusastraan Arab, kritik sastra menjadi keniscayaan saat kerja sastra hanya menandaskan pada capaian produk (tifitas) karya; semisal pertaruhan kualitas literer juga keberanian menerjang mainstream, tanpa mempelajari substansi kritik (naqd) yang sebanding-searas. Sebab itu, kritik sastra tampil, salah satunya bertujuan menilai, menjadi juri untuk menimbang sebuah karya (sastra) berdasarkan kadar ukuran-ukuran tertentu.

Setidaknya ada beberapa fungsi kritik yang dipetakan buku ini. Kritik perlu ada antara lain sebagai entitas penjelas sebuah karya, terlebih saat sebuah karya sering hanya menyembunyikan ihwal di balik apa yang tersurat. Di situ, urgensitas kritik diperlukan justru karena karya sastra bukan semata-mata interpretasi objektif sang pengarang, melainkan karena masih menjadi interpretasi subjektif bagi seorang sastrawan, yang bisa jadi tak mudah untuk difahami pembaca. Tentu, ini selain fungsi kritik sendiri berguna untuk meningkatkan kualitas literer (karya) sastrawan pemula.

Dalam sejarah sastra Arab, perkembangan kritik bermula dari sejarah karya sastra yang digantung-pajangkan di dinding Kakbah sehabis dipentaskan di Pasar Ukaz. Karya seperti itu lazim disebut al-mu’allaqat. Pekan Raya Ukaz yang berlangsung sejak masa jahiliyah itu bukan saja menjadi arena jual-beli aneka barang dagangan, melainkan juga menjadi ajang demonstrasi adu syair antarberbagai penyair dari seluruh pelosok Jazirah Arab. Hal ini menandai betapa iklim sastra sekaligus laju kritiknya saat itu, berkembang pesat.

Muhammad al-Rabi’ dalam buku, al-Adab al-Arabi wa Tarikhuhu, setidaknya pernah mencatat ada beberapa kritikus yang melakukan kritik kala itu. Mereka itu seperti Al-Nabigah al-Zibyan yang pernah mengkritik Hasan bin Tsabit soal ketidaktepatannya dalam menggunakan diksi. Kemudian, lahir para kritikus seperti Abu Umar dan al-Usmu’i, sekitar abad kedua hijriah, yang me-review banyak syair jahiliyah dan melakukan studi banding antara satu syair dengan syair yang lainnya. Bahkan buku Kodifikasi Syair al-Usmu’i karena unsur ketelitiannya, dinilai para ahli sebagai buku yang paling memiliki akurasi sastra Arab jahiliyah.

Selanjutnya di abad ketiga hijriyah, muncul kritikus seperti Ibnu Qutaibah yang menulis Al-Syi’r wa al-Syu’ara dan Al-Jahizh yang menulis Al-Bayan wa al-Tabyin. Nabi sendiri suatu kali pernah melakukan kritik terhadap syair-syair haja’ (ejekan) yang diluapkan Hassan bin Tsabit, Ka’ab bin Malik, dan Abdullah bin Rawahah, sewaktu mereka melawan syair haja’ kaum Quraisy (hlm 56–57).

Selama ini seakan terlihat teori kesusastraan Barat begitu dominan dalam kajian-kajian sastra, termasuk sastra Arab. Padahal kalau kita telusuri, kekayaan perangkat teoritik tradisi Arab sebenarnya tak kalah mentereng. Dalam sejarahnya, karya sastra di luar Barat, yakni tradisi formalisme Arab justru lahir jauh sebelum tradisi formalisme Barat (Rusia) muncul.

Formalisme Arab lahir di abad klasik bersamaan dengan munculnya kajian sastra Arab dengan analisis ilmu balaghoh. Di mana balaghah (formalisme Arab) ini, dalam tradisi kesusastraan Arab digunakan sebagai alat untuk meneliti tindak keindahan bahasa.

Tokohnya semisal Al-Jahiz yang memandang keindahan lafaz (bentuk) sebagai hal yang penting mendahului makna (substansi/isi). Ini juga bisa dibuktikan dengan lahirnya ilmu ‘arud, yang pertama kali disusun oleh Khalil bin Ahmad (170 H). Sebuah ilmu yang membahas kesesuaian akhir kata/rima (qafiyah) dan juga ritme/metrum kalimat (wazan/bahr) dalam jagat perpuisian Arab (as-sya’ir Arabi).

Buku ini cukup komprehensif, terlebih ketika mengulas sejarah teori kritik sastra Arab. Selain dilengkapi kajian teoritik mulai teori klasik, romantik, realisme, simbolisme hingga semiotik dan hermeneutik yang mewarnai sejarah sastra Arab, juga ditopang dengan pemetaan karya sastra dan leksikon sastrawan di masa itu hingga sekarang. Terlebih buku ini juga disertai kesimpulan-kesimpulan padat yang tentu amat berguna untuk memudahkan memahami gagasan-gagasan besar di setiap babnya.

Sayangnya, penulis buku ini tak menyertakan kajian perspektif feminis, postkolonial dan dekonstruksi sebagai sebuah kajian teoritik yang juga sama-sama besar. Meski begitu, pembaca tetap bisa menikmati detail keseluruhan textbook ini, karena ulasannya yang lengkap dibarengi contoh kritik yang memadai, lebih-lebih bagi Anda para pegiat teori dan kritik sastra Arab.

*) Mahasiswa S-2 pendidikan Bahasa Arab, UIN Maliki, Malang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *