MENGADILI SANG SAPURBA: MENGGUGAT MASA LALU

Maman S Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Dapatkah sejarah diadili dan tokoh masa lalu yang menjadi terdakwa, pembela, dan saksinya? Itulah yang terjadi pada pementasan Sang Sapurba yang dipersembahkan Sanggar Teater Selembayung, Pekanbaru, Riau, di Panggung Seni Dewan Canselor Tun Abdul Razak, Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Selangor, Jumat, 16 Juli 2004 dalam Festival Seni Teater Melayu ASEAN 2004. Festival yang diikuti enam grup teater dari Malaysia (Kelab Teater Rimba, Universiti Kebangsaan Malaysia), Indonesia (Teater Pagupon Universitas Indonesia dan Sanggar Teater Selembayung, Universitas Lancang Kuning, Riau), Singapura (Persatuan Kemuning Singapura), dan Muangthai (Decha Group, Dechapa Hanayanukul, School of Amphur Muang, Pattani) itu diselenggarakan Pusat Kebudayaan UKM bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan, Kesenian dan Warisan Malaysia, berlangsung 14?19 Juli 2004. Timbalan Menteri Kebudayaan, Kesenian dan Warisan Malaysia, Datuk Wong Kam Hoong yang mewakili YB Datuk Seri Utama, Dr. Rais Yatim, meresmikan acara itu. Brunei Darussalam (Universiti Brunei Darussalam) yang semula akan mengirimkan delegasinya, ternyata mengundurkan diri.

Sanggar Teater Selembayung, Pekanbaru, Riau, yang mendapat kehormatan pentas di hari kedua, mengangkat naskah Sang Sapurba karya Hang Kafrawi. Sebuah naskah yang coba menafsir-ulang peristiwa sejarah kebesaran puak Melayu. Sutradara (Hang Kafrawi) seperti hendak menggugat, sekaligus memberi pemaafan atas langkah ambisius Sang Sapurba yang membawa tragedi berdarah konflik Hang Jebat dan Hang Tuah. Ada dua dimensi waktu yang dihadirkan di sana, yaitu masa lalu dan masa kini. Dengan penghadiran dua dimensi waktu itu, sutradara leluasa menggugat masa lalu, bahwa penderitaan yang terjadi di tanah Melayu (: Riau) sekarang, tidak lain sebagai akibat dari kesalahan tokoh?tokoh sejarah itu. Maka, kini saatnya masa lalu dibawa ke hadapan pengadilan rakyat, dan dituntut pertanggungjawabannya.

Kisahnya dimulai dari masa kini dengan menghadirkan tokoh Orang 1 sampai Orang 4 (dimainkan Mimi Suryani (Orang 1), M. Paradison (Orang 2), Rina (Orang 3) dan Bambang (Orang 4). Sebagai rakyat biasa, mereka coba mempertanyakan dan menuntut Sang Nasib. Tetapi, dalam konteks luka sejarah puak Melayu masa kini, tak begitu jelas, merepresentasikan golongan manakah tokoh?tokoh itu. Akibatnya, kelompok orang ini cenderung memasalahkan dan menggugat hal yang sama.

Dengan penataan lampu seadanya dan setting panggung yang sengaja dibangun minimalis, para pemain tampak bergerak lepas, meski terkadang muncul pula ledakan emosi yang seperti tak terkendali. Tokoh Sang Sapurba (dimainkan Fedli) tampil cukup memukau melalui vokalnya yang nyaring dan ekspresif. Tokoh inilah yang menjadi pokok persoalan. Ia harus hadir sebagai masa lalu, sekaligus masa kini yang menerima hujatan masyarakat Riau sekarang. Ternyata, ambisi Sang Sapurba semata?mata didasarkan pada hasratnya membangun martabat dan nama besar, reputasi, dan tonggak penting yang hendak diwariskan kepada anak cucunya kelak. Sebuah watak yang sesungguhnya sangat wajar dimiliki seorang raja. Lalu mengapa dia harus diadili?

?Sebagai Raja masa lalu, Fedli cukup berhasil membawakan perannya,? begitu komentar Harris Priadie Bah, Ketua Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta yang bertindak sebagai pengamat festival itu. ?Tetapi, ia seperti menghadapi problem psikologis ketika harus berhadapan dengan masa kini. Ia cenderung terjebak pada gaya mayoret yang sebenarnya hanya cocok mewakili raja masa lalu.?

Demang Lebar Daun (dimainkan M. Yusuf) dan Wan Sandari: permaisuri Sang Sapurba (dimainkan Diyah) gagal pula menahan gejolak ambisi Sang Sapurba. Raja tetap dengan keputusannya untuk melakukan pelayaran dan menyebarkan kekuasaannya di Nusantara. Demang Lebar Daun dan Wan Sandari pun terpaksa mengikuti kehendak Raja yang sudah dibakar kekuasaan. Dalam adegan inilah, kehadiran Demang dan Permaisuri sesungguhnya sangat penting mengingat kedekatan keduanya dengan Sang Sapurba. Akibatnya, Demang, Sang Penasihat Raja, dan Permaisuri, orang paling dekat dengan raja, benar?benar hadir seperti rakyat biasa yang tidak berani menyampaikan argumen dan perdebatan. Peran dan dialog Raja menjadi begitu dominan dan menenggelamkan peranan kedua tokoh itu.

Manakala hadir Hang Jebat (dimainkan Jefrizal) dan kemudian disusul Hang Tuah (dimainkan Monda), peran Demang dan permaisuri nyaris tenggelam karena keduanya tak diberi peluang untuk menjalankan perannya secara maksimal. Ada kesempatan untuk menghadirkan ruang perdebatan, tetapi tak dimasukinya. Dalam hal ini, boleh jadi keterikatan pada teks dipahami secara letterlijk. Maka, di sana tak ada improvisasi, tak ada trik yang dapat memancing tokoh lain membawa adegan pada konflik yang lebih tajam.

Naskah Sang Sapurba yang dibangun dengan rangkaian peristiwa masa kini dan masa lalu itu sesungguhnya sangat problematis. Interaksi antartokoh cukup leluasa memberi peluang bagi penghadiran konflik. Memang terasa rumit. Tetapi Sutradara berhasil menghubungkaitkan peristiwa masa kini dan masa lalu dalam rangkaian adegan yang wajar. Pemunculan tokoh?tokoh Orang 1-4 yang bertindak sebagai ?wakil? rakyat yang melarat, tertindas, dan menderita, merupakan katalisator untuk memasuki masa lalu. Pada bagian ini saja, peluang melahirkan potensi konflik sudah terbuka lebar. Bagaimanapun juga, problem yang terjadi di masyarakat, sesungguhnya jauh lebih kompleks. Ia tidak hanya berhadapan dengan dirinya sendiri, dengan sesama warga masyarakat, penguasa, dan Tuhan. Lalu kepada siapakah rakyat harus mengadu jika para penguasa sudah tidak mau mendengar suara mereka. Jangan?jangan Tuhan sudah menggariskan bahwa kesejahteraan tidak mau lagi bersahabat dengan rakyat, jika penguasa bertindak lalim.

Mengenai persoalan sejarah sebagaimana yang dimunculkan dalam Sang Sapurba, tentu saja keempat tokoh Orang itu pun menafsirkannya sesuai dengan kemampuan dan wawasan masing?masing. Oleh karena itu, sangat mungkin antara mereka timbul perbedaan penafsiran. Dan itu dapat dimanfaatkan untuk menciptakan konflik akar rumput, konflik yang justru seharusnya tak terjadi jika pihak penguasa konsisten berpegang pada moralitas dan hati nurani.

Yang cukup menonjol dalam pementasan Sang Sapurba menyangkut tema cerita yang tidak lepas dari semangat menggelegak melakukan perlawanan. Dalam beberapa adegan, pesan ideologis itu terasa artifisial dan tak menjadi bagian integral dengan keseluruhan cerita. Demikian juga, akting para tokohnya cenderung terjebak pada keinginan untuk mengekspresikan kegelisahan batinnya melalui gerak luar: kepala tangan atau hentaka kaki. Gaya mayoret itu, tentu saja dapat dimanfaatkan jika memang perlu. Tetapi, jika semua dialog harus juga didukung dengan gerak itu, inilah yang menjadi problemnya. Gaya yang kini sudah mulai banyak ditinggalkan itu, cenderung melupakan totalitas ekspresi emosional. Dialog dan gerak seperlunya saja yang disesuaikan dengan tuntutan cerita. Maka tanpa gaya mayoret seperti itu pun, penyatuan seorang pemain dengan peran yang dibawakannya, akan tampil memukau, karena di sana ada peluang untuk menyalurkan emosi psikologis secara maksimal.

Hal yang juga penting diperhatikan adalah bentuk setting. Tampak di sana, penataan ruang yang coba mengisyaratkan suasana simbolik, seperti tidak ada hubungannya dengan tema masa lalu yang diangkatnya. Akibatnya, hubungan setting dan tema cerita seperti penyatuan minyak dan air. Tak lebur dan menjadi bagian integral dengan cerita. Meski begitu, pemahaman sebagian besar pemain atas tema cerita dan semangat yang melatarbelakanginya, yang diekspresikan lewat vokal yang ekspresif, cukup membantu penonton mencantelkan setting dengan tema cerita. Bagaimanapun, Sang Sapurba menghadirkan kompleksitas masalah yang tidak sederhana. Dalam hal itulah, penghayatan pemain atas peran yang dijalankannya cukup berhasil membawa imajinasi penonton melewati batas ruang dan waktu.

Secara keseluruhan, pementasan ?Mengadili Sang Sapurba? bolehlah dianggap berhasil. Satu dua kelemahan pemain, dapat ditutupi oleh kemampuan pemain lain berakting. Demikian juga, logika cerita yang bermain dalam tataran masa kini dan masa lalu, tak menghadapi kendala karena hadirnya sejumlah adegan tertentu yang mengisyaratkan adanya pemisahan kedua dimensi waktu itu. Sebagai sebuah pementasan, bagaimanapun juga ?Mengadili Sang Sapurba? telah menyuguhkan sebuah pementasan yang rancak dan memukau!

(Laporan Maman S. Mahayana dari Festival Seni Teater Melayu ASEAN 2004, Selangor, Malaysia)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *