Namanya Abadi di Bunga Anggrek

Siska Prestiwati W
http://www.surabayapost.co.id/

Ketekunannya mengembangkan bunga anggrek membuat namanya menempel pada jenis bunga yang langka dengan bahasa latin Dendrobium sutiknoi p. o’bryne.

Sebagai pengusaha instalasi listrik dan guru, Soetikno Linoehoeng tidak tahu banyak hal tentang tanaman, khususnya bunga anggrek. Waktunya lebih banyak digunakan untuk mengabdi di Yayasan Pendidikan Teknik Indonesia dan berkeliling bersama teman-teman PLN untuk memasang listrik ke daerah-daerah.

Soetikno menceritakan awalnya dia berkenalan dengan anggrek serta bisnis tanaman itu secara tidak sengaja. Pada Februari 1972, saat itu, dia sedang merayakan ulang tahun pernikahannya yang ketiga bersama sang istri Liliani Gunowijoyo di Jakarta. Saat di Jakarta, sang kakak meminta tolong padanya untuk mencarikan bunga anggrek

“Saat membeli anggrek untuk kakak saya itulah, saya banyak bertanya tentang anggrek dan bisnisnya. Menurut saya bisnis ini prospeknya sangat menjanjikan,” kenang Soetikno ditemui di rumah sekaligus kebun anggreknya di Desa Jagil, Raya Prigen.

Saat kembali ke Surabaya, dia dan istri mulai menggali informasi sebanyak-banyaknya tentang tanaman itu. Dia bertanya ke para penghobi anggrek termasuk kakaknya maupun mencari buku-buku tentang anggrek dan budi dayanya. Niat untuk memulai bisnis anggrek pun terus membuncah. Hingga saat dirinya diajak oleh teman-teman PLN memasang instalasi listrik di Pasuruan, dia mengutarakan keinginannya untuk mencari tanah untuk menanam anggrek. Oleh temannya, dia ditunjukkan ke lahan seluas 1 hektare yang akhirnya dia beli pada September 1972 dan hingga kini telah dia gunakan untuk membudidayakan anggrek.

“Ya, awalnya saya menanam anggrek hanya di lahan seluas 20×20 saja,” ungkap pria asal Banyuwangi ini.

Pada awal usahanya, sambung dia, hanya melayani bunga potong saja. Sambil terus membudidayakan anggrek yang dimiliki. Karena anggrek bisa berbunga kapan saja, maka 1972 itu pun dia sudah bisa memasok ke Pasar Bunga Kayoon. Semakin lama, budidaya anggrek terus bertambah sehingga lahan makin luas. Saat ini mencapai 1,5 hektare dengan ribuan jenis anggrek.

Sutikno menambahkan bisnis bunga sangat prospek karena harga bunga yang stabil, tidak terpengaruh dengan kenaikan dollar. Sekitar tahun 1990-an. Sutikno tidak lagi berbisnis bunga potong saja, tetapi juga bibit. Tidak hanya menyuplai Pasar Bunga Kayoon dan Bratang, Sutikno juga mengirim ke luar Jawa. Sebut saja, Banjarmasin, Balikpapan, Sumatera, dan Kalimantan.

Soetikno guna terus menambah koleksi anggrek hutan. Awalnya, ada orang yang menawarkan anggrek ke tempatnya. Dengan senang hati ia pun membeli dan membudidayakannya. Hingga tidak sengaja menemukan spesies yang diberi nama sesuai dengan namanya yaitu Dendrobium sutiknoi P. O?bryne.

“Saya menemukannya secara tidak sengaja di antara batang-batang Dendrobium lasianthera. Saat tiba berbunga kok tampak lain. Maka bunga itu saya sendirikan,” jelasnya.

Bapak dua putra dan seorang putri ini menjelaskan tanaman anggrek Sutiknoi mirip dengan section spatulata lainnya. Batangnya cukup tinggi mencapai 1-1,5 meter. Bentuk daunnya elips agak bulat telur, semakin ke ujung ukuran daunnya semakin mengecil. Karakter unik dari anggrek ini adalah petalnya sangat panjang, mirip petal stratiotes, serta bentuk ujung labellumnya yang sempit dan melengkung dan hampir menyerupai labellum Dendrobium tobaense.

“Pada anggrek lainnya petal hanya setinggi 5 cm namun pada sutiknoi petal panjangnya bisa mencapai 12 cm. Untuk itu, dia disebut si raja tanduk dari Papua karena memang bunga tersebut berasal dari Papua dan Kepulauan Morotai,” paparnya.

Bunga anggrek bertanduk panjang tersebut, kali pertama dideskripsikan dan dipublikasikan pada Mei 2005 di Jurnal fur den Orchideenfreund. Nama Sutiknoi diambil dari penemu bunga itu, sedang nama P. O’bryne diambil dari Peter O’Bryne orang Singapura yang mendeskripsikan si Raja Tanduk dari Papua tersebut.

“Untuk Sutiknoi sendiri, sudah beredar di pasaran Asia Tenggara dan di sana harganya mencapai Rp 2 juta per pohon,” ungkapnya.

Sayangnya, sambung dia, beredarnya Sutiknoi di pasar Asia Tenggara yang meliputi Malaysia, Singapura, Thailand dan Bangkok tersebut bukan dirinya yang memasarkannya. Sutikno menceritakan saat bunga itu dideskripsikan dan dipublikasikan, penghobi dan pengusaha anggrek datang kepadanya dan membeli bibit Sutiknoi. Saat itu sedikitnya 15 ribu bibit Sutiknoi yang usianya satu tahun dengan tinggi tanaman hanya mencapai 5 hingga 7 cm diborong, khususnya oleh pengusaha asal Malaysia.

Meskipun harga anggrek stabil Sutikno mengaku bila dibandingkan dengan beberapa tahun lalu usaha bunga kini terasa lesu. Permintaan anggrek hanya pada saat-saat tertentu saja, misalnya pada hari Lebaran, hari keagamaan, dan pernikahan. Spesies sutiknoi, disebutkan, jarang dibeli orang, mengingat harganya yang mahal.

Biodata :
Nama : Soetikno Linoehoeng
T,TL : Banyuwangi, 4 Januari 1944
Alamat : Desa Jagil, Raya Prigen 87 Pasuruan.
Istri : Liliani Gunowijoyo.

Pendidikan :
SD Banyuwangi
SMP Banyuwangi
SMA Probolinggo
Fakultas Elektronik Universitas Adhitama Surabaya.

Karir :
1963-1969, guru di YPTI Surabaya.
1967 – sekarang, pengusaha instalasi listrik
1972 – sekarang pengusaha anggrek.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *