Parade Puisi Denny Mizhar

Waktu dan Buku

Bukankah ia berjalan tak berhenti
Melintasi sejarah detik-detik pejalan kaki
Sambil memunguti pertanyaan dan jawaban bekal mati

Gelap bila tak ada kendali
Terbawa begitu saja tanpa tersentuh hati

Terang bila punya mimpi
Membawa langkah berserah diri

Aku yang mewaktu
Sembunyi dalam buku
Tak sempat bercumbu
Sudah luka terburu-buru

Bukankah itu dulu?
Ketika kebebasan terpenjara dalam waktu beku

Kenapa menjadi kini?
Belum sempat aku kenali sudah mati

Aku dalam buku
Beku mewaktu
Ketika detik terbunuh
Sejarah berulang lalu

Malang, Desember 2009

Kota yang Menyapaku dengan Kisah

Ketika hujan ngelangut jatuhnya
aku memandang langit tampak ungu
Terbaca petanda kutukan telah menjelma
Berawal dari paha yang bersinar
ketika tubuh tersingkap oleh mata
Pada Ken Dedes, hasrat kuasa
menjelma hati yang hitam
takdir ungkap masa menyapa
Ken Arok yang lahir dari titisan Dewata:
?Barang siapa mendapatkannya
tangan menggenggam tanah jawa?
bersetubuhlah Arok dan Dedes
membangun Singosari.

Aku pun memandang parsasti tak utuh
Kelenaan dalam mengingat
Jejak-jejak bersliweran menamparku.
Memeluk Sang Empuh yang terbunuh
Oleh Keris menancap di dada
Menjadi tuan termakan
dari apa yang ditempahnya
Oh, Empu Gandring.
Ken Arok pun meminang kutukan
Bunuh yang saling membunuh
Pada anak keturunan sabdanya
Ketika nafas tinggal satu hembusan

Tubuhku yang basah
melintasi demensi waktu
menaruh kasih pada Tunggul Ametung
Yang berselimut kabut derita
gelap mata terbunuh juga

Hujan pun reda
kisah kota menyapaku belum sempurna
sambil memeluk gadis cantik
Tri Buana Tungga Dewi
dalam waktu yang terputus
terjelma lagi kutukan
ketika tahun barunya tiba.

Malang, Bulan Suro

Tuhan Yang Aku Penggal Dan Naluri Insani Yang Mati

Aku pernah memenggal nama tuhan
ketika tak kuat menjumpai tempat singgahnya

Batu batu kerikil tajam melukai kakiku
di jalan menapaki pertapaan.

Kesunyian singgah dalam kesilaman masa
keharuan menebar putik-putik kamboja
lelah dengan mudah

Bayangan-bayangan kematiannya
bergelayut di dinding nalarku penuh angka

Tak habis aku menginjaki nasib selalu patah
warna bercahaya hilang tertutup kabut nestapa

Penempaan akan diri
kian berulang-ulang dalam kehangatan purnama
ah, masih saja jauh kelanaku, sedang tubuhku penuh darah.

Dengan segala daya aku berlari merangkul sepi
di puncak perbukitan dimana tuhan pernah aku makamkan.

Seketika mulutku berkhotbah
mempertanyakan naluri insani juga mati di bukit putih.

Membaca Garis Retakan Resahmu di Bibirku
;E.R

Pada kelelahanmu menapaki jalan bukit pikir resah. Aku melihat senyum mengulum tak pernah kalah. Hati membaca waktu untuk merabah. Menanggalkan gerimis tubuh dengan mesra.

Kau menyimpan sejarah luka dalam buku harian di lemari berdinding besi tergaris pecah. Tak berharap siapanpun akan membongkar kisah. Kau tanam bunga melati putih tangkainya patah.

Aku bertanya padamu, maukah meletakkan beban di kepalamu pada pundaku? Sambil membisu kau menulis retakan nasib di bibirku. Seribu bahasa tak ada aksara untuk mengungkap puisi-syairmu yang bergemuru tentang rindu.

Kota yang Aku Lihat dari Puncak Gunung

Dari dereten bintang aku menghitung satu persatu dan tak aku temukan ujungnya. Begitukah risalah ini menjadi tinta yang tak habis-habis terbaca oleh ribuan mata. Melintasi persawaan, mendaki perbukitan mensetubuhi rasa lelah mendaki puncaknya. Ada yang selalu bertannya tentang kota yang terpandang dari atas gunung Penangungan.

Degub jantung berdebaran ketika mata lena tak dabat membaca isyarat apa yang melanda. Kota apakah itu? Yang rebah ketika malam tiba. Hanya lampu-lampu menyala seperti bintang yang aku hitung tak terhingga jumlahnya. Dimanakah letaknya?

Oh, kota yang punya nama pahlawan disana. Darah pernah tumpah menjadi sungai yang merah dan terbangun jembatan yang menghubungkan sejarah. Tertancap tugunya yang kini hanya menjadi pijakan burung-burung ketika hendak bersarang membuat rumah. Rumah-rumah tua, warung-warung makan, serta deretan masalah hilang entah kemana.

Duh, indahnya bila hanya malam saja. Dapat aku memandang tubuh menyala di setiap sudutnya. Dan hanya dari puncak sini saja aku memandang gelisah kota rebah. Oh surabaya.

Menyapa Petang Menuju Malam

Retak sudah hari menjadi dua antara gelap dan terang waktu berada
Lelangkah kaki meninggalkan jejak kata pada tanah sawah yang dipuja

Tubuh menjadi bersih dalam setubuh luruh dengan Sang kasih abadi
Kembali memintal harap mimpi jadi masa rajutan untuk membaca diri.

Gadis di Balik Pintu Berkaca Bening dan Aku yang Membuka Jendela Berselambu Biru

di balik pintu
berkaca bening rumahmu
kau belai rambutmu
menghitung helai demi helai
berapakah jumlahnya?

kau menerbangkan burung kertas biru
masuk di jendela rumahku
aku menangkap dengan terburu-buru

lahan-berlahan aku buka
tak ada goresan pena membilang makna

serupa mataku
tak lelah mengintip gelisahmu
dari satu jengkal tanganku membuka selambu biru

rumahku-rumahmu saling bertatap-tatapan
tapi mata kita tak saling bertautan
bukankah hidup untuk saling bersapaan

aku pun mengikuti hari
menghitung pagi
membuka jendela lagi
memandangmu kembali
berharap mataku-matamu saling menepi

derat bunyi pintu dari rumahmu
aku cepat membuka jendela berselambu biru
kembali aku tatap lagi

ah, teryata ibumu
senyum-senyum sambil menatapku

Malang, Januari 2010

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *