Parade Puisi Imamuddin SA

SEMBAH RINDU SANG KEKASIH

sepanjang musim rindu
biarlah ia membungkam waktu
menutup layar-layar malam
membuta kelopak siang
menidur tiap pandang
hanya kasih,
dia seorang
segala rasa racik memburu
berbentur segurat tubuh
giring-menggiring gelombang nurani
dalam kilau sendang imaji
akan galauan nurani
pagi ini,
ia percik sepingit hati
telah terbeku
di lampau hari,
sang kekasih
kasih, sampai batas waktu
tak bincang aku
di pangkumu
dalam gurat cintaku
sebab tiap kan kuseru
cakrawala tanya mengikat lenggang anganku
sungguh, batu-batu itu
menindih sapaku
dalam terali bisu,
nada-nadanya bergemuruh
menyayat selaksa petir berderu
ssst ??
dengar, kembali ia berseru
lewat segesit laku:

?hai, sekarang apa
penyulammu tuk tebar melati cinta
padanya??

lirih sahutku:
?segala cantik
kasih sayangnya
membius aku tuk memadu?

?sungguhkah itu?
kala secantik diri ternodai
kasih sayang berlayang
menjenguk kebencian
pastilah kau tarik kembali
rasamu?

terpatung aku bersama
serenung hati sunyi
tak meracik jawaban semi
di pusar bening itu,
tanpa pagi
tiupan nada bergeming
lewat sukma lain
membias dalam pesona hening

?jangan kau gigil tanahmu
kala keberadaanku,
aku kadangmu
lama tertimbun nafsu?

?mengapa kau hadir
menyapaku??

?aku kurir kasihmu
tuk melepas simpul panggulmu?

?kasih yang mana??

?adalah jati kasihmu
jauh tak kau seru
di ujung waktu?

?lalui gelanggang mana kau sampai padaku,
adalah segala pintu
telah tertutup
petamu??

?ya, ini lalaimu,
kala tersumpal semua cela
adalah lorongku yang merona?

?baiklah, jika kau sungguh
kurir kasihku
singkap misteri tabirku?

?saudaraku, bisik padanya
sebatas keberadaan hanya
kau labuhkan raga,
ya, sonanya
terlukis di kedalaman rasa
logika tanda,
pun kau mabuk bentuk segala
gerak tentunya
sebab seayu kasih tak kan terbercak darah
dalam bayang-bayang kelopak maya,
jaring-jaring benci
tidaklah merajut diri,
ia hanya penenun kasih
sayang
lewat dawai tak semelodi
di gaun jemari
saudaraku, gumam klebat suaraku
pada pelambung tanya itu:

berbelah-lah
buih suka
dalam bening tirta
gelombang cinta
saudaraku, panggulmu
talah kucincingkan
aku kan terbang melayang
menghapus jasad di sinar matamu
bersama nafas penyeruku?

pun berlayang ia
dari puitika kisah,
namun dengan sekedip mata
gemuruh nyanyian-nyayian tanya
kembali, berseru
selaksa kuda pacu menyerbu

?kala kau karang syair cinta
dari nafas bunga-bunga
padanya,
kau tuang apa
dala cawan sembahmu??

dengan sentakan itu
pun aku membatu,
memaksa bersapa
kadang yang lalu

?datanglah saudaraku,
balik kepak sayapmu
tuk meraba pelatarku
biar kau hempas
sampah-sampah khayalku?

tembang itu menarik
membawa ia ke peluk sedarah
bersetubuh bersamaku yang mengerang tanya

?kusemat jasadku
di pelatarmu
sebab lirik sendumu:

saudaraku, jamalah kasih bersama
nafas dan jemari ayu,
pahatlah cangkir sembahmu
dengan salukis asma kasihmu,
ramulah anggur tulusmu
dalam seikhlas madu,
pun lepas galanya
pada yang terindu
ingatlah saudaraku,
sekar cinta tak kan membawamu
dalam nostalgia bilal bin raba
lalu
lewat ulur sembahmu,
namun kau kan terlepas
dari bentuk semu
sebab ia terseru
kasih tak layu.
dengarlah saudaraku,
tiap pemburu cinta
di muara, mendekap bidiknya
sebab yang terburu pasti
rekat menyapa
tak kan berlari
entah ke mana
tiada terlepas selamanya,
pun jarik cinta terbatik
tanpa tendensi
hanya lewat canting tulus hati

saudaraku, kenanglah!
kala sang kekasih telah bersapa
adalah nuansa mesra
dalam roman cinta semesta
ya, hanya sebatas itu
selayang lirikku,
kini biarlah kupergi
bergapai singgahsana diri
melayang tanda bagi yang terkasih?

?bersama segala kasih
kulepas simpul benangmu
pengikat jejak bimbang jiwaku,
saudaraku, lantun kidungmu
kan kubeku
di bening kalbu
lalui sungai nada:

laa khaula walaa kuwwata illa billah,
terlaga
bagai sembah rindu sang kekasih
setia, semoga?

Kendalkemlagi, Juli 2005

ESENSI BAYANG-BAYANG

seklebat bayang-bayang berlari
menghempas imaji
terduduk di selembar permadani;
bumi
pelarian membawa padmasari

bersama peleburan hasrat
mengalir lewat tirta wening
menembus alam hening
singgah dalam ruang terasing

suatu metamorfosa padmasari
menjemput kesempurnaan diri

adalah waktu terus merayu
melembahkan martabat menjenguk madu
di relung mayapada laku
bukan lara besatu; membatu

tiap padmasari melenggang dalam imaji
mengejar kembali

Kendalkemlagi, 2005

SENDIRI KAU HADIR

waktu tetap terpaku
melepas klise
dengan mata memutih
mencari jalan kembali
adalah seberkas bayang tertatih
setubuhi benang-benang nadi
dalam menyapa diri sendiri
maka berapa kilo lagi
ia mencari
melenggang jemari
bergapai mimpi
sampai batas waktu
tiktak jarum pun berlagu;

ia harus bersemayam sendu
menanti seiring keretamu
dengan tembang merdu
berjemput ia di pangkumu
pun sendiri kau hadir merayu
membawa terbang ke istanah nan jauh

Kendalkemlagi, 2005

ANGGUN SASMITA

kueja nama itu
bersama kasih cintamu
kala gebu rindu
menyelinap
di hilir darahku
bukankah serapah
telah terukir berdua
lewat saksi terlama
dalam pesona delta kelana;

?tidaklah sebatas asma
namun esensi rasa lelangkah,
adalah percik anggun sasmitamu
menjelma denyut jantungku?

Kendalkemlagi, 2006

SASMITA KEMBANG WIDERDA

kasih, biarlah ia
membawamu kembali
pada pesona telaga widerda
di mushaf cerita lama
angankan anganmu
dalam persapaan itu
adalah sebentuk hasrat menggebu
melayang-layang bekejar bersama nafsu
merayu
sungguh, kala nuansa
membangun pilar-pilar semesta
kembang-kembang telaga
bersenandung puja pujinya
menebar sasmita nada;

?gala nista merajut gaun-gaunmu
lewat percak-percik itu
biarlah sang jentayu
memangsa hasratmu
biar berdekap jati cintamu,
namun pingitlah pesona rasa
dalam cakap puitika cerita;

adalah gejolak hati
tiada berlari
kala keberadaan diri
mengukir tanda tak senilai,
sungguh, kala rona telah bersama
tiada hasrat bersapa tak serupa,
sonanya
hanyalah manifestasi pupus cinta

Kendalkemlagi, 2006

3 Replies to “Parade Puisi Imamuddin SA”

  1. Saya mau menulis puisi, saya ingin menerbitkannya, saya ingin mempublikasikannya. Saya harus berkonsultasi dan kemana??? agar impian saya terwujud….Terimakasih. Punyakah alamat-alamat penerbit atau media yang menerima karya, meski tanpa bayaran saya bersedia.

  2. Kalau masih “mau” menulis puisi, ya selamat menulis puisi. Bagaimana kalau anda tidak bertanya, tapi mencari informasi sendiri? Bagaimana kalau anda tidak tergantung, tetapi berusaha sendiri?

    Salam,
    Nurel Javissyarqi, Pengelana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *