Ped

Dhe A. Sujana
http://www.lampungpost.com/

USAI mengantarkan pepaya sebanyak satu truk ke pasar, Mat Sodik bertemu dengan Mat Rifah. Ajakan Mat Rifah untuk singgah sebentar di warung tak ditampik oleh Mat Sodik pada sore itu.

“Aku benar-benar minta tolong,” ucapan Mat Rifah itu kian membuat hati Mat Sodik tak tega. Bagaimana mungkin ia tak akan membantu teman sepermainan yang ia kenal mulai umur lima tahun. Mereka berpisah karena Mat Rifah memutuskan untuk merantau, menimba ilmu di tanah seberang.

“Ah Rifah, jangan bicara begitu,” Mat Sodik mencoba untuk mengelak. “Pendidikanmu saja lebih tinggi daripada aku. Tentulah tak layak kalau kau sampai mengiba seperti itu kepadaku.”

“Sodik, bantulah kawanmu ini,” Mat Rifah belum bisa berhenti untuk memaksa. “Kau pasti bisa membantuku. Kau punya banyak kenalan. Pastilah mudah mencari orang untuk meluluskan niatku.”

“Rifah, belum ada dua jam kita bersua lagi, tapi kau sudah memintaku untuk meruntuhkan langit.”

“Ya tak apalah kalau kau tak mau membantu,” sahut Mat Rifah sambil berdiri, seraya bersiap menemui pemilik warung untuk membayar apa-apa yang sudah mereka habiskan. “Bagaimanapun juga, Sodik, aku tetap kawanmu.”

“Aku bukan tak mau membantumu, Rifah. Aku hanya tak sanggup melakukannya.”

//

Pulang kampung memang bukan hal yang disukai oleh Mat Rifah. Tak ada apa-apa di kota tempat ia pertama kali belajar membaca dan menghitung itu. Tapi, Mat Rifah memang harus pulang untuk membantu pencalonan Pak Minan dalam pemilu.

Politisi yang sudah berusia magrib itu, Minan Hadiwaskito, memang terkenal punya hubungan baik dengan aktivis mahasiswa. Ia memberikan dukungan dana yang cukup besar untuk beberapa aktivis mahasiswa selama bertahun-tahun. Tak hanya itu, Minan juga memberikan jalan kepada mereka untuk berganti baju menjadi aktivis parpol.

Kolega Minan di parpol tempat ia bernaung menjulukinya sebagai pengijon kader. Julukan yang mirip dengan artian sebenarnya. Ibarat buah, aktivis mahasiswa yang diasuh Minan memang masih hijau ketika pertama kali bertemu dirinya. Bantuan dana yang disalurkan Minan kepada mereka bagaikan uang panjer yang diberikan pengijon kepada petani ketika buah di kebun mereka belum lagi masak.

Aktivis mahasiswa yang diasuh Minan akan membalas bantuan itu dengan kesediaan mengerjakan semua keinginan Minan; menggalang aksi massa untuk meruntuhkan lawan politik tuan mereka, menjadi tempat penampungan dana korupsi yang diambil Minan dari gedung Dewan, dan ketika musim pemilu tiba, mencarikan suara untuk Minan agar si gaek itu tetap duduk masyhuk di kursinya.

Mat Rifah tahu betul kenyataan yang akan dia dapat kalau berhubungan dengan Minan. Tapi, menggunakan dana bantuan Minan ialah tindakan paling rasional yang bisa dilakukan olehnya. Kiriman uang dari orang tuanya kurang.

Dan Mat Rifah ingat kepada Mat Sodik, temannya yang bertubuh paling besar di antara kawan sepermainannya dulu. Mat Sodik yang selalu melindunginya dari keroyokan anak-anak desa tetangga. Mat Sodik yang tidak mau ikut merantau ke tanah seberang karena harus melanjutkan usaha bapaknya. Maka, setelah mendengar cerita-cerita dari ibunya, Mat Rifah segera mencari Mat Sodik di pasar.

Mereka berbicara layaknya sepasang kekasih yang lama memendam rindu di warung pojok pasar itu.

“Ibu yang bilang kepadaku,” ujar Mat Rifah setelah menghisap batang kreteknya. “Kalau ingin bertemu kawanku yang besar ini, cari saja dia di pasar.”

“Ah, bisa saja ibumu. Bagaikan aku ini pemilik pasar saja,” jawab Mat Sodik diiringi tawa.

Mereka mengurai lagi masa lalu sambil meraba-raba kondisi masing-masing saat ini. Mat Sodik bercerita kalau dia sudah menikah dan punya dua anak.

“Aku belum lagi berani untuk menikah, Sodik. Takut diatur oleh perempuan. Hahaha…”

“Menikahlah, apalagi yang kau cari. Gelar sudah pula kau rengkuh dari tanah seberang.”

Pembicaraan segera memasuki ruang yang serius. Mat Rifah menyampaikan maksud kedatangannya kembali ke kampung mereka. Dia bercerita soal pencalonan Minan dan berharap kepada Sodik agar membantunya mencari suara untuk memenangkan Minan.

Mat Rifah sangat paham bahwa ia bisa menggunakan jasa Mat Sodik dalam menggalang orang-orang untuk memilih Minan. Pekerjaan Mat Sodik sebagai juru ekspedisi, yakni orang yang mengambil hasil bumi untuk dijual ke pasar dari kantung-kantung pertanian di seputaran kabupaten, telah membuatnya begitu akrab dengan pemuka-pemuka dari macam-macam desa.

Para petani di kabupaten menggolongkan Mat Sodik sebagai “Ped”, yakni ekspedisi yang tidak menggunakan mobil jenis pikap, tetapi memakai truk besar untuk mengangkut barangnya. Artinya, kenalan Mat Sodik bukanlah para petani gurem tak berlahan, tapi para tuan tanah bergelar haji, para lurah yang memiliki bengkok luas dan tentu saja para kyai yang sering memperkerjakan santrinya di sawah.

“Apalah lagi yang kau ragukan, Sodik?” Mat Rifah mencoba untuk mengusir gundah yang tertuang dalam sorot mata kawannya itu. “Tenanglah, semua ada hitungannya. Kau paham maksudku, kan?”

“Aku sangat paham Rifah. Sebelum kau, pernah ada orang yang datang kepadaku meminta hal serupa ini. Tapi aku menolaknya.”

“Siapa orang itu?”

“Haji Sarmud. Dia juga mencalonkan diri dari kabupaten kita.”

“Tapi, orang yang meminta bantuanmu sekarang adalah aku, Sodik. Kawanmu ini.”

“Aku tolak permintaan Haji Sarmud karena aku kuatir bakal ada apa-apa di masa depan. Aku memang tak begitu paham soal politik, tapi aku tidak buta, Rifah.” Suara Mat Sodik mulai menunjukkan jati dirinya sebagai lelaki yang tegas.

“Apa ada jaminan kalau di masa depan, calonmu itu tidak melupakan janjinya kepada orang-orang yang aku kenalkan kepadanya? Kalau calonmu itu lupa, aku akan tergelincir pula. Bisa-bisa, kenalanku itu tidak akan menggunakan jasa Ped yang sudah dirintis oleh kakekku ini,” lanjut Sodik.

Mat Rifah agak mengerut hatinya. Mat Rifah sudah mengerti tabiat Minan. Jika Pemilu sudah usai, Minan memang sengaja lalai pada janji-janjinya ketika kampanye. Maka tak aneh kalau Minan selalu berganti-ganti daerah pemilihan tiap kali pemilu diselenggarakan.

Tapi, Mat Rifah tak mampu menghapus bayangan Minan yang telah membantunya menyelesaikan kuliah dan kini membiayai dirinya pula untuk mendapatkan gelar S-2. Maka, ia kembali memaksa kawannya itu.

“Bantulah aku, Sodik. Pak Minan orang yang setia pada janji. Aku yang akan menjamin.”

Mat Sodik ingin berteriak “Pembohong!” ke wajah Mat Rifah. Tapi tak mungkin hal itu dilakukannya. Mat Rifah sudah seperti saudara baginya. Jangankan hanya mandi berdua ketika masih kanak; terjebak kedinginan — ketika berteduh dari siraman hujan — di dalam rumah kosong yang konon paling angker di kampungnya, pernah pula dijalani oleh dua sekawan itu.

Pembicaraan di warung itu memang tak menghasilkan apa-apa.

///

Ibu dari dua anak itu duduk menghadap suaminya. Perbincangan suami-istri itu mulai beraroma kurang sedap. Padahal sebelumnya, obrolan berjalan dengan mesra; si istri menjadikan paha suaminya sebagai bantal sembari tiduran di sofa.

“Semua terserah Abang,” ucap Aya dengan nada getir. “Tapi, apa Abang lupa pesan almarhum bapak?”

Mat Sodik memang belum lupa dengan pesan itu. “Jangan kau ikut bermain politik, Sodik. Usaha yang dibangun kakekmu ini bisa luluh lantak,” kata bapaknya menjelang dijemput sang maut.

“Tak mudah, Bang, menjaga kepercayaan orang yang sudah ditimpakan kepada Abang selama bertahun-tahun,” lanjut Aya. “Pelanggan Abang bahkan ada yang sudah menggunakan jasa Ped milik kita sejak kakek masih hidup.”

“Sungguh aku bingung, Aya. Aku tak sampai hati menolak permintaan Rifah,” ucapan Sodik bergetar pelan. Pandangannya jatuh ke lantai.

“Bang,” lembut sekali suara Aya. Suara itu seolah ingin menyelinap ke dalam kesadaran suaminya. “Tak selamanya kawan itu sama seperti bayangan yang menemani kita ke mana saja.”

“Ah, tak tahulah. Andai saja Rifah yang mencalonkan diri, tak perlu dia datang minta tolong kepadaku. Asal kudengar kabar itu, pasti aku yang datang menawarkan bantuan kepadanya,” suara Mat Sodik seperti menggelepar tak berdaya.

“Tapi Bang, persoalannya bukan siapa yang menjadi calon. Abang tidak boleh ikut bermain politik. Apa pun alasannya!”

Bisnis ekspedisi hanya bermodalkan kepercayaan dan kejujuran. Mereka bisa saja mencuri hasil bumi dari petani yang dikirimkan ke pasar lewat jasa Ped. Tapi petani pasti mengetahui tindakan itu. Sebab, para pedagang di pasar juga memiliki hubungan baik dengan para petani. Pedagang-pedagang itu tak jarang menelpon si petani untuk menanyakan perihal jumlah muatan yang dikirimkan lewat Ped. Kalau sampai muatan itu berkurang, maka Ped yang mengantarkan barang itu akan dicoret oleh si petani. Kepercayan memang mudah datang tapi tak sulit untuk terbang menghilang.

Ped yang sudah tak dipercaya oleh seorang petani harus bersiap-siap mengalami kebangkrutan karena kabar akan menyebar lebih cepat ketimbang datangnya musim kemarau. Tidak akan ada petani yang sudi menggunakan jasa ekspedisi yang culas.

Ped juga bisa bangkrut kalau ia menjadi makelar suara ketika musim pemilu tiba. Saingan Mat Sodik, yang bernama Dulah, harus menjual truknya dan beralih menjadi pedagang warung kecil karena calon gubernur yang dijajakannya kepada para pengguna jasa ekspedisinya tidak bisa memenuhi janji saat kampanye, yakni menurunkan pajak terhadap hasil bumi. Dulah dicap pembohong oleh para pelanggannya; dianggap bersekongkol dalam dusta yang disebarkan si calon gubernur pemenang pemilu. Mat Sodik tak pernah ingin bernasib seperti Dulah. Ped bukan saja terkait dengan hidup dan mati keluarganya, melainkan juga soal kecakapan menjaga usaha turun-temurun.

“Ped itu tugasnya mengantarkan barang, bukan membawa orang ke bilik suara, Bang,” ucap istri Mat Sodik sambil melangkah menuju kamar.

////

Batin Mat Sodik berdesir ketika hampir melewati rumah Mat Rifah siang itu. Tampak olehnya sebuah mobil ambulans diparkir di luar pagar rumah bercat hijau itu. Orang-orang berkerumun; lelaki menggunakan peci dan perempuan memakai kerudung untuk menutupi kepala mereka. Mat Sodik memelankan laju truknya ketika sampai di depan rumah itu, kemudian bertanya kepada seseorang yang sedang memasang bendera warna kuning.

“Siapa yang meninggal?”

“Mat Rifah,” jawab orang itu sambil menatap Mat Sodik. “Mobilnya masuk ke jurang tadi pagi.”

Mat Sodik lemas menggenggam setir truknya. Seminggu sejak pertemuan di warung itu, ia memang menghindar dari Mat Rifah. Ia tak kuasa menolak permintaan Mat Rifah, tapi tak pula ingin memenuhinya. Jantungnya berdegup kencang. Tatapannya kosong. Ulu hati Mat Sodik bagai dibobol sebutir timah panas. Otaknya seperti tersambar halilintar. Mat Sodik menyesal tak bisa memenuhi permintaan terakhir Mat Rifah, kawan sepermainannya itu.

Jember-Metro, Maret-November 2009

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *