Puisi-Puisi Aldika Restu Pramuli

Sauh

Kapalmu pada siapa ?kan berlabuh?
menabuh rindu di atas sauh,
berkata pada senja yang kian purna.
Nyatanya,
Kapalmu tak mau jua tiba
Tempat dulu menyulam peluh bersama topan yang lahirkan kita,
Tapi kita, kini malam yang menjahit suram paling gulita

kapanpun, entah fajar, entah siang,
Ini labuh hanya buat kau yang bersauh

Tasik, Oktober 2007

Tigapuluh April

Hari ini Tuhan menyuguhiku segelas kemarau
Ketika kerongkongan terbiasa kuyup digenangi hujan
Mengajariku bahwa musim senantiasa bertukar alamat
Mengunjungi satu wajah,
Melangkah kemudian mendengkur di wajah lain

Hari ini Tuhan mengajakku bersulang dengan seteguk kemarau,
Musim yang memaksaku menjatuhkan tangis

Lelah

Apa yang mesti diutarakan bumi pada senja
Ketika detak tinggal sepetak menapak malam?
Apa yang mesti disampaikan tanah pada hujan
Ketika air tengah mengancam bandang?
Apa yang mesti diujarkan sauh pada layar
Ketika suara angin berkabar badai?
Apa yang mesti dikatakan,
Ketika lelah?

Mata

Hujan mengajariku rahasia gerimis
lewat air matamu
Lewat sendu yang dikisahkan kantung-kantung mata
yang melekuk luka
dalam perih yang dilukis
akar merah jendelamu

Hujan mengajariku rahasia gerimis
lewat air matamu
Lewat kerdipan bulu mata yang lemah menarikan duka
menyanyikan serpih,
melantunkan pedih

di matamu,
kutemukan rahasia gerimis
lewat hujan yang menitip tangis.

*) Sihir Terakhir, Antologi Puisi Penyair Perempuan ASAS, Penerbit PUstaka puJAngga, 2009.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *