Puisi-Puisi Dea Ayu Ragilia

Catatan Hujan 1

Gerimis mengucap salam pada dedaunan
tiap tetesnya adalah doa pada bunda
teringat sunyi, ketika malam mengajarkan kegelapan pada mataku
aku jatuh pada kenangan
tentang rindu, tawa, dan air mata
seperti matamu yang tak lepas kutatap

2008

Matahari

Menjelang pagi
ada yang tiba-tiba tumbuh
ada yang tiba-tiba luruh
pesannya pada lembah, memasuki celah tanah

2008

Sebuah Pesan Tertinggal di Sepertiga Malam
:bapa

ada yang tak bisa kumaknai ketika malam
tentang sunyi
tekateki
juga rindu yang tak henti
kau datang memanggil hujan
memunguti mimpi di ujung jalan
mengadu nasib pada asap rokok juga rambut putihmu
terkadang, bercakap dengan segelas kopi dan sebuah tayangan sepakbola
meski tak cukup memabukkan
kita samasama bermain kata

ah, lagilagi
sepertiga malam itu tlah memanggil
menungguku bergegas pergi
memasuki langit tuamu yang pucat
kembali pada waktu.

2008

Hujan Mengingatkan Kisah Pelayaran

Hujan mengingatkan kisah pelayaran
membuatku bermimpi tentang pulau jauh
sebuah rumah di usia senja.

Adakah hujan ini memanggil kembali kenangan
lantas membawanya pergi?

Hujan mengingatkan kisah pelayaran
melirik malumalu
mengeja pecahan senja di masa itu
kita pernah diamdiam mencuri hujan
menyimpannya dalam almari
setelah sunyi berkalikali
menginginkannya kembali
menjadi puisi.
Jalan retak, arahku pecah
cuaca selalu gagal dikira
tak ada penunjuk jalan sewaktu kalut
kaku direntang jarak
hanya menyudut rela
menahan perpisahan yang tertinggal di sudut pintu.

Hujan kembali mengingatkan kisah pelayaran
turun perlahan
mengecup pertemuan
tanpa salam,
berlalu menyisakan kenangan.

2009

*) Sihir Terakhir, Antologi Puisi Penyair Perempuan ASAS, Penerbit PUstaka puJAngga, 2009.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *