Puisi-Puisi Seli Desmiarti

Sihir Terakhir

Apa yang kau harapkan ketika mengurai kenangan
Senyum tertahan, kata tersimpan di tenggorokan
tangan kiri membaca mantra, tangan kanan berdoa ke langit juga

Kutaruh di balik saku jaketmu
sesuatu yang tak kau pahami, tentang mula
ikan renang, lompat katak, lari kijang, terbang burung,
juga tanganku yang murung. Letakkan kemudian dalam lemari, kuncilah
jangan pernah tergoda untuk membukanya hingga terpahami rayap-rayap
di ribuan malam pengantinmu. Berdoalah jangan ada kelak
teryakini di punggung tanganmu,
menggenggam murung itu.

2008

Surat untuk Bunda

Bunda, ketika matahari telah sempurna digantikan neon
mungkin aku hanyalah sebuah kabar dari rantau, berbekal sebuah harapan
bahwa kelak aku kembali bersama mimpi hari ini yang telah kujadikan
kenyataan

Bunda, sejujurnya aku telah berpurapura tak peduli dengan ratusan mimpi
buruk dan juga ribuan tangis yang tumpah di ranjang pengantinmu,
hingga nyeri tertanam pula di dadaku

Bunda, aku tak pernah menyalahkanmu atas bibir yang tak pernah mampu
memanggil bapak
karena wajahnya tak kau ajarkan hadir di benakku
Bunda, kemarin bapak hadir di selembar wajah yang terselip di balik bantal
hingga tersusun niat
sengalir darah, akan kucari ia dan membawanya untukmu

Bunda, suara subuh mengajarkan sebuah harapan, walau terbata bersama
tangis tertahan doa pun

mulai berani kunyalakan, sesuci air susu yang ngalir di ragaku, tak boleh lagi
nyeri terasa di
dadamu, kecuali senyum terindah yang kembali hadir di wajahmu

Bunda, sertakan doa untukku di tiap malammu, agar aku tak lagi hanya kabar
dari rantau
: anak malang yang ditawan tahun

2008

Memoar

Memar
Masih saja kau mengukir biru
pada tubuhtubuh terkasih
perangkap apa yang hendak kau buat hadir
sebagai nyeri

Kamar
Barangkali, tubuh yang tengah disekap jadi dinding
kelak mampu kubuat jadi pasir
di landai pantai
; semakin kudengar ombak
hantam kamar kerang

Debar
telah hilang warna laut malam ini
mulailah nyalakan damar pengantar debur
pada laut
;biru dadamu

Camar
Batas langit mana mampu membuat sayapmu
menunduk, bukan mengalah
sekedar menghirup udara pucukpucuk daun
hutan dekat tubuh pasir
untuk parumu

Mei, 2008

Salam untuk Bapak

Dari balik jendela kulihat wajah malam tengah muram
bulan dicuri hujan, keriangan kota masuk dalam selimut
suasana yang sama ketika ibu berteriak, bapak membanting pintu
dan aku kehilangan air mata

Besoknya, ibu pergi dijemput matahari,
katanya lusa pasti kembali bawa laut
aku mengangguk, berlari ke pelukan nenek

Tapi ketika lusa datang bersama ibu, laut tumpah di rumahku
orangorang memberi karangan bunga buat ibu

Malam ini, air mata basah dekat jendela
kukenali lagi rindu pada ibu
kupeluk wajah itu, lukanya jatuh ke hatiku

Tiba suara langkah mendekati pintu,
diikuti salam, dan suara ketukan

Wajah bapak muncul dari tubuh lelaki tua itu

Kuucapkan salam,
maaf, sepertinya anda salah alamat

Kututup pintu, luka ibu tersenyum di hatiku.

2008

*) Sihir Terakhir, Antologi Puisi Penyair Perempuan ASAS, Penerbit PUstaka puJAngga, 2009.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *