Riak Tanpa Gelombang Penerbitan Sastra Jawa

Sucipto Hadi Purnomo
http://m.suaramerdeka.com/

SETIAP kali hasil penjurian Hadiah Rancage disampaikan, setiap itu pula muncul rasa haru. Haru karena sejauh ini masih saja ada yang berkarya dan mendedikasikan diri di jalur sastra daerah. Haru karena dari tahun ke tahun jumlah karya yang muncul tetap segitu-segitu saja. Haru karena justru yang memberikan hadiah buat sastra(wan) Jawa bukan wong Jawa!

Hadiah Sastra Rancage 2009, yang hasil penjuriannya dirilis akhir bulan lalu, adalah yang ke-21 kalinya diberikan kepada para sastrawan yang menulis dalam bahasa ibu. Kali pertama tahun 1989, hadiah ini diberikan hanya kepada sastrawan yang menulis dalam bahasa Sunda. Maklumlah, Ajip Rosidi yang duduk sebagai Ketua Dewan Pembina Yayasan Kebudayaan Rancage, adalah urang Sunda deles.

Namun sejak 1994, para sastrawan yang menulis dalam bahasa Jawa juga mendapat hadiah ini. Sebuah upaya yang sejauh ini, terutama dalam dua dekade terakhir, tak pernah dilakukan oleh wong Jawa. Ya, hadiah paling bergengsi untuk karya sastra dan tokoh yang berjasa terhadap sastra Jawa justru diberikan oleh orang Sunda! Aneh memang, apalagi jika dibandingkan misalnya dengan kesanggupan untuk membiayai kongres bahasa Jawa yang sudah berlangsung empat kali itu hingga miliaran rupiah.

Kembali pada Hadiah Rancage 2009, berdasarkan rilis tersebut, untuk kategori karya, penghargaan dimenangi oleh S Danusubroto dengan buku roman berjudul Trah terbitan Narasi Yogyakarta. Adapun hadiah untuk kategori tokoh yang dianggap berjasa besar terhadap sastra Jawa diterima Sunarko Budiman, penulis dan pengelola Sanggar Sastra Jawa Triwida.

Dibandingkan dengan 2007, dalam 2008 jauh lebih sedikit karya sastra Jawa yang terbit. Hanya empat judul. Di samping Trah, hanya ada Lintang Biru: Antologi Geguritan Bengkel Sastra Jawa 2008, Dongane Maling karya Yohanes Siyamta yang berupa kumpulan karya berupa guritan, cerkak, obrolan dan pengalaman penulisnya, dan Singkar roman karya Siti Aminah yang diterbitkan oleh Organisasi Pengarang Sastra Jawa dan Penerbit Griya Jawi Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Unnes Semarang.

Pada 2007, terbit 24 judul buku sastra Jawa, berupa 4 kumpulan sajak dan 20 fiksi. Di antara fiksi ada 15 judul berupa kumpulan dongeng dari berbagai daerah di Jawa Timur. Adapun yang lima lagi adalah Gumregete Ati Wadon kumpulan cerpen karya Sirikit Syah, Kidung Megatruh kumpulan bersama, Intan Ora Mlebu kumpulan roman secuwil karya Ary Murdiana, kumpulan satir Dongeng Sanepa Banaran Bolosukerta karya Ki Nir Puspata, dan roman Tegal Bledugan karya Lanang Setyawan.

Empat buku kumpulan sajak yang terbit sepanjang 2007 adalah Banyuwangi Rinengga ing Gurit karya bersama, Tembang Kapang, Tembang Bebrayan karya Effendi Kadarisman, Bledheg Segara Kidul karya Turiyo Ragilputra, dan Saka Kupat Sawalan Tumekan Kupatan Maneh karya Suyanto alias Yanto Garuda.

Sebagai Motivator

Diakui atau tidak, kehadiran Rancage bagi jagat kesusastraan Jawa merupakan sumber motivasi. Setelah anugerah itu diberikan satu setengah dasawarsa lalu kepada karya sastra Jawa dan tokoh yang berjasa, tampak kegairahan untuk menerbitkan karya dalam bentuk buku tumbuh kembali. Tampak ada riak-riak meski belum sebesar gelombang.

Sebelumnya, selama hampir tiga dasawarsa, kehidupan sastra Jawa sepi dari penerbitan. Lebih-lebih ketika Balai Pustaka sudah tidak lagi menerbitkan buku-buku sastra Jawa semenjak 80-an.

Selama kurun waktu itu, yang ada dan menjadi ladang penyemaian kreativitas pengarang Jawa hanyalah majalah Jawa. Maklumlah jika almarhum Prof Dr Suripan Sadi Hutomo menyebut periode itu sebagai periode sastra majalah. Itu pun jumlah majalah berbahasa Jawa tak seberapa dengan oplah yang hanya pada kisaran puluhan ribu. Sungguh tak sebanding dengan puluhan juta penutur bahasa Jawa yang notabene (semestinya) menjadi penyangga utama kehidupan sastra daerah ini.

Sekalipun hanya berharap dari majalah, dari waktu ke waktu bermunculan karya dan para pengarang baru. Yang lama berusaha menunjukkan kematangannya dalam berolah sastra, sedangkan yang tergolong pendatang baru berupaya menampakkan eksistensinya dalam berkreasi. Tapi ya itu, baru sebatas di majalah.

Padahal, sebagaimana sering didengungkan oleh sastrawan sepuh Jawa Suparto Brata, sastra Jawa jangan berhenti sebagai sastra majalah. Sastrawan Jawa harus menjadi sastra buku. Hanya dengan menjadi buku, sastra Jawa bisa menjadi terhormat bahkan bukan tidak mungkin menjadi sastra (kelas) dunia. Alasan lain, buku relatif lebih abadi ketimbang majalah. Tak berhenti menyeru, Suparto telah menunjukkan langkah nyata dengan mbandhani sejumlah buku sastra Jawanya.

Sampai pada titik ini sebenarnya jelas persoalan yang sangat krusial bagi kehidupan sastra Jawa. Ketika para pengarang masih terus berkarya, tatkala kreasi-kreasi itu bermunculan, jelas yang dibutuhkan adalah wadah. Ketika wadah yang berupa majalah dianggap tidak memadai maka penerbitan berupa bukulah jawabannya. Di samping itu, ketika kehadiran pemberian anugerah semacam Rancage jelas-jelas bisa merangsang kreativitas dan penerbitan buku, kenapa prakarsa serupa tak pernah dilakukan oleh wong Jawa?

Sebenarnya kalau tulisan ini pun hendak menyerukan kepada orang Jawa yang sudah dadi wong dan secara institusional kepada para pemangku kewenangan sastra-budaya Jawa untuk melakukan hal seperti yang dikhtiarkan oleh Ajip Rosidi, juga perlunya menjadi Sinterklas bagi penerbitan buku sastra Jawa, jelas bukan seruan baru. Meski demikian, seruan semacam ini perlu terus-menerus didengungkan hingga mereka menjadi risi dan mengambil langkah konkret. Itu jika tak mau ironi itu berjalan terus-menerus.

Sebenarnya sekarang bisa dikatakan mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane. Betapa tidak, di sekolah saja, kini bahasa-sastra Jawa diajarkan mulai dari jenjang SD sampai SMA/SMK. Itu artinya, secara formal, pembinaan terhadap sastra lebih baik daripada sebelumnya. Imbasnya, jumlah peminat dan kuota calon guru bahasa-sastra Jawa meningkat berlipat-lipat. Itu artinya pembaca potensial buku sastra Jawa (semestinya) juga berlipat ganda. Kenapa potensi riil semacam ini tak segera diambil oleh penerbit atau siapa pun yang selama ini masih ragu ketika akan menerbitkan sastra Jawa?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *