Rute Buntu Peta Pemikiran Islam

A Qorib Hidayatullah
http://indonimut.blogspot.com/

Mula-mula dari diskusi bertemakan Peta Pemikiran Islam, yang diampu kakanda Fauzi Hasyim di aula HMI Cabang Malang, memantik pertanyaan yang amat mendasar, ?Apa betul Islam memiliki peta pemikiran?.? Kendati pertanyaan ini terkesan sederhana, namun bila disikapi ugal-ugalan akan membikin kemasygulan dalam pentas pemikiran Islam.

Rupa-rupanya gampang dicurigai bahwa daya tafsir keagamaan tidak berangkat dari kesadaran ilmiah, melainkan kesadaran ideologis. Segala kerja tafsir keagamaan ditengarai dibonceng dan dihadiri kepentingan ideologi. Tak ayal, kemaslahatan yang ditawarkan agama semata representasi dari ?kuasa selera? mufassir/pemikir/ulama.

Hal ini dapat ditandai dari ikhtiar Dr. Fatima Mernissi yang intim meriset hadis-hadis misoginis (hadis yang berdaya-nyala/berideologi superioritas). Tengok misalnya, di buku garitan Fatima Mernissi, Wanita dalam Islam (Cet. Pertama 1994, edisi Bahasa Inggrisnya terbit pada 1991). Di bukunya itu, Mernissi bersyak-wasangka bahwa muhaddis ?meski sekaliber al-Bukhari pun dalam kitab Shahihnya? memiliki ideologi tertentu (baca: kepentingan) dalam menyampaikan hadis rasul, Muhammad SAW.

Diperkuat lagi lewat upaya kawan-kawan di Forum Kajian Kitab Kuning (FK3), yang digawangi Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, yang intens menyibak muatan ideologi dalam kitab Uqud al-Lujjayn fi Bayan Huquq az-Zawjayn karya Syeikh Nawawi al-Bantani (Lihat Kembang Setaman Perkawinan, 2005). Bertolak dari kerja riset pejuang perempuan asal Maroko itu dan kawan-kawan dari FK3, makin menggenapi asumsi bahwa tiap pola kerja tafsir agama tak luput dari kepentingan ideologi.

Dengan begitu, hemat saya, tampak sukar bila pengkaji agama melulu disibukkan membikin dan mencari peta pemikiran agama (Islam). Sebab, keemasan agama Islam dilirik beres pada masa silam. Pun pemikiran Islam tak luput dari muatan terselubung ideologi tertentu, sangat sulit mendaras peta pemikiran intelektual/mufassir Islam. Selain juga, seakan tak ada dinamisasi pemikiran Islam sehingga menggiring kepada kebuntuan epistemologi pemikiran Islam. Sementara, umat Islam kontemporer berasyik-masyuk (euforia) atas masa kejayaan pemikiran Islam masa silam.

Berbeda dengan umat Barat dalam tradisi pemikirannya yang mapan epistemologi dari tiap undakan preseden paradigma pemikirannnya. Barat memiliki epistemologi pemikiran yang siap saling sahut-menyahut dengan preseden/sejarah bahkan kebutuhan zamannya. Misalnya, dinamisasi epistemologi rasionalisme, empirisme, positivisme, kritisisme, idealisme Jerman/anti-esensialisme, mazhab frankfurt, hingga posmodernisme. Dus, peta pemikiran Islam hanyalah anggitan/anganan semu, mistifikasi.

Generik Studi Agama

Kendati demikian, peluang eye catching pemikiran Islam ialah ketika ditilik dari sudut metodologi studi agamanya. Ada buku bunga rampai besutan Amin Abdullah, Studi Agama: Normativitas atau Historisitas? (1996). Dalam bukunya ini, Amin Abdullah hendak menghijrahkan studi agama yang bercorak normatif-doktriner menuju pendekatan studi agama sosio-historis.

Dalih keberanjakan studi agama ini ialah absennya telaah yang bersifat sosio-historis seperti yang direlikui tradisi studi agama di masa silam akan berkonsekuensi dalam kecenderungan absolutis dan menjadikan teks-teks keagamaan seolah-olah ahistoris tanpa dipengaruhi oleh kondisi ruang dan waktu.

Sejatinya, teks-teks keagamaan yang primer (Qur?an dan Sunnah) maupun yang sekunder (teks-teks tafsir, kalam, dan fikih, misalnya)?dalam pandangan para pendukung studi agama dengan pendekatan historis-empiris?tidak pernah lahir tanpa dipengaruhi konteks sosio-historis (asbab al-nuzul dan asbab al-wurud).

Jika tak berlebihan, Amin Abdullah di buku itu mengajak kita untuk memosisikan aspek historisitas dan normativitas ajaran agama sebagai dua kesatuan integral yang tak harus dipisahkan satu dari yang lainnya. Ibarat dua sisi mata uang dari sekeping koin, demikian Amin Abdullah membuat tamsil, aspek normatif dan historis ajaran agama?begitu juga dua pendekatan studi agama: normatif dan historis?merupakan dua sisi dari satu koin (baca: agama) yang memang harus bisa dibedakan tapi tidak mungkin bisa, dan memang tidak boleh, diabaikan salah satunya.

Studi Agama sebagai Alternatif

Kemajemukan agama dan keanekaragaman pemahaman keagamaan merupakan kenyataan sosio-historis yang tak bisa ditampik oleh siapa pun. Pluralitas agama dan pemahaman keagamaan ini pada akhirnya menjadikan pendekatan studi agama yang melulu mengedepankan pendekatan normatif-teologis-doktriner akan menghadapi beragam kesulitan. Pendekatan historis-kritis, karena itu, harus juga menjadi bagian integral dalam melakukan kajian keagamaan.

Perkembangan gesit sains dan teknologi yang dicapai umat manusia dan perkembangan pesat ilmu-ilmu sosial-kemanusiaan?yang pada akhirnya tentu saja berkonsekuensi juga dalam pergeseran kesadaran manusia dalam memandang fenomena keagamaan–merupakan salah satu penyebab keniscayaan munculnya pendekatan studi agama berwajah ganda tersebut.

Sejak akhir abad ke-19 dan paruh kedua abad ke-20, mulai terjadi pergeseran paradigma pemahaman tentang agama yang semula terbatas sekadar pada aspek-aspek entitas ?idealitas?, ?doktrin?, dan ?esensi?-nya, merambah aspek-aspek lain berupa entitas ?historisitas?, ?sosiologis?, dan ?eksistensi? agama.

Turut mengamini dinamika sejarah kemanusiaan tersebut, adalah absah jika dalam perkembangan selanjutnya fenomena agama pun tidak dilihat semata-mata dalam koridor doktrin teologis-normatifnya (sebagai hard core keberagamaan manusia). Tapi juga meluaskannya pada fenomena agama sebagai sebuah tradisi hasil konstruksi manusia (human construction), sebuah living history, dalam suatu rentang sejarah panjang perjalanan umat manusia dalam memahami dan mengamalkan agama.

Apalagi, meski ungkapan keagamaan manusia semula merupakan ekspresi yang bersifat batiniah-esoteris, dalam perkembangan selanjutnya secara eksternal potensial juga berubah ?melembaga? dan dipengaruhi oleh pranata-pratana sosial-kemasyarakatan. Karena itu, ekspresi keagamaan yang melembaga tersebut tidak bisa tidak juga mengalami proses evolusi yang berjalin-kelindan dengan faktor-faktor ekonomi, sosio-budaya, bahasa, dan seterusnya, yang tak kalah rumit dan kompleksnya dibandingkan dengan hard core keberagamaan.

Dengan tetap tak mengabaikan kenyataan bahwa setiap jenis pendekatan agama pada hakikatnya tidak ada yang bersifat exhaustive (mampu menyelesaikan dan memecahkan pelbagai persoalan keagamaan dengan tuntas dan sempurna); maka memadukan kedua pendekatan normatif-doktriner dan historis-kritis tampaknya menunjukkan relevansinya yang penting.

Sebab, tatkala agama melulu didekati secara doktriner-normatif, misalnya, maka ekslusivisme keagamaan merupakan wajah dominan yang akan tampil dari fenomena agama. Apalagi, struktur fundamental bangunan pemikiran teologi memang secara umum bersifat: pertama, mengutamakan loyalitas kepada kelompok sendiri; kedua, subjektif dan menunjukkan keterlibatan pribadi (self involvement) yang kuat; serta ketiga, cenderung menggunakan bahasa aktor (actor), bukan pengamat (spectator) yang mampu ?mengambil jarak?.

Di sisi lain, jika fenomena keagamaan hanya dilirik dengan kacamata historis-empiris, maka tidak menutup kemungkinan agama akan terus-menerus dilihat dan diposisikan sekadar sebagai fenomena sosial yang telah kehilangan nuansa kesakralan, normativitas, dan kesuciannya.

Alhasil, bukankah lebih penting memikirkan nasib studi agama dibanding ikhtiar melacak rute/peta pemikiran Islam? Jangan-jangan pemikiran Islam tak memiliki peta alias buntu. Sehingga, jasa studi agamalah yang mampu menangkis serangan kebuntuan peta pemikiran Islam. Wallahu A?lam bi al-Shawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *