Sajak-Sajak Moh Fahmi Amrulloh

http://www.pikiran-rakyat.com/
Omong Kosong

jari-jarimu memecah batu
menjadi cerita yang diulang
di sebuah sekolah taman kanak-kanak
dan sekitar pukul delapan pagi
seorang ibu guru yang cantik
membuat nyanyian dengan nada dasar B minor
sedikit dipaksakan

matamu membelah cokelat
seperti ada pisau di dalamnya
yang menyerang tiba-tiba
cokelat terbelah
semua mata berloncatan
keluar dari gang atau lorong
di sebatang pagi yang kering

mulutmu hampir mencapai satu abad
tertatih ringkih
menelan koran atau radio
lampu-lampu mati di pagi hari
masih pagi lampu-lampu itu mati
kuitansi rekening listrik menangis
di bawah meteran
lalu pembantumu menemukannya
ketika ia membersihkan taman

kakimu membuat tanda di lantai
lantai berubah menjadi kertas
kertas itu menggambar jejak kakimu
kertas itu menggambar rambutmu
kertas itu menggambar kukumu
kertas itu menggambar jalan raya di depan rumahmu
kertas itu menggambar kantormu
kertas itu menggambar pisau
lalu menikam punggungmu

*2007

Keinginan

yuli menyimpan cerita-cerita
di sela rambut kepalanya
cerita-ceritanya ingin memberontak
yuli tak tahan menahan
keinginan cerita-ceritanya
sampailah akhirnya yuli
bertemu denganku

cerita-cerita yuli meloncat ke kepalaku
singgah di antara sela-sela
rambutku yang tipis
aku berusaha menggaruknya
tapi cerita-cerita itu
menggigit jari-jariku

cerita-cerita yuli yang menghuni kepalaku
nyaris memakan semua rambutku
suatu malam cerita-cerita itu
mengambil kertas dan pena
menulis ceritanya sendiri
mereka ingin membangun
sebuah rumah mungil di dekat sawah
menghadap rumah yuli
*2007

Diorama Gerbong Kereta

gerbong-gerbong kereta
berhamburan dari pori-poriku
menciptakan stasiun sendiri
menciptakan penumpang sendiri
di manakah lokomotifnya?

gerbong-gerbong kereta
menciptakan relnya sendiri
lewat telingaku dan berhenti sejenak
tepat di bawah ubun-ubunku
di manakah stasiun yang tadi diciptakan?

gerbong-gerbong kereta
masuk lagi lewat mulutku
lalu keluar lewat pusar
berputar-putar di stasiun yang tadi diciptakannya sendiri
di manakah para penumpangnya?

gerbong-gerbong kereta
sebaiknya kita menunggu waktu

*Gambir, 2007

*) Lahir 27 Juni 1981. Menulis puisi, cerpen, resensi buku, dan artikel ringan di beberapa media cetak lokal maupun nasional. Beberapa puisinya terangkum dalam antologi puisi bersama Herbarium (2007), Pendhapa #3 (2007), dan Antologi International Festival Poetry (Medan, 2007).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *