Sastra dalam Roman Detektif

Judul Buku : Lelaki dari London (L`homme de Londres)
Penulis : Georges Simenon
Penerjemah : Apsanti DS
Penerbit : Kiblat
Cetakan: April 2009
Peresensi: Anne Rufaidah*
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/

BUKU Lelaki dari London ini diterbitkan atas dukungan Departemen Luar Negeri Prancis dalam rangka program bantuan penerbitan yang dikelola oleh Kedutaan Besar Prancis di Indonesia. Buku ini tentunya adalah satu buku dari beberapa penulis andal Prancis yang diterbitkan di indonesia, terutama untuk genre novel detektif. Saya memilih buku ini, setelah sebelumnya saya membaca buku dengan penulis yang sama, berjudul Tukang Kuda Kapal La Providence (Le Charretier De La Providence), dan Pertaruhan Jiwa (La Tete D`Un Homme). Buku ini merupakan serial dari buku-buku sebelumnya.

Georges Simenon merupakan salah satu penulis andalan Prancis dalam menulis novel fiksi detektif. Novel-novelnya selalu memiliki ketertarikan tersendiri dibandingkan penulis cerita detektif lainnya.

Selain itu Simenon pun menciptakan karakter tetap dalam cerita-cerita detektifnya yang cukup terkenal pada masanya yaitu Inspektur Maigret. Lebih dari 80 ceritanya menampilkan Inspektur Maigret sebagai ikon dalam cerita misteri yang ditulisnya. . Pada umumnya penulis cerita detektif menampilkan korban atau orang kedua yang terlibat, maupun orang ketiga sebagai narator dalam menceritakan alur kejadian misteri tersebut. Akan tetapi pada novel Lelaki dari London ini, Simenon mengambil sisi psikologi pelaku utama penyebab terjadinya misteri itu.

Mengambil setting, di sebuah tempat di utara Prancis, di tepi laut, ada sebuah kota kecil bernama Dieppe. Maloin, seorang juru wesel kereta api di kota tersebut, telah menjalani profesinya lebih dari 30 tahun. Dengan kehidupannya yang serba kekurangan, ia mencoba menafkahi keluarganya. Namun istrinya yang selalu mengeluh dan anak perempuannya yang terpaksa bekerja di tempat pemotongan daging, selalu membebani pikirannya.

Hari-harinya senantiasa tanpa kebahagiaan, karena ia selalu dikelilingi orang-orang yang seakan mencemoohnya dari belakang, bahkan keluarganya sendiri. Gajinya yang tak seberapa, membuat keluarganya pun harus ikut banting tulang demi memenuhi kebutuhan. Hingga pada suatu hari terjadilah sebuah peristiwa yang mengubah seluruh hidup dan arah pikiran Maloin. .

Di suatu malam saat ia bekerja seperti biasanya, dari atas menara ia menyaksikan pembunuhan yang entah bagaimana terjadi begitu saja. Dua orang Inggris yang awalnya bersikap tenang-tenang saja, tiba-tiba saling berebut sebuah tas. Akhirnya salah satu dari mereka jatuh ke laut di dekat dermaga. Hal itu tentu saja mengejutkan karena ternyata Maloin melihat aksi orang inggris itu tanpa terlihat oleh mereka.

Plot yang dihadirkan dalam cerita ini jelas dan kata-katanya mengalir, sehingga pembaca mudah sekali untuk mengikuti kemana arah cerita ini ditujukan. Saya rasa, buku ini menghadirkan kejutan-kejutan kejadian yang tak terduga sebelumnya. Pembaca seakan menduga-duga hipotesis yang benar atau salah. Mungkin inilah kelebihan dari teknik penceritaan yang mengungkapkan pelaku pada awal cerita. Cerita tidak hanya difokuskan pada isi cerita tetapi juga seni dalam bercerita. Bagi saya ini adalah salah satu novel detektif yang penceritaannya nyastra.

Namun dari sekian kelebihan yang saya lihat dari buku ini, ada beberapa hal yang mengganjal pikiran saya. Pertama adalah ketika terjadi perebutan tas antara kedua orang inggris itu. Tidak diceritakan lebih detail bagaimana mereka saling berebut dan tiba-tiba salah satunya jatuh ke dermaga begitu saja. Kedua, adalah kurangnya visualisasi orang-orang disekitar kehidupan Maloin itu sendiri. Lebih banyak dideskripsikan latar suasana, ketimbang karakter bawaan si tokoh-tokoh pembantunya. Tetapi bisa saja hal ini memang tidak terlalu penting untuk dibahas karena penulis ingin benar-benar memfokuskan diri pada psikologi tokoh utamanya, Maloin.

*) Mahasiswa Fakultas Sastra Unpas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *