SIMBOL WAKTU SEBAGAI REPRESENTASI IDEOLOGI

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Fantasi-fantasi yang bertebaran pada masa kanak-kanak, konon, secara tidak sadar akan muncul kembali pada masa dewasa dalam bentuk yang lain. Jika pada masa kanak-kanak kita dihinggapi ketakutan akan hantu, bayangan nenek sihir, manusia bertaring yang akan menculik anak-anak nakal yang suka menangis, makhluk raksasa pemangsa manusia, atau sesosok makhluk yang dicitrakan begitu menakutkan, misalnya, pada masa dewasa ia akan berubah wujud menjadi ketakutan terhadap sesuatu yang dibayangkan dapat menghancurkan dirinya, karier, kehidupan rumah tangga atau ketakutan lain yang muncul begitu saja tanpa dapat dipahami sebab-musababnya.

Demikian juga sebaliknya. Serangkaian fantasi tentang harapan dan keinginan pada sesuatu yang tak dapat diwujudkan pada masa kanak-kanak, prinsip kenikmatan yang direpresi, tanpa sadar akan muncul kembali dalam bentuk lain yang sebenarnya merupakan representasi dari keinginan dan harapan pada masa anak-anak itu. Pernyataan seloroh: ?masa kecil tidak bahagia? yang ditujukan pada orang tua atau seorang dewasa yang senang permainan anak-anak, sesungguhnya ada benarnya juga. Problem itu mempunyai akar psikologis yang jejaknya dapat ditelusuri pada masa kanak-kanak, pada masa pradewasa. Begitulah salah satu pandangan psikoanalisis yang bersumber pada gagasan Sigmund Freud.

?Keinginan-keinginan yang direpresi namun tidak bisa hilang pada masa kanak-kanak saja, sudah cukup memberikan kekuatan dalam membentuk gejala-gejalanya dan tanpanya reaksi terhadap trauma-trauma selanjutnya kemungkinan besar akan memiliki bentuk yang berbeda.? Begitulah, Freud berkeyakinan bahwa apa yang dilakukan pada masa dewasa sesungguhnya selalu ada perkaitannya dengan masa tertentu yang disebutnya sebagai fase kanak-kanak.

Pengantar antologi cerpen karya Jamal T. Suryanata ini tidaklah bermaksud hendak mengangkat pemikiran Sigmund Freud. Tetapi, jika kita mencermati ke-15 cerpen yang terhimpun dalam antologi ini, kita menjumpai adanya sejumlah cerpen yang berkecenderungan kuat mengangkat problem psikologis tokoh-tokohnya dalam lingkaran konflik masa lalu dan masa kini. Setidak-tidaknya, sebagian besar cerpen dalam antologi ini memperlihatkan kekuatannya tidak hanya pada konflik antartokohnya ?yang memunculkan problem psikologis?, melainkan juga problem kultural yang coba diselusupkan Jamal T. Suryanata. Maka kita juga dapat menangkap pesan ideologis yang berkaitan dengan sikapnya terhadap kultur.

Dalam hal itulah, salah satu pandangan Freud tentang masa kanak-kanak ada cantelannya pada psikologi manusia. Lebih khusus lagi ada perkaitannya dengan proses kreatif pengarang: ??dalam usaha sang seniman untuk memahami atau memperoleh keindahan, ada satu peran penting yang dimainkan oleh dorongan-dorongan primitif masa kanak-kanak yang tidak boleh diabaikan.?

Sastra sebagai representasi pandangan dan kegelisahan sastrawan atas kehidupan ini, pada dasarnya tidak terlepas dari fantasi-fantasi yang muncul pada masa kanak-kanak. Dan ketika fantasi-fantasi itu diwujudkan dalam bentuk karya sastra, maka transformasi atas fantasi-fantasi itu tidak hanya telah memperoleh bentuknya yang berbeda, tetapi juga di dalamnya masuk ideologi yang hendak disampaikanya dalam bentuk metafora, simbol-simbol, bahkan juga parodi, yang maknanya bermukim di belakang teks. Tempat persemayaman makna itulah yang mesti kita masuki dan coba menjelaskannya lewat perspektif yang sesuai dengan tafsir pembaca. Teks jadinya tidak berdiri sendiri sebagai sebuah wacana yang otonom, mandiri, dan tak bersentuhan dengan dunia di luar dirinya, melainkan punya cantelan dengan konteks biografi dan masa lalu pengarang.
***

Dari lima belas cerpen yang terhimpun dalam antologi ini, sedikitnya ada sembilan cerpen yang mengangkat hubungan anak?ayah atau anak?ibu yang dapat ditafsirkan sebagai simbolisasi proses perjalanan waktu masa kini yang tidak dapat melepaskan diri dari masa lalu. Simbolisasi ini juga berkaitan dengan ideologi pengarang. Kesembilan cerpen itu adalah ?Telegram?, ?Mata yang Bening?, ?Ujung Murung?, ?Cempaka?, ?Lebaran?, ?Hari Semakin Sunyi?, ?Bulan di Pucuk Cemara?, ?Plaza Airmata? dan ?Tanjung Banua?. Sisanya bercerita tentang tema dunia kriminal (?Rampok? ?Dunia Bandit? dan ?Peluru Terakhir?), kritik terhadap birokrat (?Si Lantih? dan ?Katebelece?) dan kehidupan wong cilik lengkap dengan kegetiran dan kemiskinannya (?Bayi Semangka?).

Dalam kaitannya dengan psikoanalisis Freud, cerpen ?Telegram? misalnya, menggambarkan keterusiran tokoh aku dari tanah leluhurnya lantaran konflik dengan tokoh ayah. Meskipun tokoh ayah tidak ditempatkan sebagai pesaing dalam hubungan dengan ibu, posisi tokoh aku cenderung lebih dekat pada ibu dan ayah sebagai antagonis. Kisahnya dimulai dengan datangnya telegram. Dikabarkan bahwa ibu sakit keras. Berita itu menarik si tokoh aku untuk kembali ke tanah leluhur. Dari sana, terbentanglah kisah masa lalunya.

Tampak di sini hubungan segi tiga, anak?ibu?ayah. Meskipun tidak ada penggambaran yang mengarah pada kompleks Oedipus, posisi ibu menjadi penting karena ia berada di tengah konflik ayah?anak. Masa lalu dan masa kini dihubungkan oleh jembatan yang bernama ibu. Perhatikan pencitraan ibu yang merepresentasikan kebertanggungjawaban, perlindungan, dan harapan yang menawarkan kompromi. Sebuah idealisasi yang mewartakan aspek positif. Gambaran itu berbeda dengan sosok ayah yang konservatif, hitam-putih, dan bertindak atas nama tradisi yang harus dipertahankan secara ketat. Tradisi menjadi sesuatu yang eksklusif dan kebudayaan bagi si ayah menjadi kata benda. Itulah kaum masa lalu yang selalu berlindung dalam ketiak tradisi ketika ia berhadapan dengan modernitas.

Meski pada akhirnya tokoh anak?ibu dikalahkan, penyatuan tokoh ibu?anak memperlihatkan kemenangan di dunia yang lain. Jadi, harapan tak sepenuhnya kalah. Ia bukan sebagai pecundang, melainkan sebagai kearifan dari sebuah sikap kompromi. Oleh karena itu, persemayaman harapan berada di belahan dunia lain di luar sikap yang menempatkan kebudayaan sebagai kata benda. Bukankah kebudayaan itu dinamis, bergerak terus yang menyebabkan posisinya sebagai kata kerja.

Jamal T. Suryanata seperti sengaja membiarkan tradisi tetap hidup dalam dunia dan wilayahnya sendiri. Dan di luar itu bertengger harapan dan masa depan. Maka barang siapa yang hendak meraih masa depan, pergilah meninggalkan wilayah masa lalu yang tidak bergerak itu. Jadi, duduk perkaranya bukan terletak pada persoalan kalah?menang, melainkan pada kebebasan memilih. Jadi, biarkanlah tradisi dan kebudayaan masa lalu itu hidup dalam dunianya sendiri yang kemudian menjadi ingatan kolektif, dan di luar dunia itu, bersemayam harapan dan masa depan.

Bentuk kompromi yang ditawarkan Jamal T. Suryanata itu tampak jelas pada cerpen ?Mata yang Bening.? Meskipun yang diangkat pengarang problem domestik, pertengkaran rumah tangga, kehadiran Dita, sang anak, berada dalam posisi penting lantaran tokoh itulah yang mempersatukan kembali suami?istri dalam lingkaran rumah tangga. Konflik suami?istri, Rizal dan Rohana, yang menyebabkan keduanya berpisah untuk sementara, dipersatukan kembali oleh sikap kompromistik keduanya ketika mereka menyadari, di depan ada masa depan. Secara simbolik masa depan itu digambarkan melalui mata bening Dita, anak mereka.

Begitulah, mempertahankan kehidupan tidaklah terjadi pada masa lalu, melainkan masa kini. Dengan masa kini, manusia dapat bergerak ke masa depan. Hanya orang-orang kalah yang berusaha hidup dengan masa lalunya. Itulah yang digambarkan dalam cerpen ?Ujung Murung?. Di sana dunia masa lalu dibiarkan terus hidup sebagai masa kini. Akibatnya, ia tidak punya masa depan. Tokoh ibu dan kegilaan si gadis yang gagal jadi pengantin adalah dua contoh betapa hidup dengan masa lalu telah menceburkannya dalam dunia yang tidak punya masa depan. Salah satu bagian yang menarik dari cerpen ini adalah usaha pengarang menghadirkan mitos Si Malin Kundang, Radin Pangantin, dan Si Angui.

Rupanya, mitos-mitos anak durhaka itu sekadar mengecoh dan sekaligus membalikkan posisi ibu?anak. Di sini, kecintaan yang berlebihan pada seseorang sebagai bentuk simbolik bagi manusia yang hidup berkubang masa lalu. Kegilaan si ibu dan si gadis adalah manifestasi manusia yang tidak cukup kuat menghadapi realitas masa kini. Jika seseorang tidak dapat menerima realitas masa kini, bagaimana mungkin ia dapat melangkah dan membawa hidupnya ke masa depan? Jadi, menurut konsep Freud, trauma dan neurosis yang dialami kedua tokoh itu telah membawanya pada sebuah dunia yang menafikan prinsip realitas. Tokoh ibu yang menunggu kedatangan anaknya yang sudah meninggal dalam sebuah kecelakaan dan tokoh si gadis yang gagal melaksanakan perkawinannya, terus-menerus hidup dan menghidupi dunia masa lalunya. Keduanya tak punya masa depan karena tidak mencoba menerima realitas masa kini.

Senada dengan tema cerpen ?Ujung Murung?, cerpen ?Plaza Airmata? bercerita tentang penantian sia-sia seorang ibu. Ia berharap, anaknya yang semata wayang itu, datang dan mengisi kembali kehidupannya. Terjadinya huru-hara yang membawa korban orang-orang tidak berdosa, sekaligus melenyapkan harapan dan masa depan si ibu. Anaknya, Tajuddin, ikut menjadi korban sia-sia akibat kerusuhan politik yang tidak dapat dipahami orang-orang kecil macam si ibu.

Tetapi si ibu, dengan kesederhanaannya, tidak dapat menerima realitas itu. Ia masih berkeyakinan, Tajuddin masih hidup. Anaknya adalah masa depannya. Maka, ketika Tajuddin tumpas dan tak jelas lagi nasibnya, tumpas pula masa depan si ibu. Meskipun cerpen ini seperti merepresentasikan sisi gelap dari carut-marut kehidupan politik di Tanah Air, gambaran itu juga laksana potret psikologis orang-orang kecil yang tidak siap menghadapi tragedi sebagai realitas masa kini. Maka, kompensasinya adalah lari dari masa kini dan berlindung pada masa lalu.

Dengan berlindung pada masa lalu, ia seolah-olah masih dapat memelihara masa depannya. Mereka yang berusaha secara ketat memelihara tradisi dan menempatkan kebudayaan sebagai kata benda, sesungguhnya menempatkan masa lalu sebagai alat perlindungan. Ia memberi legitimasi, kemapanan, dan keajekan. Maka, ketika modernisme datang membawa perubahan, mereka ?para pengusung tradisi?seperti menghadapi ancaman. Ia harus mempertahankan tradisi dengan cara apa pun. Konservatisme menjadi sikap yang harus dipegang teguh. Cerpen ?ujung Murung? dan ?Plaza Airmata? memperlihatkan bahwa fantasi masa kanak-kanak ?menurut konsep Freud?tak mengalami transformasi, tetapi terus bergentayangan, berkembang biak membangun dunianya sendiri sebagai fantasi masa kanak-kanak yang tidak dapat menerima prinsip realitas masa kini.

Di luar persoalan itu, sebagai potret sosial, Jamal T. Suryanata seperti hendak mewartakan, bahwa kehidupan politik sering kali tidak pilih bulu. Ia dapat menggusur siapa saja, termasuk orang-orang yang tidak berdosa. Bukankah peristiwa tragis yang sejenis itu bertaburan dalam kehidupan bermasyarakat di negeri ini?

Cerpen ?Lebaran? ?Cempaka?, ?Hari Semakin Sunyi?, ?Bulan di Pucuk Cemara? dan ?Tanjung Banua? pada dasarnya juga mengusung hubungan ayah?anak. Tentu saja masing-masingnya mengangkat problem yang berbeda satu dengan lainnya. Cerpen ?Lebaran? misalnya, menggambarkan kerinduan tokoh ayah untuk sekadar berkumpul dengan anak-cucunya. Tetapi lantaran rindu yang tak tertahankan sebagai manifestasi dari hasrat besar untuk menghidupkan kembali masa lalu? si ayah justru menghembuskan nafasnya pada hari kemenangan itu. Pak Zul tak cukup siap menerima realitas masa kini. Bagaimanapun, zaman telah berubah, dan siapa pun harus dapat mengikuti perubahan itu. Jika tidak, ia akan tergilas oleh perubahan zaman atau ia lari dari masa kini dan membangun dunianya sendiri dengan berlindung pada masa lalu, sebagaimana yang digambarkan dalam cerpen ?Ujung Murung? dan ?Plaza Airmata?.

Cerpen ?Cempaka? meski di sana ada tokoh Julak Hadam, sang dukun, yang menjadi penyebabnya, penggambaran tokoh ayah pada dasarnya tidak beranjak pada keterkungkungan masa lalu. Harapan dan masa depan yang hendak dibangun tokoh ayah melalui ramalan sang dukun menegaskan bahwa harapan dan masa depan tidak dapat bertumpu pada tradisi yang mendewakan intuisi dan cara berpikir irasional. Kematian tokoh ayah yang terkubur tanah ketika melakukan penggalian intan merupakan konsekuensi logis dari ketidakmampuannya melepaskan intuisi dan cara berpikir irasional. Sang ayah gagal karena usahanya membangun masa depan tidak didasari oleh keyakinan dan perhitungan rasional. Oleh karena itu, substansinya sama seperti tokoh Pak Zul (?Lebaran?), wanita tua dan si gadis (?Ujung Murung?) dan tokoh ibu (?Plaza Airmata?) yang tidak dapat menerima prinsip realitas. Maka, ketika harapan dan masa depan diperlakukan sebagai masa lalu, ia akan tergelincir jatuh: menolak masa kini dan hidup dengan dunia masa lalunya atau tergusur oleh perubahan zaman yang terus bergerak.

Nasib yang sama juga dialami tokoh Leha dalam ?Bulan di Pucuk Cemara?. Ia tidak dapat menerima kenyataan, bahwa Syam, kekasihnya, tewas dalam aksi demonstrasi. Bahwa kini, Ardi, anaknya hasil hubungan gelap dengan Syam, menjadi bagian dari kehidupannya, tidaklah berarti kekasihnya itu akan hidup lagi. Kembali, Leha, seperti juga tokoh-tokoh lain dalam sejumlah cerpen yang telah disinggung tadi, terjerat oleh bayangan masa lalunya. Ia tidak mau menerima kenyataan kini, meski kenyataan itu, terlalu getir. Demikianlah, ketika seseorang hanya berkutat dengan masa lalu, ketika itu pula ia mulai membangun dunia fantasi dan harapannya, berdasarkan masa lalu yang dihadirkannya sebagai masa kini.

Keadaan itu berbeda dengan tokoh aku dalam cerpen ?Tanjung Banua?. Ketika ia menyadari bahwa realitas yang dihadapinya kini, tanpa sang ayah yang tewas dalam kecelakaan di penambangan, tokoh aku tidak mau kembali ke masa lalu. Realitas yang dihadapinya kini, betapapun pahitnya lantaran ia terpaksa harus menjadi pelacur, adalah titik berangkat untuk menuju harapan dan masa depan. Maka, yang dialami tokoh aku adalah langkah menuju ke depan, dan bukan mundur ke belakang, lalu berlindung atas nama masa lalu yang baginya sekadar pemicu dan bukan alat legitimasi. Ia menyadari kekeliruannya sebagai pelacur, tetapi ia juga harus realistik. Hidup tak dapat diselesaikan dengan bermuram durja dan mendewakan masa lalu. Ketika ia sampai pada cita-citanya menjadi dokter, seketika itu pula profesinya sebagai pelacur, ia tinggalkan.

Oh, Papa, lihatlah sekarang. Lihat sekarang, Pa. Sebentar lagi aku akan menjadi seorang dokter. Seperti Bu Dokter Linda. Seperti harapanmu. Dan sebentar lagi, Pa, dunia hitam dan glamour ini pasti akan segera kutinggalkan pula. Kukubur untuk selamanya. Pasti. Tapi, janganlah kisah luka ini sampai ke telinga mama yang suci itu. Jangan sampai. Demi aku. Juga demi mimpi adik-adikku!

Dari kesembilan cerpen Jamal T. Suryanata itu, tampak bahwa di balik simbolisasi waktu, ada problem psikologis yang hendak diselimuti. Konflik anak?ayah, anak?ibu, atau suami?istri, sangat mungkin merupakan representasi ideologi pengarangnya ketika ia melihat tradisi dan kultur puaknya berhadapan dengan perkembangan zaman. Pilihan yang dilakukan Jamal adalah kompromi dan bukan ketegasan menolak atau mengingkari. Dengan demikian, simbolisasi ayah?ibu sebagai masa lalu dan anak sebagai masa kini dan masa depan sangat mungkin merupakan pandangan ideologis pengarangnya dalam menghadapi situasi sosial zamannya. Bukankah karya sastra merupakan refleksi evaluatif pengarang atas kehidupan sosial?budaya yang terjadi di sekelilingnya.
***

Cerpen-cerpen lainnya, seperti ?Rampok? ?Dunia Bandit? dan ?Peluru Terakhir? yang berkisah tentang dunia kriminal; ?Si Lantih? dan ?Katebelece? yang merupakan kritik atas perilaku birokrat; dan ?Bayi Semangka? yang menggambarkan kelahiran bayi yang bentuknya mirip buah semangka, menegaskan keberagaman tema.

Satu hal yang patut dicatat dalam keseluruhan cerpen dalam antologi ini adalah kecenderungan Jamal untuk memanfaatkan bentuk kilas balik. Mengingat latar waktu masa lalu, masa kini, dan harapan masa depan berjalin kelindan dengan narasi yang disampaikan pencerita, maka di satu sisi, ada potensi untuk mengembangkan kisahannya melalui model arus kesadaran (stream of consiousness), sebagaimana tampak pada cerpen ?Telegram,? ?Ujung Murung? dan ?Rampok? dan di sisi yang lain, ketika pengarang menggunakan bentuk pencerita akuan, ia lepas kontrol dan bertindak sebagai pencerita mahatahu. Periksa misalnya, cerpen ?Cempaka? dan ?Tanjung Banua?. Dalam kedua cerpen itu, narasi tokoh aku seperti seorang wartawan yang terus mengikuti apa yang dilakukan tokoh ayah.
***

Akhirnya harus saya akui, bahwa di balik tema-tema yang terkesan sederhana itu, tersimpan kekayaan makna yang cukup berlimpah. Dan kekayaan itu hanya mungkin dapat didedahkan, jika kita menghubungkaitkannya dengan persoalan di luar teks. Ia mesti ditempatkan dalam konteks sosial-budaya masyarakat yang melahirkannya. Di situlah, teks tidak hanya bermakna tekstual, tetapi juga kontekstual. Bukankah sastra tidak jatuh begitu saja dari langit. Di sana bersemayam problem psikologis, sikap dan pandangan kultural, dan sekaligus juga ideologi yang mendasarinya. Dan Jamal T. Suryanata secara piawai berhasil menyelimuti kekayaan maknanya secara rapi lewat kekuatan narasinya yang mempesona. Saya bahagia menikmati cerpen-cerpen dalam antologi ini.

Bojonggede, 19 Februari 2006

One Reply to “SIMBOL WAKTU SEBAGAI REPRESENTASI IDEOLOGI”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *