Sisi Gelap Festival Sastra Internasional

Hikmat Gumelar
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/

Dengan rambut perak terurai sampai bahu, seorang lelaki kekar berkaus oblong merah dan bercelana jins biru melangkah menuju mikrofon yang berdiri sekitar dua meter dari pintu Pura Dalem Ubud, Bali. Cahaya lampu yang datang hanya dari arah depan membuatnya agak menunduk menahan silau. Setelah pembawa acara memperkenalkannya, ia menyapa publik yang kurang lebih 200 orang yang mayoritas kaum ekspatriat. Ia lalu mengucap bahwa satu kali Rendra membaca “Blues untuk Bonnie” untuknya. “Kali ini saya akan membaca Blues untuk Bonnie untuk Mas Willy.”

Tan Lioe Ie, lelaki berambut perak yang lazim dipanggil Tan itu, bukan saja seorang penyair kuat dari Bali yang rajin membaca puisi di panggung, tapi pun mengaku meyukai “Blues untuk Bonnie”. “Puisi ini musikalitasnya bagus. Sangat enak dan membantu pembacaan.”

Jamak jika pada malam “Tribute to W.S. Rendra” itu, publik terbius. “Blues untuk Bonnie” tak dibaca Tan seperti ditulis Rendra. Pun tak dengan gaya Rendra membaca puisi. Baris “Georgia. Georgia yang jauh” dan “Georgia yang jauh disebut dalam nyanyinya” diolah jadi satu bait lagu blues. Dinyanyikan di awal, tengah dan akhir. Durasinya lain-lain. Tan memang sengaja mengulang-ulangnya dengan ukuran terungkapnya rasa. Vokal, gestur, raut muka dan kibasan rambut perak sebahu menopangnya dengan pas. Maka Tan membuat “Blues untuk Bonnie” jadi khas, menggugah dan membungkam publik yang memadati halaman Pura Dalam yang semula berdengung macam lebah.

Ruang pertemuan

Apa yang berlangsung pada 7 Oktober lalu itu merupakan salah satu acara Ubud Writers & Readers Festival (UWRF), sebuah festival sastra internasional yang diadakan tiap tahun sejak 2004, dua tahun usai Bali diguncang ledakan bom. Saat membuka UWRF yang berlangsung hingga 11 Oktober ini, Gubernur Bali Mangku Pastika menyebut bahwa para penulis mancanegara peserta UWRF telah menyebar kabar positif ihwal Bali. Mereka ikut mengembalikan citra Bali sebagai surga. Wisatawan pun berdatangan lagi. Kehidupan ekonomi, sosial dan budaya Bali pun bangkit kembali. Laik jika Mangku Pastika menyanjung UWRF.

Festival ini memang berkaliber internasional. Tiap diadakan, selain para penulis Indonesia, puluhan penulis dari berbagai negara selalu jadi pesertanya. Malah selalu ada penulis besar dunia yang hadir sebagai pematerinya. Tahun ini penulis demikian adalah Wole Soyinka, dramawan dan penyair Nigeria yang menerima Nobel Sastra tahun 1986, dan Vikas Swarup, novelis India yang novel pertamanya, Q &A, difilmkan dengan judul Slumdog Millionaire.

Panitia juga menyebut bahwa UWRF merupakan ruang pertemuan penulis mapan dan penulis pemula, Timur dengan Barat. Malah panitia menyatakan bahwa karya para penulis Indonesia akan diangkat derajatnya dengan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, dan diterbitkan dalam buku-buku yang beredar di berbagai negara.

Perkataan panitia itu penting. Itu bisa dicapai oleh festival sastra internasional. Kemajuan teknologi transportasi dan komunikasi yang pesat membuat jarak susut, dunia ciut. Perekonomian juga telah mengoyak batas antarnegara, membuat tiap negara jadi bagian tata ekonomi dunia. Oleh karena itu, misal, ketamakan warga Amerika Serikat tidak saja membuat negara tersebut dibelit krisis ekonomi, tetapi juga membuat negara-negara di seluruh dunia tertimpa petaka.

Gempa di Tasikmalaya dan Pariaman bisa juga berarti mala bagi saudara-saudara kita di negara-negara lain. Sastra punya daya mengungkap bagaimana hidup seseorang dan atau satu bangsa dipandang, dihayati, dan dimaknai. Cara ungkapnya memungkinkan pandangan, penghayatan, dan pemaknaan hadir dengan utuh, konkret dan karenanya memikat. Sastra juga termasuk jenis teks yang demokratis, teks yang justru meminta dibaca dengan cara si pembaca mengaktifkan dirinya, sehingga pembacaannya merupakan proses penghadiran diri. Oleh karena itu, sastra sangat potensial menerbitkan simpati dan empati, saling memahami dan saling berbagi. Tema apa pun, sastra selalu memusuhi ketidakadilan dan diskriminasi. Itulah kenapa festival sastra internasional berpotensi jadi ruang pertemuan, yang sekaligus bisa berarti penataan ulang dunia yang masih saja dirajam ketimpangan di berbagai bidang.

Sumber mala

Ledakan bom yang mengguncang Bali itu, hemat saya, ekspresi reaksi negatif atas ketimpangan tata dunia, atas ketidakadilan dan diskriminasi yang menyemak di bumi manusia. Reaksi demikian bukan saja telah memutus dan mencederai ratusan hidup manusia yang berasal dari berbagai bangsa, tetapi pun meneror hidup keseharian ratusan juta manusia di seluruh dunia. Tentu ini sebuah kebiadaban. Tentu kita mesti melawannya. Pun tentu sastra dan festival sastra, terlebih berkaliber internasional, punya daya untuk melakukannya.

Akan tetapi, saya mencium ketidakadilan dan diskriminasi. Festival tahun ini yang bertema “Suka Duka: Compassion & Solidarity” diikuti oleh 80 penulis lebih yang berasal dari 20 negara. Jenis kegiatannya diskusi, talk show, pembacaan puisi dan cerpen, bedah buku, lokakarya penulisan puisi dan cerita mini, residensi penulis, pameran lukisan, dan sebagainya. Jumlah kegiatan demikian sampai 90 lebih. Dan ruangnya bukan saja di berbagai tempat di Ubud, tapi pun di beberapa tempat di Denpasar. Maka selama di Ubud, tak satu pun penulis yang ikut seluruh kegiatan UWRF. Semua hanya ikut beberapa kegiatan saja. Dan panitia tampak tak terlalu mengharap masyarakat Ubud, apalagi masyarakat di luar daerah itu, menghadiri tiap acara UWRF. Yang tampak paling diharap hadir adalah turis mancanegara. Galib jika sejumlah acara batal karena tak ada peminat. Ada juga acara batal karena pemateri, seperti Vikas Swarup dan Fatima Bhutto, sudah pulang.

Para penulis Indonesia hampir semua ikut beberapa kegiatan dengan enggan, dan akhirnya kecewa. Beberapa harus jadi pembicara sampai di empat, malah lima diskusi yang temanya beda. Dan ini dikabarkan panitia hanya beberapa hari sebelum UWRF mulai. Sebagian lagi harus baca puisi atau cerpen di beberapa tempat. Oleh mereka, hal ini pun baru diketahui saat sudah di Ubud. Dan di Ubud, penginapan mereka beda dengan penginapan para penulis mancanegara. Para penulis luar tinggal di penginapan yang mahal dan mewah. Acara-acara tempat mereka jadi pembicara pun berlangsung di ruang-ruang yang “wah”. Untuk datang ke tempat acara berlangsung, para penulis luar dijemput mobil di penginapan masing-masing. Para penulis Indonesia dijemput di tempat yang ditetapkan panitia. Untuk ini, mereka kedah mapah heula, yang bagi sebagiannya berarti menempuh jarak sampai dua kilometer. Meski sudah diistimewakan, beberapa penulis luar tampak berlaku semaunya. Mereka, misal, bisa seenaknya tidak menjalankan kewajibannya sebagai pembicara diskusi dan panitia tak terdengar menyoalkannya.

Kisah miring demikian masih berlimpah. Tetapi, itu saja telah cukup mengucap bahwa UWRF 2009 berlaku tak adil dan diskriminatif. Laiklah jika Melani Budianta yang berperan sebagai salah seorang kurator UWRF 2009, berucap bahwa dalam UWRF, “para penulis Indonesia hanya lampiran”. Tentu ini berseberangan dengan tujuan dan tema UWRF 2009 yang diuar-uarkan panitia melalui berbagai media publikasi. Pun beda dengan hakikat sastra yang pula dasar adanya, yakni ruang pertemuan yang memanusiakan. Namun laku tak patut itu agaknya konsekuensi dari tujuan laten UWRF. Penyelenggarannnya pada Oktober bukanlah kebetulan. Direktur UWRF Janet De Neefe menyatakan pada Oktober, Bali sunyi dari para turis. Kesunyian ini kerugian ekonomis. Maka perlu ada upaya mengatasinya. Oleh karena itulah, UWRF diadakan pada Oktober.

Memang tak haram membangkitkan pariwisata dengan meminta bantuan sastra. Tetapi, akan lebih baik jika itu dilakukan dengan dasar hormat dan pemahaman yang dalam akan sastra. Dasar inilah yang kurang dipunyai panitia UWRF. Tentu panitia bisa berkilah. Namun tengok, misal, Compassion & Solidarity, antologi dwibahasa para penulis Indonesia peserta UWRF 2009. Di buku ini, salah cetak berserak, tipografi beberapa puisi berubah, layout cerpen lain dari aslinya, biodata dan pertanggungjawaban kurator tak ada (padahal para kurator telah menulisnya), dan penerjemahan banyak yang bukan saja tidak tepat, tapi jelas salah. Ini gambaran bahwa UWRF belum punya hormat dan pemahaman memadai akan sastra, khususnya sastra hasil karya para penulis Indonesia.

Berlangsungnya UWRF yang keenam memang bukti bahwa festival ini sukses. Tapi jika UWRF mau terus, dan sukses yang mau diraihnya lebih dari sukses ekonomi (panitianya) belaka, mau tak mau festival ini sepatutnya mengubah dasar, tujuan dan cara kerjanya. Jika tidak, khususnya bagi sastra Indonesia, UWRF tak mustahil malah bermakna sebagai mala.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *