Tanam Modal

Soni Farid Maulana
http://www.pikiran-rakyat.com/

JIKA ada perusahaan asing gagal menanam modal di Indonesia, hal itu antara lain disebabkan karena si penanam modal tidak memahami apa dan bagaimana budaya Indonesia dalam pengertian seluas-luasnya. Berkait dengan itu, diterjemahkannya karya sastra Indonesia ke dalam bahasa asing dalam hal ini ke dalam bahasa Korea dan Jepang tidak semata-mata berdasar pada pemahaman untuk menikmati nilai-nilai spiritual dan estetika yang terdapat dalam karya sastra tersebut, akan tetapi untuk memahami apa dan bagaimana budaya Indonesia yang terdapat dalam karya sastra.

“Jadi, jangan pernah menganggap enteng karya sastra. Diselenggarakannya jurusan bahasa dan sastra Indonesia di negara-negara asing bukan semata-mata demi kelancaran komunikasi, tetapi memahami lebih dalam apa dan bagaimana budaya Indonesia. Para penanam modal harus mengetahui hal ini jika ingin sukses menjalankan bisnisnya di Indonesia,” ujar Prof. Dr. Koh Young Hun dalam acara “Jakarta International Literary Festival (Jilfes) ” pada pengujung 2008 lalu, di The Batavia Hotel, Jakarta. Indonesia, menurut Koh Young Hun, menjadi penting bagi Korea, karena negara ini cukup menjanjikan dalam bidang ekonomi.

Apa yang dikatakan Indonesianis Koh Young Hun memang pantas direnungkan. Apa sebab? Paling tidak hal ini bisa menjadi pegangan bagi para sastrawan Indonesia dalam menulis karya sastra untuk memperhatikan nilai-nilai kultural lebih dalam lagi. Karya sastra pada satu sisi bisa jadi duta budaya. Namun, sayangnya, pemerintah Indonesia, dalam hal ini di kedutaan-kedutaan besar Indonesia di luar negeri belum punya lembaga yang diberi nama Pusat Kebudayaan Indonesia sebagaimana Prancis punya Centre Culturel Francais (CCF), Jepang (Japan Foundation), dan Belanda (Erasmus Huis) untuk menyebutkan sejumlah contoh.

Pendapat Koh Young Hun tersebut sejalan dengan Indonesianis asal Jepang, Prof. Dr. Mikihiro Moriyama, yang mati-matian jatuh cinta pada kebudayaan Indonesia, dalam hal ini kebudayaan Sunda. Menurut Mikihiro, pada pertengahan 1970-an hingga 1980-an, banyak karya sastra Indonesia diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang. Hal itu tidak hanya dilakukan The Japan Foundation, tetapi juga beberapa perusahaan Jepang yang menanam modalnya di Indonesia. “Hanya, dewasa ini kegiatan tersebut tidak segairah dulu. Apakah ini terkait erat dengan beralihnya perhatian pengusaha Jepang dalam menanam modal?” kata Mikihiro.

Jika kita mencermati apa yang dikatakan kedua narasumber tadi — jelas bahwa pergaulan sastra Indonesia di tataran dunia — belum menduduki peringkat yang dianggap penting untuk dibaca kalangan masyarakat yang lebih luas. Apa sebab? Karena diterjemahkannya karya sastra tersebut pada satu sisi baru berkait erat dengan kepentingan untuk memahami budaya Indonesia, dan bukan untuk menikmati nilai-nilai spiritual atau estetika yang terdapat dalam karya sastra tersebut, sebagaimana belakangan ini begitu banyak karya sastra asing yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, dan orang Indonesia begitu haus membacanya. Dalam konteks inilah kiranya sastrawan Indonesia harus berjuang lebih keras lagi menemukan daya estetika Timur yang bukan Barat, sebagaimana dikatakan Dr. Abdul Hadi W.M. dalam forum yang sama.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *