Tiga Tonggak Sajak Sunda

Lugiena D?*
http://www.pikiran-rakyat.com/

DALAM khazanah sastra Sunda, bisa dipastikan bahwa sajak adalah bentuk sastra paling kemudian yang diterima publik sastra Sunda secara umum. Selain itu, sajak juga merupakan satu-satunya bentuk sastra yang sempat menimbulkan pro-kontra. Tidak seperti halnya carita pondok (carpon/cerpen) atau roman yang mulus banglus diamini tanpa penolakan, proses masuknya bentuk sajak ke dalam ranah sastra Sunda sempat melalui polemik yang cukup panjang. Bahkan bisa dikatakan, polemik tentang “hak hidup” sajak tersebut menjadi salah satu polemik terbesar yang pernah muncul dalam media massa Sunda, selain polemik undak-usuk basa di tahun 1980-an.

Fenomena masuknya sajak ke dalam ranah sastra Sunda beserta polemik-polemiknya, didokumentasikan cukup baik oleh Ajip Rosidi. Antara lain -secara berurutan- dalam buku Kanjutkundang (ed., 1963), B?b?r Layar (1964), Kesusastraan Sunda Dewasa Ini (1966), Ensiklopedi Sunda (ed., 2000), dan antologi Sajak Sunda (ed., 2007). Terutama menyangkut seputar polemik kedua yang muncul kembali pada 1955, cukup banyak dikomentari Ajip dalam buku-bukunya tersebut.

Kis. Ws.

Siapakah yang pertama kali menulis sajak dalam bahasa Sunda? Sampai sekarang, publik sastra Sunda beranggapan, Kis. Ws.-lah orangnya. Dari keterangan yang terdapat dalam Ensiklopedi Sunda (ES), Kis. Ws. alias Kiswa Wiriasasmita (Ciamis, Januari 1922-1995), mulai menulis sejak usia 16 tahun, dan sempat menjadi pembantu media massa mingguan Galoeh yang dipimpin Karna Winata, pada 1939-1942. Namun keterangan yang ada dalam buku Kesusastraan Sunda Dewasa Ini (KSDI) menyebutkan, Kis. mulai menulis pada saat umur 14 tahun.

Selain itu, KSDI juga menyebutkan, bahwa Kis. mulai menulis sajak tahun 1946, ketika ia terbaring tak berdaya di ranjang Rumah Sakit Cideres, Kadipaten Majalengka. Keterangan yang sama juga terdapat dalam biografi singkat Kis., yaitu dalam buku Sawidak Carita Pondok (1983). Waktu itu, ia tengah dirundung malang yang amat sangat, hingga hampir saja putus asa. Namun rupanya ia menemukan semacam “terapi jitu” ketika menulis sajak.

Sajak munggaran-nya itu ikut dikumpulkan dalam antologi Saratus Sajak Sunda, yang terbit pada 1992 sekaligus sebagai peringatan 46 tahun sajak Sunda. Sajak tersebut berjudul “Ilangna Mustika”, ber-titimangsa Cideres, Juli 1946-Ciamis 20 Pebruari 1986. Abdullah Mustapa, penyusun buku Saratus Sajak Sunda, membenarkan bahwa sajak “Ilangna Mustika” adalah sajak yang ditulis Kis. Ws. sewaktu di rumah sakit, sesuai dengan keterangan yang tercantum dalam KSDI. Abdullah juga menuturkan, bahwa sajak tersebut pernah dimuat dalam salah satu media. Namun ia tidak ingat, kapan dan di mana.

Berikut petikannya:
lebah ieu puseur bumi/ nu kamari gonjing ku lini/ ayeuna ngaplak sagara motah/ tineung mumbul s?ah ngagalura/ jerit aral diajam maratan m?ga/ kalah mendal neunggar cakrawala/ aya pamayang kaalunkeun ka basisir/ rubuh bari teu kendat kukubuk/ ka nu nyiptakeun laut/ angin lirih dina sela-sela dikir/ ngendat sakedep lacak nu ilang:/ beurang teu aya nu langgeng/ peuting teu saendeng-endeng/ ngarusapan ngagerihan kuma` urang/ di teluk liuh/ subuh parahu balabuh/ ki pamayang ayem ngahar?wos alon:/ beurang-peuting anu urang/ sagala-gala keur urang/ ayeuna kula narima/ sakab?hna!

Berdasarkan keterangan tersebut, kiranya benar jika Kis. Ws. yang pertama kali menulis sajak dalam sastra Sunda. Karena tidak ada keterangan yang menunjukan ada orang lain yang menulis sajak sebelum Kis. Ws. Namun meskipun demikian, belum dapat disimpulkan bahwa sajak “Ilangna Mustika” adalah sajak pertama Kis. Ws., sekaligus yang pertama dalam sastra Sunda. Karena masih ada dua pertanyaan yang belum terjawab: pertama, berapa sajakkah yang ditulis Kis. Ws. waktu itu? Kedua, apakah titimangsa yang tercantum dalam sajak tersebut merupakan keterangan penulisan ulang (revisi), ataukah justru menunjukan bahwa sajak “Ilangna Mustika” memang baru rampung 40 tahun kemudian? Dalam arti, sajak yang ditulis di Cideres tersebut belum selesai menjadi sebuah sajak yang “utuh”.

K.T.S.

Meskipun sajak Sunda sudah ditulis pada 1946, namun umumnya kritikus dan akademisi sastra menganggap sajak Sunda lahir sekitar 1950-an. Karena pada waktu itulah sajak Sunda mulai dipublikasikan dalam media massa.

Lalu, siapakah yang pertama kali memublikasikan sajak Sunda? Kanjutkundang menyebut K.T.S. (Kadir Tisna Sujana) sebagai pelopornya. Sumber dalam KSDI menyebutkan bahwa K.T.S. mulai menulis dan mengumumkan sajak-sajaknya pada 1949. Namun, tampaknya sumber dari KSDI tidak akurat. Karena Sipatahoenan baru terbit (kembali) pada 1950.

K.T.S. lahir di Subang tahun 1912. Ia mulai menulis sejak tahun 1929. Karena tulisan-tulisannya sering dimuat dalam majalah Parahiangan (1929-1942), oleh M.A. Salmun ia dimasukkan ke dalam angkatan Parahiangan. Setelah K.T.S. memuatkan sajak-sajaknya, barulah diikuti oleh Kis. Ws., dalam surat kabar yang sama. Waktu itu, Kis. Ws. juga ikut membantu surat kabar Sipatahoenan.

Ketika K.T.S. dan Kis. Ws. mulai memublikasikan sajak Sunda di Sipatahoenan, muncul reaksi penolakan dari seseorang yang bersembunyi di balik nama pena Ki Sunda. Menurut Ki Sunda, sajak tidak bisa diterima dalam ranah sastra Sunda. Karena sudah ada bentuk puisi asli Sunda, yaitu dangding (pupuh). Penolakan itu segera saja melahirkan polemik dengan Kis. Ws. dan K.T.S. Namun tidak berlangsung lama.

Yang disayangkan, walau pun K.T.S. memublikasikan sajaknya lebih dulu dari Kis. Ws., sampai sekarang, akademisi dan kritikus sastra Sunda lebih banyak menyebut Kis. Ws. sebagai pelopor sajak Sunda. Padahal, jika diukur dari sudut pandang publikasi sebagai titik tolak kelahiran sajak Sunda, membicarakan Kis. Ws. sebagai pelopor sajak Sunda tanpa melibatkan K.T.S. tidaklah tepat. Tempat tersebut seharusnya menjadi milik keduanya, bukan salah satunya.

Sayudi

Buku kumpulan sajak siapa yang pertama kali terbit dalam sastra Sunda? Jawabannya adalah buku Lalaki di Tegal Pati yang terbit 1963, buah tangan Sayudi. Ia mulai menulis sajak pada 1955, ketika polemik sajak Sunda yang kedua tengah menghangat. Namun ia tidak melibatkan diri dalam polemik tersebut. Ia lebih memilih konsisten menghasilkan karya.

Polemik kedua muncul dalam majalah Warga, yang dipicu perseteruan antara Wahyu Wibisana dengan Yuyu Yuliati. Polemik tersebut mendapatkan respon dari publik sastra lainnya, hingga banyak penulis yang ikut terlibat. Bahkan akhirnya juga meluas ke media Sunda lain, serta berlangsung cukup lama. Titik pembahasannya masih sama, yaitu tentang pro kontra terhadap bentuk sajak. Mereka yang membela “hak hidup” sajak cenderung didominasi oleh penulis generasi muda, seperti Surachman R.M., Unus Sur, dan Wahyu Wibisana, yang mulai menulis 1952-1955.

Tentang seputar polemik kedua, ada sumber lain yang cukup penting. Dalam wawancara di majalah Kalawarta LBSS No. 1 tahun 1995, secara eksplisit Wahyu Wibisana mengakui, bahwa Yuyu Yuliati sebetulnya tak lain adalah dirinya sendiri. Ia memang sengaja ingin mengangkat pro-kontra tersebut ke media massa karena Wahyu memandang perlu adanya dialog lebih lanjut secara terbuka.

Polemik tersebut secara tidak langsung menunjukkan, bahwa waktu itu banyak sastrawan Sunda yang ahistoris terhadap sastra Sunda, dengan aku-aku angga menyebut dangding sebagai bentuk puisi asli Sunda. Padahal, dangding merupakan bentuk puisi serapan dari Jawa.

Kondisi itu yang mendorong Sayudi untuk melakukan eksplorasi estetika puisi asli Sunda. Lebih jauhnya, dalam sajak-sajaknya ia mencoba menggali kembali identitas kesundaan. Dan hasilnya, lahirlah dari penanya sajak-sajak yang kental dengan unsur rajah dan jangjawokan (mantra) serta pantun. Hal itu terlihat dari sajak epik bercorak pantun, “Lalaki di Tegal Pati”, yang dijadikan judul kumpulan sajaknya. Sajak tersebut mengisahkan Prabu Linggabuana di medan perang Bubat.

Namun yang paling penting, secara tidak langsung buku Lalaki di Tegal Pati menjadi sebuah pengukuhan bahwa sajak sudah “resmi” menjadi bagian dari genre puisi Sunda.***

*) Mahasiswa Jurusan Bahasa Sunda, UPI Bandung, bergiat di ASAS.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *