William Blake (1757-1827)

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=367

PELBAGAI SENYUM
William Blake

Ada senyum merkahan cinta,
Ada senyum berisi tipu,
Pun sari senyuman ada,
Dalamnya dua senyum berpadu.

Dan ada kernyit berisi dendam,
Pula ada kernyit menghina,
Dan ada hakikat dari kernyitan
Yang sia-sia kaucoba melupa.

Ia dalam tertikam di jantung
Dan menusuk di benak punggung;
Dan tiada senyum pernah disenyumkan,
Selain hanya satu senyuman,

Yang antara buaian dan kubur
Kita senyumkan sekali hanya;
Dan sekali dilepas bibir,
Kikis olehnya segala derita.

William Blake (1757-1827), penyair Inggris yang lahir dan meninggal di London. Pengetahuan sastrawinya atas belajar secara autodidak, hidupnya agak memencil dalam kemiskinan. Persajakannya berbeda dengan para penyair adab 18, dialah kiblat perseorangan yang menjulang tinggi dalam waktu dan ruang, sajaknya kental segala aliran romantik, di samping anasirnya belum kelihatan pada penyair-penyair sebelumnya. Cintanya pada alam berpaut kecenderungan mistik hingga karyanya sukar difahami, terutama lambangnya berganda kerap dipergunakan. Yang mudah ditangkap terdapat dalam Poetical Sketches, Songs of Innocence (1789), Song of Experience (1794), yang paling sukar sajak-sajaknya di masa penghabisan. {dari Puisi Dunia, jilid II, disusun M. Taslim Ali, Balai Pustaka, 1953}.
***

Alam merupakan kekayaan istimewa, apalagi bagi seorang yang terhimpit keterbatasan hidupnya.

Menjelma perbendaharaan tersembunyi, betapa sukar diraih, kecuali bersungguh menggumuli keayuan tulus paripurna;

lenggokan dedahan, lengkingan bebambu menjulang, panggilan gelombang laut, tangisan ombak di pesisir,

ladang hijau ondakan musik ketinggian bukit menggapai awan, bersahaja hadirkan nilai tanpa pamrih.

Jiwa perenungan terdalam memberi kupasan berlimpah, hikmah bercucuran dari kening memelanting bulir keringat lembut pada tuwong kencana kehidupan.

Teguklah tanpa curiga agar meresapi tulang iga rahasia, lantas bathin semesta menjelma angin mengendarai api, uap pada dinding padat tak terlihat sangat terasa.

Manakala langkah terbentur keganjilan, dipersaksikan alam raya membimbing insan pada keluhuran budhi keadiluhungan gunung api, warnanya menyeruak memekarkan kembang hati.

Bahasa tubuh hadir lebih dekat, gerak gemulai guratan pertajam keinginan, diembannya tersemat memberi ruh kata-kata ke udara menjelma makna.

Atau yang tampak di kedalaman terkandung berita; gelisah, derita, senang, keraguan, tipu muslihat, pun curiga, raut mewakili meski tanpa bersuara, lantaran badan kesadaran menginsafi perasaan jalinan kalbu gelombang.

Menyuratkan yang terkabar, puisi jadi panggung pagelaran mementaskan kemungkinan tertanda.

William Blake menjumputi puitika jasadiah yang bersimpan kehendak, dijabarkan pada ladang digali, guna tanak mengaduk perihal hayati.

Kelembutan membakar memendam ada yang lenyap, berasal kalbu menuju fikiran, dilewatkan tak lagi setubuh, seperti pertemuan awal rasa kehilangan melintas tidak tertangkap.

Sedang rajaman hati membekasi bersimpan gairah, yang jauh cenderung menuntun jiwa kekal.

Sudut pandang kentara, manakala dirangsek lawan bicara, bahasa pengingkaran pula kesetiaan lebih jelas dari pengertian.

Lantaran gerak bukan sekadar menjalani makna, tapi menyakini yang sedang diikrarkan. Ikhtiar menempa kesejatian; pilihan hakim penentu langkah kembara.

Yang sengkarut pemikiran pada pertikaian jiwa, mendamba kikisnya derita. Senyum terakhir di saat buaian kubur, menanti penggali tebarkan bunga.

Menjadikan keseimbangan mematangkan buah, dari cobaan musim berganti pun termaktub kali ini, kelak tentu sepadan tafsiran masa-masa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *