William Butler Yeats (1865-1939)

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=338

LAGU NASIB SEORANG NENEK
William Butler Yeats

Aku bangkit bersama fajar, lalu berlutut meniup,
Sampai bercetusan nyala api, nyala-bernyala riuh.
Lalu aku mesti menggosok, memasak dan menyapu,
Sampai gemintang mulai berkilau, mengedip tersipu-sipu.
Tapi si gadis masih baring, mimpi dalam ranjangnya,
Tentang pita terpantas, penghias dada dan kepala;
Hari-harinya pun silam, ditelan alpa nan hampa.
Dan mereka mengeluh, bila saja angin mengusik jalin,
Sedangkan aku harus kerja, karena lanjut sudah usia,
Dan bibit api: mulai lemah, tak berdaya dan dingin.

William Butler Yeats (1865-1939) lahir di Sandymount dekat Dublin, penyair Irlandia terbesar dari keluarga berdarah seniman, bapak serta abangnya pelukis, kakaknya perempuan pendiri Cuala Press. Mula-mula hendak menjadi pelukis, tapi akhirnya memilih hidup sebagai sastrawan. Jiwanya terbentuk atas petani-petani miskin di daerah Sligo. Selagi kanak mendengar cerita-cerita hayat dan dongengan lama, sehingga terdorong berpatriot mempergunakan bakatnya demi mengangkat bangsanya yang ditindas penjajahan Inggris. Seorang pemuka dari golongan pengarang muda bangsanya, sebab rasa cinta kepada Tanah Air, mengarang sandiwara yang dipentaskan di gedung yang didirikan Lady Gregory, wanita yang ikut berjuang memerdekakan Irlandia. Tahun 1922 menjabat anggota Perwakilan Rakyat Irlandia Merdeka. Bakat esainya terpandang mistikus, dengan sendirinya mengikuti aliran simbolik yang mengagumi penyair William Blake. Tahun 1923 mendapatkan Nobel Kesusastraan. Buah penanya terpenting: The Wanderings of Oisin (1989), The Eind among the Reeds (1899), The Wild Swans at Coole (1917), The Tower (1928), The Countess Cathlee (1892), The Land of Heart’s Desire (1894), The Shadowy Waters (1900), Cathleen in Hoolihan (1902), The King’s Threshold (1904), Dairdre (1907), Ideas of Good and Evil (1903), Discoveries (1907), Poetry and Ireland (1908) &ll. Keistimewaan Yeats yang unik ialah mampu menyeimbangkan jiwanya mengikuti angkatan muda, dan menjadi terpandang di antara mereka. {dari buku Puisi Dunia, jilid II, disusun M. Taslim Ali, Balai Pustaka, 1953}.
***

Di sini aku kutip pidatonya Kenzaburo Oe (pemenang Nobel Sastra 1994) yang menyoal Yeats;
saat Yeats memenangkan Hadiah Nobel, Majelis Tinggi Irlandia mengusulkan membentuk sebuah panitia, untuk memberi selamat kepadanya, yang berisi kalimat sebagai berikut:
…penghargaan yang telah disematkan kepada bangsa ini, sumbangan besar kepada budaya dunia, melalui keberhasilannya”
…ras yang hingga kini belum diterima dalam komite bangsa-bangsa.
…Peradaban kita akan dinilai atas nama Senator Yeats.
…akan selalu ada bahaya atas kemungkinan adanya pengecapan dari bangsa yang telah hilang kegilaannya pada gairah perusakan (Hadiah Nobel, Ucapan selamat pada Senator Yeats).
Yeats adalah penulis yang kebangkitannya ingin saya panuti… {dari buku Pengakuan Para Sastrawan Dunia Pemenang Nobel, editor Zen RS, penerbit Pinus, 2006}.
***

Membaca puisi Yeats di atas, seakan menggumuli dongeng-dongeng masa silamnya, dengan berpijak kesadaran mengguratkan pena.

Sewaktu sayup-sayup warna serta suara fajar, dibangkitkan ruh nenek moyang, melewati gema riuh nyala memasuki pandangan.

Terkatup kelopak-kelopaknya penuh kagum meruapi jiwa belia mengamati dalam, demi kilauan sapuan kuas pemikiran sampai para penyaksi tersipu memandang.

Bahwa di negeri yang tersisikan, ada kejelian berkumandang menghadirkan kesejatian, dari tradisi yang dilantakkan penjajahan.

Atas kepingan kota-kota runtuh oleh kaki-kaki serakah, lahirlah embun kepurbaan, laksana kerlingan debu-debu beterbangan menjelma bintang-gemintang.

Manakala dicahaya sang surya, melalui jendela anak-anak bersenda ria dalam damai, saling menghargai sebagai nyanyiannya.

Kemakmuran nilai-nilai kesantausaan bathin, menerima hidup berlapang dada, demi kearifan masa depan yang diimpikan dunia.

Tiada lain impian insan digerogoti keragu-raguan, tapi Yeats senantiasa menandaskan kata, hari-hari seperti masa silam, takkan berubah kecuali meneruskan perjuangan.

Kelak sehabis bangun dari ranjang yang lapuk, kibaran bendera tertanda di dada, dan mengikat kepala sebagai mahkota.

Selepas hampa kesungguhan mengoyak, menarik-narik ketinggian gelap gulita, hingga cakrawala membiru raya.

Membetot akar-akar pohon dari sumber mata air hayati, sejenis reaksi kimiawi atas rekayasa berulang-ulang.

Kehendak mempelajari ribuan kemungkinan, layaknya menimbang hawa angin, mengayunkan timbangan.

Suatu saat dapat dihitung seksama, demikian harkat kemanusiaan memajukan bangsa, menuju tapal batas kepastian mengejawantah.

Dengan iramanya Lagu Nasib Seorang Nenek, Yeats memasukkan masa-masa putus asa, jika tiada lagi pengorek bara, bibit api kian melemah.

Di sini kewaspadaan dijaga, sebelum datangnya generasi melempep, manakala tidak melanjutkan kobaran jiwa patriot.

Kelaparan, kemiskinan, kebodohan cepat menyebar seperti perasaan mewah, puas ataupun aman, menjadi pepintu terbuka lebar, dan semua mengambilnya, meski bukan pewaris sah.

Yeats mencemaskan kejadian tersebut, olehnya kesigapan dari persiapan betapa penting, agar tidak mudah terusik topan perubahan.

Seolah berlantang kalimah; jadikan pengalamanmu setua api penjajahan neraka, sedang perjuanganmu semuda warna-warna yang tumbuh di surga.

Yeats menjelma sesosok anak ajaib dari negeri Irlandia, tatkala mendapatkan Nobel Sastra, insan yang dielu-elukan pewarna kebudayaan dunia, atas ketertindasan penjajah.

Serupa unen-unen seperti ini; “anak yang selamat dari bencana, kelak sanggup menyelamatkan bangsanya,” demikian nasib Yeats, di hadapan ras yang melahirkannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *