301 (day 1)

Truly Raksawinata

Radio bisa sangat memuak-kan, lagu-lagu murahan dengan lirik dan kata-kata kotor, suara penyiar menjijikkan, dan topik-topik memenuhi keranjang sampah.
Selamat datang industri, ucapkan selamat tinggal pada seni.

Jika sesuatu sudah terlalu kotor dan menjijikkan, lama-kelamaan sesuatu itu terlihat indah, karena sesuatu di dalam diri telah mati, kesejatian diri.

Aku tidak sedang dalam mood benci dunia dan segala isinya,
hanya ingin mengutarakan pendapat;
dunia ini sudah begitu tua dan lelah, kita tinggal menunggu detik-detik kematiannya.
Baiklah cukup sudah!

Aku sudah terlanjur jauh dari apa yang ingin aku utarakan.
Begini, kira-kira sudah hampir setahun lebih aku menjadi normal maksudku dalam hal percintaan, hubungan dengan manusia lain.

Kini aku memberikan waktu bagi diriku berpikir, mengevaluasi, memilih,
ternyata ada perbedaan sangat, saat aku mempunyai hubungan lawan jenis, dan saat sekarang ini, aku rehat dari hubungan itu.

Nyatanya aku merasakan kelegaan, kebebasan, kecintaan, ketenangan.
Ada sesuatu yang salah disini!

Aku senang tanpa kehadirannya, seolah-olah pundak-ku terbebas dari beban sangat berat.
Yang sebenarnya hanyalah sebuah kepura-puraan.

Aku bahkan berencana dengan tekad kuat untuk rehat selamanya,
aku cinta kesendirian,
aku juga heran.

Kalau dulu kecintaanku pada kesendirian seperti cinta rilke pada kematian,
tapi kali ini kebahagiaan melekat, ya walaupun ia masih singgah, tapi tak sekelam dan sesunyi dulu.

Aku sudah berhenti menjadi feminis radikal dan anti theisme.
Aku ingin menikmati hidup ini;
masa-masa muda, masa-masa sebelum datangnya kewajiban baru, hubungan baru.

Aku ingin tak bertanggung-jawab
aku ingin mencoba menulis lagi,
kembali pada diriku, kembali pada kegilaanku lagi, mengejar impian-impian, yang hampir saja aku kubur selama-lamanya.

Dan mencoba mengejar seseorang, yang aku mimpi-mimpikan selama bertahun-tahun.
Aku tahu, aku bagaikan pungguk merindukan bulan.

Belakangan ini, aku menjadi lebih ramah, lebih peduli, lebih bergaya.
Mungkin sudah gila, tapi aku tak bisa protes karena kegilaan sudah mengakar begitu lama.
Baunya sudah sangat aku kenal, sama seperti bau air hujan, sama basahnya airmata, walaupun, aku tak yakin perumpamaan ini tepat.

Aku memang bermasalah dengan sensitivitas, dalam hal ini, aku menyamakan diriku dengan siberia, mungkin terlalu berlebihan? tidak juga.

Satu lagi dari sekian banyak keahlianku adalah membela diri, aku punya berjuta-juta jawaban,
untuk setiap pertanyaan, walaupun seringnya tidak bisa dicerna akal.
Aku memang begitu.

Menurut kedua orangtuaku, aku seharusnya sering bersosialisasi,
tapi mereka juga tahu,
aku kutu buku sejati.

Anehnya aku tidak jenius, ya mungkin aku jenius dalam hal lain.
Lebih suka bersosialisasi dengan benda mati, dibandingkan sesama,
aku memang aneh, dan ayahku setuju akan hal ini.

Aku terlalu banyak menggunakan kata “aku” dalam tulisan ini,
aku tak bisa menggunakan “kau”, “kami”, atau lainnya.

Aku bahkan tak bisa menghayalkan tokoh lain dalam setiap tulisan,
hanya ada aku disana, dan segalanya tentang aku.

Apakah itu bukti ke-egoisan, atau pencarian jati diri tak pernah selesai?
Memahamiku memang tidak mudah, aku sendiri tak paham
jadi kuputuskan tidak memikirkannya, buang-buang waktu saja.

Kadang-kala aku ingin masuk dalam komik percintaan, karena didalamnya kurasakan romantisme,
yang tak kan pernah terwujud dalam dunia.

Di dunia nyata, tidak ada hal seperti itu, aku bahkan merasa sangat iri pada tokoh-tokoh dalam komik.
Aku ingin berhenti sebentar, dan mengumpulkan energi baru, sebentar!

Ternyata aku tertidur, dan ini sudah pagi hari.

Aku suka sekali nona Kaas saat mendengarkan lagu-lagunya, ada suatu perasaan khusus yang menciptakan imajinasi tersendiri,
begitu juga tuan-tuan, dan nyonya-nyonya yang lain, semuanya memiliki perasaan tersendiri.

Aku suka sekali permainan Richter, jika saja aku hidup pada zamannya, kemungkinan besar aku jatuh cinta.

Aku memang sangat melankolis, aku menghayati penderitaan-penderitaan, bahkan yang tidak aku alami,
aku suka sekali rasa saat patah hati, saat depresi, saat putus asa, mengasihani diri sendiri, aku suka semuanya.

Dalam penderitaan, aku merasakan kebahagiaan tak bisa kujelaskan, kadang aku terlalu bersemangat.
Aku menyebutnya seni dari penderitaan.

Akhir-akhir ini pikiranku sering sekali buntu, aku tak sanggup berbuat apa-apa,
sepertinya aku menyerah sebelum berperang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *