301 (day 2)

Truly Raksawinata

Aku gila kekuasaan, egois, suka harta,
pendengki dan pemarah yang kejam.
Apa itu pemarah yang kejam?
Aku juga tak tahu, yang pasti
lebih tepatnya, diliputi kemarahan.
Dan kejam!
Memang aku belum pernah membunuh siapa-pun secara fisik,
aku membunuh jiwa, korban pertamanya diriku sendiri, ia sudah pernah mati!

Aku punya ketakutan, terus terang takut miskin,
aku senang akan kendali
dan kemiskinan, tak akan mengendalikan apa-pun.

Tapi aku tak pernah takut kesendirian,
yang bagiku suatu seni tersendiri,
aku selalu bisa menghayatinya
dengan sangat memuaskan;

lampu-lampu gemerlap di tengah malam,
kendaraan-kendaraan yang dipacu lambat,
mengunci diri sendiri di dalam kamar.

Aku bisa melakukan apa-pun dengan kesendirian,
bahkan yang tidak terpikirkan.
Ini ciri khas-ku, menyiksa diri dengan cara anggun.

Aku bukan pemabuk atau pecandu amfetamin.
Cuma perokok berat,
dengan wajah yang mudah dilupakan,
dan kepribadian absurd.

Aku ingin sekali menjadi tipe klasik
dan chic dengan cita rasa tinggi pada fashion
tapi aku terlalu udik, dan percaya diri berubah.

Aku ingin berkeliling dunia, melihat keindahannya.
Sayangnya, orang yang tinggal di petak kecil,
takkan bisa keluar dari dunianya sendiri.

Aku terlalu miskin, bahkan untuk menghidupi diri sendiri.
Itulah sebabnya aku takut, karena aku hidup bersamanya,
dalam kengerian diperlihatkan dunia semakin kelam,
dan aku tahanan politik, yang harus mati perlahan.

Mati sekarang adalah kemewahan.
Maafkan, aku harus berhenti sejenak,
berbicara kepada tuhan
***

Aku kembali, menghela nafas kelegaan.
Baiklah fokus! Aneh?
Hari ini aku tidak dipenuhi khayalan,
mungkin pada akhirnya
aku tersadarkan secara permanen?

Aku hanya bosan.
Sulit rasanya mencapai tiga ratus satu, ini baru empat.
Mungkin aku harus benar-benar menjadi gila tidak setengah-setengah,
mungkin aku harus berkawan dengan Bethoven dan menjadi sangat sinting
atau harus berkawan dengan Tchaikovsky untuk menjadi sangat kompleks,
barulah aku mencapai tiga ratus satu, bahkan jutaan tiga ratus satu.

Masa bodoh dengan mereka, yang terpenting di sini adalah aku.
Aku ingin mencoba menulis puisi, kira-kira begini bunyinya:

Hening sejenak

salah
nina sayang,

dasar blayd
ini bukan puisi cinta
ini kemarahan tak tergapai
ini bukan lagi kulit, inilah isi

Dia tidak tahu lagi caranya menulis
kecuali kejujuran yang dibalut syair

Ah nina
Aku bisa membayangkan dirimu
rambutmu, keharumannya
kulitmu, rasanya.

Dan segalanya,
kau hanya nina
hanyalah nina.

Tataplah matahari,
bersandarlah pada kehangatannya
bukan kemarahannya.

Aku tahu, kita sudahi saja ini semua
ternyata juga tak sanggup
berantakan
kacau,
semuanya merusak-ku
hening kembali.

Lalu
hanya kematian saja kusaksikan
bau tajamnya tertinggal di ujung penciuman kau,
kebusukannya yang tertinggal dalam memoriku.

Hening kembali
nina jatuh tertidur,
aku juga
sepanjang hayat.

Aku tak kan menghentikan ini
ini semua menyakitkan
sesuatu yang perih menjadi kebiasaan, menjelma candu.

Halaman yang baru
yang di atasnya hanya tertulis kekosongan,
mendung-angin, kebisingan dari lalu lalang kendaraan
tapi aku, nina dan sekitar terpisah pada jarak terdekat.

Kami hanya membutuhkan air hidup
mengalir bersamanya
warnanya ketiadaan
pencitraan impian
akan wujud kesucian.

Oh nina
kemerduan macam apa ini?
sentimentalisme macam apa ini?

Kita sudah terlalu lama hidup
esok, tunggulah hari.

Kau dengar? lagu apa ini?
Ini lagu penuh kebusukan,
keperihan didominasi petikan gitar dentaman drum,
lagu ini terdengar seperti air cuka yang disiram pada luka menganga.

Luka yang selalu baru
karena si pesakitan menunggu
siraman air cuka itu
diatas rintihannya.

Selesai untuk saat ini.
Bagaimana?

anuna, 28 Januari 2009.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *