Dasi Abu-abu

Silvia Galikano
http://www.jurnalnasional.com/

Pedagang gulali itu tersipu malu ketika aku tanya berapa umurnya. ?Enam belas tahun?, jawabnya sambil menyapu peluhnya yang mengalir di kedua pelipisnya. Aku terkejut. Enam belas tahun? Otak matematika ku langsung mengalkulasi. 1993! Dengan segera ia menjawabnya, ?Iya?.

Tangan-tangan rampingnya yang hitam cekatan melumuri pinggan panas berdiameter tujuh sentimeter itu dengan gula. Anak-anak kecil kampung ribut minta dilayani lebih dulu. Sambil minum soda aku menunggu. Ibuku menunggu di kursi rodanya. Sepintas, aku melihat tahi lalat di salah satu jemari tangannya. Kata nenek ku yang lahir sejaman dengan Sherly Temple, bintang Holywood era 30-an, orang yang punya tahi lalat di tangan adalah orang yang berpendirian keras dan ulet. Entahlah, mitos yang sulit masuk ke otak ku yang dididik serba modern dan rasional.

Aku lirik kulit lengan hitamnya yang bersih. Lengan yang kurus ramping. Kulit orang Jawa. Demikian simpulku. Oh Tuhan, ada apa dengan ku? Mengapa aku demikian menelisik anak ini? Ada rasa ibakah di benakku? Tidak! Dia tidak pantas dikasihani. Dia berjuang demi hidupnya. Demi keluarganya. Keluarga? Sudah menikahkah dia? Oh Tuhan, apa yang sedang ku pikirkan ini? Mengapa pikiran ku berguling-guling tak tentu arah?

Satu per satu pembeli dilayaninya dengan cepat. Tiba giliran ku. Bagi ku, ini kesempatan ku untuk bertanya. ?Sekolah di mana??

?Di SMA Negeri Jakarta Barat?.

Pintas, tidak bertele-tele tetapi amat diplomatis. Tersirat dari jawabannya, dia anak yang cerdas. Dia tak terlalu suka dengan hal-hal detail yang tak perlu. Baginya, orang yang baru dikenalnya tak mungkin boleh tahu banyak tentang dirinya. Demikian ucap batinku.

Prediksiku, jawabannya adalah, ?tidak sekolah?. Jawaban alibi standar bagi anak-anak seumuran dia yang terlibat dalam kegiatan ekonomi informal-perkotaan. Tapi perkiraanku keliru! Dia sekolah!

?Kelas berapa??

?Kelas XI?.

?Kelas XI??, pertanyaanku memburu jawabannya.

?Kelas 2?.

Aku menertawakan diriku. Ternyata sistem pendidikan sekarang telah menerapkan angka belasan sebagai ilustrasi tingkat.

Tangan hitam yang ramping itu kembali menaburi pinggan panas itu dengan gula. Sejenak kemudian, pinggan berputar searah jarum jam. Aku pikir, panas pinggan itu melebihi titik didih. Tidak mungkin butiran gula yang bening bisa merevolusi dirinya menjadi kapas-kapas ringan sedemikian cepat. Otak IPA ku langsung menyimpulkan. Kombinasi amat panas dengan perputaran pinggan itulah yang membuat gulali itu bisa seringan kapas. Seringan dia akan lumat dalam mulut tatkala menyentuh lidah karena basah air liur. Inikah metafora alam? Padu, luluh lantak dan kemudian lenyap yang merupakan bentuk padu yang lain.

Dia membuka mulutnya.

?Nama Bapak siapa??

?Pascal,? jawabku.

?Wah, Louis Pascal?? candanya.

Rupanya dia tahu siapa Louis Pascal. Ternyata dia tahu siapa Louis Pascal. Aku saja tidak begitu pasti bisa membedakan antara Louis Pascal dan Louis Pasteur. Sering tumpang tindih. Antara Pascal si fisikawan dan Pasteur si biologis.

?Muhammad Pascal?.

?Nama yang bagus,? sambutnya.

Dia tidak bertanya tentang umurku. Tapi pastilah dia bisa menebak berapa umurku. Bapak beranak satu. Pastilah tidak lebih dari 30 tahun. Aku membengkalai ibuku. Bagiku, yang penting waktu bincangku tak terganggu olehnya.

Gulaliku selesai dipindainya. Gulali seukuran buah melon itu digantungkan pada sebatang bambu bersih. Hangat. Warnanya merah muda. Dengan segera aku melumatnya.

Aku tak beranjak dari tempat ku berdiri. Aku terus melihatnya memindai untaian gulali itu. Aku terus mengamati tangannya yang hitam tapi bersih. Pola kuku yang ramping. Panjangnya diatur simetris dengan jari-jarinya yang mungil.

Dia menatapku heran. Aku tatap matanya yang bening. Bulu matanya yang lentik. Bentuk mukanya yang oval. Sempurna.

Oh Tuhan, apa yang ada di benakku? Tidak mungkin! Tidak mungkin aku seperti tokoh Humbert Humbert dalam gambaran Vladimir Nabokov itu. Aku hanya mengaguminya. Tidak tebersit hasrat seksual sedikit pun dalam otakku yang kotor ini.

Dia memecahkan suasana yang sejenak hening itu. Bapak pikir, kenapa manusia menemukan gulali? Di jawabnya sendiri. Karena tak ada yang mau makan gula murni, itu tak menarik. Tapi penghalusan, pewarnaan dan penggelembungan yang menjadikannya menarik. Gulali itu isinya melulu angin!

Aku tersenyum. Cerdas!

Ya, memang bukan soal apa yang kita lakukan, tapi seberapa pintar kita mempertunjukkan apa kita lakukan. Persis seperti iklan-iklan di televisi itu. Jelasku.

Aku tidak tahu apakah dia bisa menangkap penjelasan ku atau tidak. Tapi aku pikir dia pasti bisa mencerna maksudku. Toh, dia sudah mempertunjukkan keterangan filosofis padaku barusan.

Imaji, bukan substansi. Kita memang suka wilayah yang profan dan permukaan tanpa meraba kandungan isi di dalamnya. Dia tersenyum. Aku bisa melihat bibirnya yang merah semringah. Pertanda senang.

?Saya senang, karena saya berulang tahun hari ini.?

Dia membuka bincang ringan setelah diskusi ringkas yang berat tadi.

Kutengok jam tanganku. 13 April. Mendadak aku berpikir, hadiah apa yang bisa aku berikan pada anak ini selain kata happy birthday? Aku tak mengenalnya. Aku tak mengenal orang tuanya. Aku juga tidak tahu di mana rumahnya.

Rasa ibaku tiba-tiba membuncah. Betapa sedihnya dia. Di hari ulang tahunnya dia harus berada di dunia yang mungkin tidak dia inginkan. Apa yang harus aku katakan?

Tidak ada lain. ?Happy birthday ya?.

?Thanks,? jawabnya dengan gaya bahasa anak baru gede.

Dia komplain. ?Pendek sekali ucapannya!? Aku yang tidak terbiasa berbasa-basi bingung harus menjawab apa.

?Happy birthday yaaaaa…………?

?Bukan itu maksud saya!?

Aku segera bisa mencerna. Yang dia maksud adalah selain ucapan ?happy birthday? setidaknya ucapan tadi diiringi dengan ucapan harapan-harapan di masa datang. Aku mengerti. Tapi tiba-tiba aku tersentak. Ibu ku?!!
***

Rokok itu kuhisap berulang-ulang. Sambil mendengar Piano Soneta dalam C Mayor, aku tenggelam bersama buku-buku dan laptopku. Wolfgang Amadeus Mozart, yang tak sengaja diperkenalkan paman ku ketika masih duduk di bangku sekolah menengah pertama dulu, kini menjadi sarapanku setiap pagi. Menurutku, jarang ada orang yang bisa dengan lengkap menyebut ?Wolfgang Amadeus Mozart?, selain Mozart saja. Parsial!

Entah apa yang menyebabkanku menjadi apresiatif terhadap musik klasik. Padahal itu musik yang aneh untuk anak seusiaku waktu itu. Tatkala anak-anak lain keranjingan Gigi, sebuah Grup Band era ??90-an aku malah kagum terhadap pemusik klasik.

Di saat anak-anak lain seusiaku dengan sukacita membaca majalah urban Hai, aku malah asyik tenggelam membaca buku-buku sastra klasik dan kontemporer. Tak kurang karya-karya sastra beraliran realis, surealis hingga ideologis pernah hinggap di otakku yang mungil.

Aneh? Ajaib? Tidak! Pamanku sedang mengajarkan padaku cara menghargai sebuah karya seni agung. Karya seni yang bisa membawa manusia pada derajat peka kemanusiaan.

Rokok mild itu kembali ku hisap dalam.
***

?Massa annur…?

Selamat sore… Itu kira-kira artinya. Aku bertemunya kembali di sebuah sore yang sendu. Sendu karena matahari tak bersinar seterang sepertinya biasanya. Butir air dari langit menghujam ke permukaan bumi yang pongah.

Aku bertanya dalam hati. Kenapa bumi bisa demikian pongah? Padahal hidupnya tergantung dari butir air dari langit. Karena kepongahannya, setiap butir bahkan terkadang tidak dihargai.

?Massa annur…?

Katanya sekali lagi. Aku baru tersadar karena dia menyapaku persis 30 sentimeter di depan wajahku. Aku semringah karena dia tersenyum padaku. Tak biasanya dia menyapaku seperti itu.

Sebab biasanya dia menyapa ku dengan muka kusam, rambut yang tak dikeramas satu minggu. Jika begini, aku tak mau disapanya. Apalagi membalas senyumnya. Rugi bagiku jika membalas senyumannya jika dia dalam keadaan seperti itu.

Bukan kali ini dia berbicara dalam Bahasa Arab padaku. Kadang, aku yang memintanya bertutur dalam bahasa itu. Perpaduan suara dan aksen Indonesia-Arabnya yang membuat hatiku tenang rasanya.

Pernah suatu saat, dia memintaku menyampaikan sepatah kata bahasa Arab.

?Kirdun.?

Dia tersenyum geli.

Mendadak dia bertanya, ?Kapan mau membeli gulali saya lagi??.

Ya, sejak aku membeli gulalinya April silam, aku tak pernah berkunjung ke gerobak gulalinya. Sejak ibuku menghilang aku merasa enggan ke sana. Bagiku, masih berat rasanya menanggalkan memori itu. Lima bulan aku tak pernah berkunjung ke toko gulalinya.

Aku tak menjawab pertanyaannya. Aku hanya melempar senyum padanya. Aku bingung, tak mungkin aku berbagi kisah padanya. Dia masih terlalu kecil bagiku. Terlalu dini untuk mendengar kepiluan hidup. Lagi pula, buat apa aku bersikap melankolis di depan bocah kecil ini.
***

Mendadak, aku terisak. Aku diam seribu bahasa. Tak sepatah kata pun keluar dari lidahku yang kelu. Aku tak mengeluarkan air mata. Bukan karena tak sedih, tapi karena air mata ku telah kering. Kering terseret waktu yang tak berpihak padaku.

Sudah empat bulan aku mencari ibuku. Sejumlah cara kutempuh. Ke paranormal, ke Bali, ke dokter gigi, ke mana saja. Bahkan sempat menemui Sigmund Freud, tokoh psikologi alam bawah sadar terkemuka di Jerman. Gila!

Nihil.

Terperanjat. Aku melihat dasi abu-abu di kamar ibuku tergantung. ?Buat apa Ibu menggunakan dasi abu-abu??. ?Ataukah Ibu… akh tidak! Tidak, tidak mungkin!

Kutangisi dasi abu-abu itu. Memukulnya, memeluknya, melipatnya mengusutinya bahkan membentaknya. Ku lempar dasi abu-abu itu ke tong sampah, ku pungut, ku buang dan ku pungut kembali hanya untuk mengklarifikasi kenapa ibuku bisa tewas. Ku tuduh dasi-dasi abu-abu itu.

Dasi abu-abu terdiam kusut. Tak menjawab apapun. Juga tak ikut menangis. Aku menyesal dasi abu-abu tak bisa membantuku memberi jawaban. Amat menyesal karena seyogianya dasi abu-abu mau memberi setitik jawaban padaku. Dasi abu-abu mengunci mulutnya.

Sejenak kemudian, dasi abu-abu berbisik. Aku kaget, menoleh, lalu kudekatkan telingaku pada ujung dasi itu. ?Ibumu adalah hatimu.?

Ciputat, 09 Februari 2009

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *