Ketika Teddy Meringkus Perang

Afnan Malay*
http://www.jawapos.co.id/

PERUPA S. Teddy D. mengawali 2010 dengan berpameran tunggal di Museum Akili, Jakarta, mulai 23 Januari hingga 7 Februari. Pameran bertajuk WAR yang ditaja oleh Ark Galerie itu menggelar 24 karya lukisan Teddy, termasuk karya tiga dimensi. Semua, bila diringkas, seperti yang juga dapat dilacaksimpulkan dalam catatan kuratorial Alia Swastika, Teddy sampai pada posisi yang sangat benderang ketika berhadapan dengan perang. Teddy sama sekali tidak menyediakan peluang untuk ditundukkan oleh narasi apa pun: ia, antiperang.

Tetapi, keliru andai karena pilihan yang tandas itu, kita segera menyimpulkan bahasa visual Teddy pastilah merupakan rentetan resistansi yang majal: penuh hujatan. Sekalipun memaklumatkan penistaaannya terhadap perang, Teddy ternyata berhasil untuk tidak mengambil jalan pintas, yaitu semata-mata -dan melulu-mendesakkan simplifikasi betapa busuknya perang. Karena itulah, Teddy berupaya menelusuri muasal naluri destruktif yang merasuki umat manusia. Telusuran Teddy menyingkap sesuatu yang sifatnya eksistensial-psikologis-paradigmatik.

Representasi kategori itu hadir melalui lukisan cat minyak Basic Instinct serta karya tiga dimensi Seed of Violence (aluminium), Sex and Destroy (plywood, polyester), Thought, Lied, Action (aluminium), dan Funatic (steel plate).

Basic Instinct terdiri atas delapan kepalan tangan (seluruh penjuru mata angin) yang menancap di kepala. Pada setiap tangan yang mengepal tertera rangkaian huruf ”m-e-r-d-e-k-a”. Satu tangan lainnya seolah menghunjam ke bumi. Sesungguhnya, dari sinilah paradoksal perang itu dimulai. Kemerdekaan yang sejatinya adalah asasi yang terberi (dari Maha Pemberi) yang melekati manusia, pada kenyataanya bagi sebagian besar penghuni dunia, ia merupakan buah dari pertarungan yang alot dan panjang.

Sex and Destroy berupa visualisasi tank sebagai mesin pembunuh -salah satu ikon utama perang modern- yang batang hingga moncongnya duplikasi kelamin laki-laki sebenarnya bukanlah humor yang sinis. Atau, setidak-tidaknya sekadar keliaran Teddy untuk menawarkan solusi akal-akalan yang menggantikan perang (moncong senjata) dengan kesenangan (kelamin laki-laki).

Justru perpaduan itu semacam penegasan bahwa lelaki dan libido destruksi dalam konstruksi sosial sepanjang sejarah peradaban manusia merupakan sesuatu yang identik. Seks adalah arogansi patriarki. Sex and Destroy menyatu ketika dikombinasikan pada sehamparan meja jati yang lapang dengan Seed of Violence yang berserakan menyebar. Semangat destruksi telah membiak dari semula

Thought, Lied, Action berbentuk pancang trisula yang pada setiap ujungnya adalah kepala-kepala. Kepala pertama polos (thought, ketika rasionalisasi dirancang). Kepala kedua bagai bentuk tanduk tertancap dua aktor perang (lied, ketika interaksi-negosiasi-retorika dikemas). Sedangkan kepala ketiga ihwal aplikasi antara kepala pertama dan kepala kedua (action, ketika thought dan lied dioperasionalkan).

Sekalipun terlihat sederhana, pemetaan imaji perang sebagai pikiran yang sudah terinternalisasi, upaya yang dilakukan Teddy terbilang serius (tahapan yang terukur). Sinikal Teddy tampak pada Funatic yang berbentuk topeng layaknya penutup wajah yang sering dipakai oleh kelompok rasis fanatik Khu Kluk Klan. Bagaimana mungkin, kepicikan yang keji dan sangat meneror dianggap sesuatu yang fun.

Sehabis mencermati peta persoalan naluri dasar yang destruktif itu sebagai sekeping problem laten yang dideskripsikan Teddy, notabene berkaitan dengan ihwal eksistensial-psikologis-paradigmatik tiap individu, kita jadi paham kenapa bahasa visualnya mampu menghindar menjadi sekadar hujatan. Bagi Teddy, perang -seberapa pun kejinya- mustahil sekadar dirumuskan hitam-putih.

Secara personal, setiap individu menyimpan benih destruksi sebagai naluri dasar dan buah pikiran yang terjelmakan dari relasi pengetahuan-pengalaman yang merupakan wilayah otonom. Secara sosial, perang selalu merupakan konstruksi relasional yang paling rumit. Sekalipun dalam banyak kasus sekadar implementasi motif ekspansionis (arogansi ras) dan kapitalisasi (dominasi ekonomi).

Tetapi, tetap saja perang di belahan dunia yang mana pun memiliki kerumitannya sendiri. Sebagai persoalan yang paradoksal, tidak jarang pilihan untuk berperang diambil justru bagian dari upaya signifikan dalam rangka menghadirkan perdamaian. Pemahaman atas kerumitan-kerumitan itu membuat Teddy terbukti berhasil untuk tidak terlihat na?f di hadapan isu perang yang dikemasnya: sebuah narasi besar tentang ide dan bentuk kekerasan yang sering kali menghantuinya.

Karena itu, Teddy tidak jatuh pada vulgarisme. Bahkan pada seri ”kepala dalam terali besi” sekalipun: The Truth Ways adalah kepala yang terdesak hidungnya terbentang tubuh serdadu yang memanjang; Prisoner of War berupa kepala yang mengambang disangga rantai besi yang bergembok; Stage Head memperlihatkan seonggok kepala yang terbaring. Kepala-kepala itu lebih terasakan sebagai interupsi yang mengentak.

Tetapi, Teddy berhasil menepis klise bahwa perang merupakan bahasa tunggal yang selamanya berlepotan darah. Teddy sesekali memang berteriak verbal memuntahkan kemuakan: prajurit adalah zombie soldier. Hanya, kalimat yang tertera pada lukisan Perang untuk Apa? Perang untuk Siapa? itu hadir dalam bahasa visual Teddy yang jauh dari vulgarisme.

Menyoal korban perang pun, Teddy mampu menundukkan bahasa kekerasan. Teddy memajang dua ranjang tipikal rumah sakit dalam War for Whom (vertikal dari lantai ke dinding) dan War for What (melintang di dinding). Keduanya kombinasi dari polyester dan iron yang terbujur pada kedua ranjang adalah bongkahan-bongkahan bangunan: peradaban yang lantak.

Dalam seri ini ada juga Tragical Script yang menghimpun aksara Jawa (hanacaraka). Itu merupakan catatan kritis Teddy terhadap Jawa masa silam (perang berkepanjangan, sejarah yang lekat dengan amis darah dan perempuan) yang dalam konteks mutakhir menjelma Orde Baru.

Ada visi penaklukan Teddy terhadap wacana perang? Jawabnya dengan mudah kita jumpai ketika dengan geram (tetapi juga menyimpan rasa humor) Teddy meringkus senjata api pengabdi perang dalam Letoy (rubber, polyester, iron) yang moncongnya terkulai. Juga, pada lukisan cat minyak Bodhis’s Tank yang menghadirkan Sang Buddha dengan moncong tank yang pucuknya disumbat simbol hati (cinta dan damai). Dekonstruksi tank secara monumental berhasil disulap Teddy melalui karyanya, Love Tank (The Temple), yang berwujud tank bertumpuk tujuh berwarna pink yang dipajang di The National Museum of Singapore (2009).

Akhir narasi perang Teddy tersimpulkan dalam lukisan berukuran 210 x 300 cm The Bridge is Tumbilng Down: kepala manusia yang terbaring di dalamnya tubuh-tubuh yang meringkuk, palang merah yang terbakar, trisula berkepala (trisula digunakan sebagai simbol ilmu psikologi), dan jembatan (kemanusiaan) yang terjungkal. Itulah pencapaian yang bisa disumbang oleh perang: produksi kesia-siaan tanpa batas.

Tetapi, Teddy tidaklah naif, sendirian meringkus perang. Dia menyodorkan peta persoalan yang sudah tertanam pada setiap benak manusia. Serial lukisan kepala Teddy dengan cerdas menjelaskan semua itu. Manusia dideskripsikan Teddy sebagai makhluk yang melihat dengan cinta (See Love), berkata-kata mengumbar cinta (Speak Love), tetapi mahkota yang bertengger di kepalanya adalah perang (The Crown). Sebab, sepanjang masa kita terbelenggu cinta yang berubah teror (Scream Love). (*)

*) Pemerhati seni rupa, pernah studi di SMSR dan ISI Jogja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *