Psyche, Eros, dan Setubandha

Audifax
http://www.jawapos.com/

VALENTINE’S Day adalah simbol hari ”cinta”. Setiap 14 Februari, orang merayakan hari ”cinta” tersebut. Sepanjang sejarah manusia di dunia ini, tema ”cinta” agaknya memang tak pernah usang dibicarakan. Dalam berbagai cerita, mitologi, dan sejarah, ”cinta” muncul dalam berbagai bentuk. Di keseharian pun, ”cinta” muncul dalam berbagai fenomena. Barangkali, Hari Valentine ini menarik untuk kita renungkan esensi dari cinta.

Jika kita mengaitkan dengan mitologi Yunani, di situ terdapat kisah menarik mengenai Putri Psyche dan Dewa Eros. Psyche adalah nama yang kemudian dalam bahasa Latin berarti jiwa, sedangkan Eros (atau Cupid) adalah sang cinta itu sendiri. Di situ digambarkan bahwa Putri Psyche memang merupakan pasangan Eros. Sang jiwa dikisahkan selalu berusaha mencari cinta. Mitologi itu menyiratkan bahwa dalam kehidupan ini, manusia akan selalu mencari cinta karena jiwa berdiam dalam tubuh manusia.

Sebagai orang yang bergulat di ranah psikologi, menjadi sasaran curhat seputar masalah cinta sudah bukan hal asing bagi saya. Dalam analisis saya, cinta kerap menjadi persoalan ketika orang terjebak pada soal menikmati yang hedonik dan kemudian itu dimaknai (atau dilabeli?) sebagai ”cinta”. Mereka mengatakan tengah mencintai tapi terjerat dalam term-term: kekuasaan, kepemilikan, kebutuhan (baca: inferioritas, berangkat dari menginginkan apa yang dirasa kurang). Kemudian mereka menjadi bicara mengenai ”hak” atau sesuatu yang (dianggap) layak diperolehnya. Cinta, dalam esensinya, mesti melampaui itu semua.

Persoalan tersebut disimbolkan secara menarik dalam Ramayana. Dewi Shinta terpikat oleh kecantikan Kijang Kencana, yang sebenarnya adalah jelmaan Marica, pengikut Rahwana. Dewi Shinta lalu meminta pada Sri Rama untuk menangkap Kijang Kencana. Momen itu digunakan Rahwana menculik Dewi Shinta dan membawa ke Alengka. Sri Rama pun kehilangan ”cinta”-nya. Namun, Sri Rama, dengan bantuan Hanuman dan bala tentara kera merebut kembali Dewi Shinta dari Alengka. Salah satu bagian cerita menggambarkan bahwa untuk mencapai Alengka, ribuan kera membangun jembatan yang kemudian dikenal dengan nama Jembatan Setubandha. Itulah jembatan yang membawa Sri Rama pada ”cinta”-nya, yaitu Dewi Shinta.

Dalam pembacaan saya, Jembatan Setubandha adalah simbol jalan yang mengantar pada ”cinta”. Setu secara sederhana berarti ”jembatan”, sedangkan bandha secara harfiah berarti ”keterikatan, keterkaitan pada sesuatu”. Jadi, Setubandha adalah sebuah jembatan yang mempertemukan Sri Rama pada soulmate-nya. Jiwa yang bertemu dengan cinta. Jembatan Setubandha adalah jembatan yang melampaui lautan luas dan dalam serta dibangun melalui kekuatan luar biasa. Kisah Jembatan Setubandha itu sebenarnya berlanjut ketika di masa sesudahnya, Kresna dan Arjuna berjalan-jalan di pinggir pantai Kanyakumari ujung selatan anak Benua India. Di tempat itu mereka menyaksikan puing-puing Jembatan Setubandha.

Di situ Kresna mengajarkan kepada Arjuna mengenai rendah hati. Awalnya ketika melihat Jembatan Setubandha, Arjuna meremehkan apa yang dilakukan Sri Rama dan balatentara keranya. Menurut Arjuna, untuk membangun jembatan semacam itu, tak perlu armada ribuan kera. Dia mampu melakukannya sendiri dengan sebatang anak panah. Arjuna pun membuktikan. Dengan sebatang panah yang dilepaskan, berdirilah jembatan megah. Sayang, kesombongan Arjuna dipatahkan ketika ada seekor kera tua kurus yang melewati jembatan buatan Arjuna dan langsung membuat jembatan itu ambrol. Kera tersebut adalah jelmaan Hanuman.

Simbolisasi Jembatan Setubandha menyiratkan pesan mengenai kekukuhan sesuatu yang dibangun atas dasar kekuatan. Itu berbeda dengan sesuatu yang dibangun atas dasar rasa kekurangan, kepemilikan, atau keinginan menguasai. Di sinilah kita bisa berbicara masalah ”cinta”. Jembatan Setubandha adalah simbol sebuah jalan yang dibangun demi cinta itu sendiri. Sementara itu, jembatan buatan Arjuna adalah jalan yang dibangun atas dasar rasa memiliki, rasa ingin menguasai sesuatu, dan kebutuhan untuk diakui lebih dari yang lain. Sebuah ilusi ego. Maka, jembatan itu dengan mudah ambrol.

Kembali pada mite Psyche dan Eros. Jika pasangan jiwa adalah cinta, di sini kita bicara mengenai cinta universal, bisa berlaku pada relasi pasangan tapi secara lebih luas bisa pula pada berbagai aspek kehidupan. Kisah Jembatan Setubandha menggambarkan jalan yang terbangun, karena memang harus dibangun, bukan karena keinginan memiliki, kekuasaan, atau rasa kekurangan. Justru dengan itu, terbangunlah sebuah jembatan yang kuat.

Artinya, ketika kita melakukan apa pun dengan cinta, di situ sebenarnya kita lepas dari persoalan memiliki, menguasai, timbal-balik (hak), dan sejenisnya. Ketika mencintai, urusan kita hanya mencintai itu sendiri. Ketika mencintai, kita berangkat dari apa yang menjadi kekuatan kita dan menyatukan kekuatan itu dengan apa yang menjadi pasangan jiwa kita. Di situlah akan terbangun ”Setubandha” yang menghubungkan setiap jiwa dengan cintanya. Sebuah jembatan yang tak mudah ambrol karena dibangun kekuatan luar biasa.

Sebagai penutup, saya teringat sebuah dialog dalam film If Only (2004). Dalam sebuah adegan menjelang kematian yang akan memisahkan mereka, Ian Wyndham mengatakan kepada Samantha Andrews, kekasihnya: “Saat ini, karena apa yang telah kupelajari darimu tiap pilihan yang kubuat menjadi berbeda dan hidupku sepenuhnya berubah. Dan aku telah belajar bahwa jika kau melakukan itu, kau menghidupi hidupmu sepenuhnya, tak peduli apakah hidup itu cuma lima menit atau lima puluh tahun. Jika tidak untuk hari ini, jika tidak untukmu, aku tak akan pernah mengenal cinta sama sekali. Maka itu, aku berterima kasih kau mau menjadi orang yang mengajariku untuk mencintai dan untuk dicintai”.

Dialog itu simetri dengan simbol Jembatan Setubandha. Apa yang dibangun Ian Wyndham dalam relasinya dengan Samantha Andrews, ibarat jembatan yang tak akan mudah hancur, bahkan ketika kematian meniadakan tubuh. Sebab, jembatan itu adalah sebuah jembatan yang mengikatkan jiwa pada cinta.

Demikianlah, semoga kisah Psyche-Eros dan Jembatan Setubandha dapat menginspirasi Anda untuk mencintai. Semoga Anda mampu membangun Jembatan Setubandha yang menghubungkan jiwa Anda pada cinta. Selamat merayakan Hari Cinta! (*)

*) Research director di SMART Human Re-Search & Psychological Development

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *