Puisi-Puisi Dody Kristianto

http://www.jawapos.co.id/
Hikayat Penebang

kami memilah sebatang demi sebatang kayu
di hadapan kami, tak peduli kelak mereka menjelma
sebatang korek api
— yang memberi kami sepercik
jejarum api nan menyambar segala tubuh, atau malah
berubah musim paling terang di antara cecabang hujan
yang tak kunjung kami rasakan
— atau selembar kertas–
tempat sajak kelak dilahirkan, tempat kata-kata kami
biasa berpinak, berbiak, bergerak mendesak tatap demi tatap
yang biasa memandang huruf, kata, dan kitab yang kian alpa
kami lantunkan–
tapi sungguh, kami tak kenal sajak
kami hanya mengenal kampak yang tak mampu membedakan
batang leher dan urat kayu: wujud yang sama,
wujud yang sekejap menipu mata

2009

Madah Orang Kusta

tuan, kami mudah terluka. kami selalu mendengar
kata-kata dusta: kata yang perlahan merasuk dalam tubuh kami
menggeliat di lingkar kulit kami, lantas meminta lepas,
perlahan menjelma burung terbang ke ketinggian

2009

Doa tentang Rumah

jendela :
kami lebih senang memandangi gambar rembulan
tak alpa kami aturkan salam baginya maupun bagi
semua pengelana yang melenggang di depan altar
dari doa mereka, kami menyampaikan warna hati kami
yang tenang, walau sesekali tatap kami dihadang suram

pintu:
dua langkah pejalan, sembari mereka menerka
mana awal atau akhir menuju jantung kami
sebab dari mereka, kata-kata atau mantra dusta
kerap meluncur, memencar, berpendar
kami tak ingin mantra-mantra itu bertebar,
membisiki telinga para bayi yang dibalut lelap
kami ingin menjaga senyap di penjuru ruang

atap:
terkadang kami bersahabat dengan hujan,
namun tak jarang kami menghalang kelebat air
yang lupa pada ketinggian itu
sungguh, kami ingin terbebas dari jejarum tajam
matahari yang hendak menjeram lembut matahati
kami. sebab kami hanyalah sang penghadang,
yang menyelubung mimpi tuan dan puan kami

beranda:
selamat datang, selamat jalan bagi tapak
yang senantiasa bertandang. salam sekian
salam bagi sekian bebayang yang tak bosan
menjadi penampakan bagi hati kami:
-kami selalu terbuka bagi jiwa-jiwa kelaparan
atau semua perasaan yang gentayang-

2009

Mantra Pengelana

tuan, buka pintu, kami pengelana kelaparan. berabad sudah kami
berjalan. tetapak kami kuat menjejak, tapi tak kunjung kami jumpai
ia, sang penunggu-yang menunggu kami di kala bulan purna tiba.
kami kelaparan tuan, setiap pintu yang kami datangi menutup diri,
setiap mata yang menatap kami menaruh benci. bahkan bebayang kami
kian tak sudi menguntit tubuh lusuh ini. buka pintu tuan, kami pengelana
yang lupa jalan pulang. segala rumah nampak sama dalam pandang kami.
semua peta jalan kami menjelma sepi. belukar duri pelan membebat panjang
langkah kami. sebab kami sudah alpa pada wajah kami. kami sudah lupa
nama kami. kami tak ingat lagi siapa kami. tuan, buka pintu tuan, kami
pengelana kelaparan

2009

Si Bayangan

ampunilah kami yang hanya mampu menjadi penguntit abadi,
bahkan kami tak dapat menatap tubuh kami, kami hanya bias
meratap, sebab tak ada liang yang mencipta kami.
Jugamengucap nama kami perlahan. kami kian menjelma si pejalan,
yang mengawal ia : sang sempurna. meski satu ketika, ia tak lebih
dari si siam, ketika sepasang pandangnya mulai ditutup dan tubuhnya
yang purna lamat-lamat angslup

2009

Mata Batu

aku mengampuni engkau yang sungguh tak mampu membedakan aku
dan bayangan. bahkan sepasang tatapmu lebih gemar mengenang malam
ketika seekor gagak bertandang, melepas sebadan dan sekerat tai
di keras lengang badanmu yang menghujam. tapi aku mengingatmu
serupa si pemburu, yang pandai bersiasat, yang pelan menguntit dan bersiap
menghunus sebilah pedang di gugup jantungku

2009

*) Lahir di Surabaya, 3 April 1986. Lulus Sastra Indonesia Universitas Negeri Surabaya. Giat di Komunitas Rabo Sore (KRS) dan Sastra Alienasi Rumput Berbasis Independen (SARBI).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *