Puisi-Puisi Amis Mardi Luhung

Arif Bagus Prasetyo *
jawapos.co.id

SATU ciri khas puisi-puisi Mardi Luhung adalah bahasa puitiknya yang mencong, melenceng dari standar estetika dan etika konvensional. Berspirit anti-romantik, puisi-puisinya menyemburkan diksi maupun imaji yang cenderung dihindari oleh mainstream perpuisian di Tanah Air karena dianggap kasar atau jorok. Puisi penyair sekaligus guru sekolah menengah di Gresik ini terasa mensubversi pandangan konvensional bahwa puisi dan sastra atau seni pada umumnya, adalah ekspresi budaya adiluhung yang menjunjung kehalusan dan keluhuran budi. Mardi Luhung adalah ”penyair yang mabuk sebab jatuh dari bulan / betina-birahi bugil di kebun sambil mengangkangi / kembang… (”Penyair yang Mabuk sebab Jatuh dari Bulan”).

Mardi Luhung berpuisi dengan merayakan hal-hal yang ”tidak luhung” di mata umum. Dia dengan enak berceloteh tentang tai, kencing, kelamin, kelangkang, lubang kakus, pantat, dubur -anasir-anasir realitas yang lazim dinajiskan oleh norma kesantunan literer maupun kesusilaan umum.

Puisi Mardi Luhung mengusung anomali terhadap apa-apa yang umumnya dianggap normal -baik dalam tataran ekspresi, sistem berpikir maupun kerangka nilai-nilai. Puisinya menyodorkan abnormalitas: membongkar standar kemapanan dan kenyamanan umum, mempersetankan kesantunan, mengumbar yang tabu dan tak senonoh. Pendeknya: melanggar tapal-batas normatif yang mendefinisikan ”masyarakat beradab”.

Sebagai penyair, Mardi Luhung mengamalkan semacam etika perversi. Dia meyakini bahwa penyair ”punya mata terbalik / perhitungan-tak-genap, dan yang selalu / menghadapkan tatapannya ke jurang / dan palung, palung dan penjara, / penjara dan daya sengit…” (”Pada Mulanya Bulan adalah Ikan”). Penyair, kata dia selanjutnya, ”tak memerlukan apa-apa / kecuali rumah yang miring / hari yang miring, dan puasa yang / juga miring”. Dan dengan segala kemiringan itu, ”Kami pun hidup sepenuhnya!” Sebuah afirmasi total terhadap penyimpangan.

Tetapi penyimpangan adalah perkara yang relatif. Sesuatu hanya disebut ”menyimpang” jika bertentangan dengan posisi tertentu yang lebih unggul, sehingga punya otoritas memonopoli ”kebenaran”, berhak menentukan apa yang menyimpang dan yang tidak. Tak pernah netral, kasus penyimpangan (atau bahkan kegilaan, sebagaimana dipahami Foucault) baru terjadi manakala pihak berkuasa menjatuhkan penilaian negatif terhadap pihak yang tak berdaya, ketika yang elit menghakimi yang marginal, saat ”kami” memutuskan betapa lain dan buruknya ”mereka”.

Penyimpangan hanyalah efek dari relasi kuasa yang memposisikan pihak tertentu sebagai pengusung Kebenaran (kenormalan, kehalusan, kebaikan, kebersihan, keluhuran, kebajikan, kesucian), dan pihak lain di seberangnya sebagai pembawa Kesalahan (keabnormalan, kekasaran, keburukan, kekotoran, kebejatan, kebatilan, kenajisan). Puisi Mardi Luhung tampak menyimpang karena ditulis dari posisi subaltern, di luar sistem kuasa yang menjaga tatanan dan ketertiban sosial normal.

Mardi berpuisi dengan mengidentifikasikan dirinya dengan kaum yang kerap dicap berbudaya rendah: ”orang yang dianggap sangat kosro / kurang adat dan keringatnya pun seamis / lendir kakap…”(”Penganten Pesisir”). Jika kejahatan adalah penyimpangan dari kebaikan, sang penyair justru berguru kepada kriminal-pemberontak: ”sang begal” yang ”mengajari aku / tentang sebuah kudeta / yang tersusun atas keheningan yang kejam” (”Adakah yang Tahu”).

Manakala puisi, sastra atau seni pada umumnya dipahami sebagai ekspresi artistik yang menandai keberadaban, maka puisi Mardi Luhung adalah ”miring”, abnormal, karena merepresentasikan yang kurang adab, jahiliah, bahkan biadab. Ada puisi tentang istri yang mengebiri suami dan suami yang mengubur potongan penisnya dan mayat anak-anaknya (”Dari Jalanan”), kampung di liang mulut dan teriakan yang memuntahkan monster haus darah (”Kampungmu”), nasihat untuk meledakkan kepala sendiri dengan pistol (”Samadi”), dan seterusnya.

Ketimbang bersibuk dengan moralitas publik, kehidupan estetik Mardi Luhung lebih terkonsentrasi pada moralitas privat: penjelajahan di medan karakter individual. Dengan berpuisi ia menjelajahi-diri. Menyelami diri sendiri untuk mencari bahasanya sendiri dan memaknai hidupnya sendiri.

Namun penjelajahan-diri Mardi Luhung bukanlah sejenis proyek pemurnian-diri demi meraih pengetahuan-diri. Dalam Enneads, sebagaimana dikutip Julia Kristeva dalam Tales of Love, Plotinus menyarankan individu agar mencari jati-diri dengan bertindak ”laksana pematung yang mengiris, memoles, memurnikan, hingga patungnya terhiasi segala nilai keindahan” dan ”memancarkan kemilau ilahiah kebajikan”. Plotinus menasihatkan: ”Singkirkan dari jiwamu sendiri segala kemubaziran, luruskan semua yang bengkok, bersihkan apa yang kabur dan jadikan berkilauan.” Tapi Mardi Luhung justru terjun ke lubuk jiwanya untuk mendulang yang bengkok, bobrok, najis, dan kelam.

Dalam penjelajahan-dirinya, Mardi Luhung menyusuri sisi-gelap diri yang disensor atau direpresi oleh moralitas publik karena dipandang negatif, irasional atau hewani. Puisi-puisinya merongrong sensor represif itu dengan bermain di wilayah obscene. Sang penyair menyentuh yang kotor, yang haram, dan yang bejat. Ia mendobrak tabu yang mengontrol perilaku individu dalam hidup bermasyarakat.

Dalam khazanah puisi Mardi Luhung, sisi-gelap diri yang paling kuat mendapatkan artikulasi adalah tubuh libidinal. Tubuh dalam puisi-puisi Mardi Luhung seakan meledak oleh tekanan birahi yang menggelegak gila, diamuk ”nafsu janggal tak terkira” (”Pasar”), sehingga tak bisa lagi dijinakkan dan dikuasai. Tapi tubuh libidinal itu tidak menjadi pornografis, justru karena libido telah meledakkannya dengan begitu dahsyat hingga sang tubuh buyar berkeping-keping, lepas dari ikatan integratif yang mengontrolnya: ”apa yang ada di tubuhku saling tuduh // saling lilit, saling nyalak sendiri” (”Keheningan Apakah”).

Meliar tak terkendali, keping-keping tubuh libidinal Mardi Luhung berubah menjadi kekuatan anarkis yang memberontak terhadap tatanan dan otoritas. Sang tubuh hadir bagai binatang jalang yang meradang-menerjang, setelah sekian lama diasingkan dalam kesunyian penjara Cartesian yang menundukkannya di bawah kuasa pikiran.

Mardi Luhung dengan obsesif dan eksesif mengeksplorasi anasir-anasir ketubuhan. Itulah tubuh-pesakitan yang tak lagi bisa telanjang karena telah berantakan, tapi justru dengan begitu ia terbebas dari kesakitan, lepas dari segala kontrol maupun stigma yang menyakitinya, dan dapat berfungsi kembali dengan intens: ”Menyedot sampai tuntas, atau disedot sampai habis” (”Ziarah ke Reruntuhan Makammu”). Tubuh libidinal Mardi Luhung meledakkan dirinya sendiri untuk menjadi ”real”, hadir dengan telak sepenuh-penuh potensinya, tanpa beban moral, dan filosofi apa pun.

Mardi Luhung khususnya tertarik kepada zona erotogenik tubuh di sekitar ”liang lendir” (mulut, kelamin, dubur). Dalam puisi-puisinya, meminjam ungkapan John Rajchman, ”kita kembali melihat kuatnya minat terhadap fungsi-fungsi ketubuhan yang ”jorok” (abject), sebuah kebutuhan untuk membeberkan apa yang tak bisa ditoleransi dalam masyarakat kita dan relasi kita dengan diri sendiri dan sesama, suatu hasrat untuk kembali membicarakan gerakan-gerakan dan sebab-musabab ”real”.

Ketimbang pengetahuan-diri, target proyek penjelajahan-diri Mardi Luhung adalah perluasan-diri dan pengayaan-diri. Semangatnya adalah eksperimentasi kreatif: ”hasrat untuk merengkuh kemungkinan yang lebih jauh, untuk terus-menerus belajar, untuk menyerahkan diri sepenuhnya kepada keingintahuan, hingga akhirnya terbayangkan segala kemungkinan masa silam dan masa depan” -mengutip Richard Rorty. Sebagai penyair, Mardi Luhung tak henti memperluas dirinya sampai ke tapal-batas terjauh, bahkan hingga ke yang mustahil.

Dalam konteks eksperimen kreatif untuk memperluas dan mempertajam wawasan tentang realitas inilah anarkisme puitik Mardi Luhung dapat dipahami sebagai kritis. Puisi-puisinya menghunjamkan kritik Nietzschean terhadap hegemoni akal-budi (kesadaran, rasio) yang menumpulkan kepekaan kita akan hangatnya degup-jantung realitas. Puisi Mardi Luhung mengekspresikan hasrat yang berkobar-kobar untuk menjalani hidup dengan intens. Dengan erotik.

Mardi Luhung memang tidak ”miring”, sinting atau gila. Segala abnormalitas dalam puisinya lebih merupakan strategi untuk mengusir kepicikan dan kejumudan, ketunggalan pandangan dan kedangkalan pikiran, di balik klaim tentang Kebenaran beserta segenap turunannya (kebajikan, keluhuran, kesucian dst). Dengan terjun ke ranah gelap di balik kesadaran dan menjelajahi ambang-batas kewarasan, sang penyair melakukan eksorsisme kultural agar mata kita tidak menjadi ”terlalu waras / sehingga tak sanggup menangkap ketakwarasan” (”Ziarah ke Reruntuhan Makammu”).

Dengan puisi-puisi yang amis dan berlendir, Mardi Luhung mengguncang kenormalan, kemapanan, dan kenyamanan, supaya kita awas terhadap tipu-daya setan berwajah malaikat, bajingan berparas pahlawan, jahanam bertampang budiman. Ibarat vaksin, puisi Mardi Luhung menyuntikkan bibit penyakit ke tubuh kebudayaan, justru agar kebudayaan dapat menangkal keganasan penyakit yang sesungguhnya.

*) Kritikus sastra. Alumnus International Writing Program, University of Iowa, Amerika Serikat. Tinggal di Denpasar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *