Puisi-Puisi Gendhotwukir

http://www.jawapos.com/
Lukisan Dinding dan Setangkai Bunga

Aku ingin melukis sebuah ingatan
Ingatan yang terus menggagapkan langkah
Ingatan pada dinding muram
Dan setangkai bunga layu
Di antara deretan rak-rak buku
Dinding yang dilukisi oleh jemari lumut
Menghijau
Kekalkan huruf-huruf di antaranya
Menyematkan harapan
Harapan yang ingin berteduh
Berteduh di bawah atap jerami dan dinding gua
Jendela menganga
Selekas angin berpendar
Dinding muram
Semuram kaki-kaki pejal di marka jalan
Pada kanvas ini
Aku juga ingin melukiskan
Setangkai bunga layu
Di antara deretan rak-rak buku
Bunga kamboja
Tumbuh dan datang dari kuburan
Menjalar
Menggerayapi halaman-halaman buku
Berderakan
Tidak tereja
Setiap ungkapan kukuh di setiap gagu
Mengendon di ujung pena
Teriring guguran bunga layu
Yang terus membisu
Berujung pada pucat sunyi
Hari yang kian menduri

RBKM, 2010

Diam

Engkau diam
Diam yang memendam api di ujung keningmu
Diam yang menggauli punahnya
Tanah terjanji di ujung jemari
Entah sampai kapan engkau akan terus diam begini
Diam meratapi kemalangan
Yang tak seorang pun bisa menolaknya
Setiap kita memiliki kemalangannya sendiri
Jangan sekali-kali kita dipenjarakannya
Segeralah bangun
Gelarlah pantai buatan di sepanjang halaman rumahmu
Tempat anak-anak akan menggiring kepiting
Dan siput laut di ujung kaki dian
Tengoklah matahari dan embun pagi
Di bibir daun-daun menguning

RBKM, 2010

Waktu

Waktu yang hanya berputar di dinding sempit itu
Mengerucutkan setiap ingatan
Dalam dendam dan amarah
Yang kau abadikan dari ceceran waktu kelana
Berangus waktu
Waktu untuk mengukir diri
Waktu untuk menggemburkan sawah dan ladang
Dengan jemari-jemari yang kian mengungu
Kita tidak bisa diam
Karna setiap jejak tertinggal
Memburu dan menentukan setiap jejak
Yang harus dilunaskan
Di sepanjang pesisir pantai hidupmu

RBKM, 2010

Buku Harian

Udara gigil. Selaksa kembara matahari
Dari lorong-lorong catatan harian suram
Amarah purba menggumpal
— ”Menanam pohon-pohon kamboja di dada”
Barisan kata-kata menjelma dinding
Dinding pesing di pojok rumah
Pertanda maut musnah. Bersama orang-orang
Berlarian menanggalkan senjata
: Huruf-huruf adalah saksi
dari untai kata dalam rajutan masa
Kertas-kertas mengekalkan lesu tahun
Dendam dalam derai ingatan
Gegas kebencian
Berpulang selepas subuh
Memetakkan taman di atas nisan-nisan
— ”Rindu yang terus meradang dan memanjang”
: Tapi pulang, berarti mengukir kesepian
karena orang-orang lupa ingatan
dan berlomba memanen kata-kata dari buku harian suram

RBKM, 2010

*) Lahir di Magelang, 7 Januari 1978. Kini lagi belajar dan mendalami sastra secara otodidak di kampung halamannya di lereng Gunung Merapi. Sajak, cerpen, dan esainya tersiar di sejumlah media di Indonesia dan di luar negeri seperti Hongkong, Belanda dan Jerman. Tim Pendiri Rumah Baca Komunitas Merapi (RBKM) dengan alamat blog http://gendhotwukir.multiply.com ini pernah mengenyam pendidikan di Philosophisch-Theologische Hochschule Sankt Augustin Jerman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *