Puisi-Puisi Imamuddin SA

QASIDAH KEBERADAAN

mungkin kau mengerti jalanku
akan misteri jejak pagi, belum lama kutapaki
pada tetes air mata
di kedalaman makna tangis pertama

aku masih hampa
membiarkan luka pori-pori kulitku
oleh dekap alam dengan degup jantung rawan;
hatiku pun terasing
jauh dari semburat masa depan

byar-sumebyar dalan
padang ilak-ilak wus tumandang,
asmo lan sifat kang manunggal
dadi ancer-ancere lelampahan

tak perlu kutumpahkan duka mungilku
adalah ini seberkas garis cahaya
akan kehendak yang sama;
kehendakmu,
kehendakmu

namun, tiada kesungsangan segala
kala kumelayang iba
dari kepolosan masih tersisa
berharap padamu penggenggam ketajaman mata
menghantar kekekalan
menghadap kesejatian
dengan wajah purnama bulan

Kendalkemlagi, 2009

NYANYIAN BOCAH

belum sempat kulihat kembali
tarian padi yang dulu memistik hatiku
membiarkan batin meneguk damai
dalam keindahan musim semi kemarin

aku hanya menikmati kegersangan ini
memandang ladang tanpa jejak petani;
adakah ia telah pergi
bosan kebiasaan sendiri

sejengkal lagi purnama membumi
para bocah di pematang sawah girang berlari
menyanyi
menyambut pesta panen, nyaris menyinggahi;
sungguhkah ia luka
sebab tanah terlihat hampa
kembali bersama keputusasaan jiwa

aku yang dalam riuh
mencoba mengabari
berisyarah lewat bibir-jemariku
menebar benih walau hanya sebiji
berharap esok tumbuh meski sehelai;

wahyaning wahyu
tumurun dadi pengiloning laku
madep marang kang tinuju

ananing sri sedono manggon tanah merdiko
gumebyar dadi pertondo
sandang panganing manungso

bah-obahno tangan sikilmu
ono ndarat lan segoro
kanti lelakon kang jowo

mongko ora bakal kacingkrangan
uripmu
kasebab pangayomaning gustimu

seperti kalammu
sebutir sajakku kan menjadi setangkai padi
menumbuhkan biji di setiap helai
pada ladang hati
gersang dan sepi

Kendalkemlagi, 2009

TABIR HUJAN

nalikaning ati
madep marang kang moho suci
landeping lati nukolno ukoro kang dadi sabdo
dadi cinore?e lelakone manungso;
olo tan olo
becek tan becek,
sopo kang kasebab bakal katitik

ati-ati tor ojo sembrono
nyawang gebyare busono,
ora nyongko
ora penyono
wong kuwi gandrunganing panguoso

langit, tak ubahnya kau
menutup wajahmu dengan dinding-dinding kabut
dengan hijab-hijab awan
dengan tabir-tabir hujan
akan keelokanmu dan para kekasihmu

sungguh gaibnya kau
membiarkan aku terkurung dalam kegoncangan
memaknai tanda-tanda yang kau suarakan;
ah, adakah ini batu-batu ujian untukku
atau hanya sebatas permainan waktu
menunggu usiaku

namun jangan sekali-kali kau
ikhlaskan aku berdiri di sisi kirimu
mendustai khalifahmu

ya, aku pun rindu
mengenalmu
menyapamu
rindu bernaung dalam panji kekasihmu

Kendalkemlagi, 2009

SYAHADATKU

bagaimana aku
bisa membagi-bagikan syahwatku
selain kepadamu
dan bagaimana caranya, kau
sanggup ajarkan aku
merapal syahadat cinta untukmu;
hanya namamu
dan aku

harus dengan apa aku
merayumu, agar muhammad
kau lahirkan kembali dari rahim hatiku;
shalatku
zakatku
puasaku
segalanya telah kupersembahkan untukmu

sementara kau hanya melempar senyum sinis
di wajahku
membiarkan luka rindu
menghimpit batinku

dadaku sesak
hanya untaian nafas terpenggal
dalam gerimis tangisku yang masih tersisa,
ingin rasanya kuteguk secawan demi secawan air mataku
biar tak ada lagi duka di bening telagaku
tak ada lagi kegaiban mataku

dan aku terbangun
dari malam-malam jahilku
setelah sekian lama meringkuk
dalam selimut tahmidku

samar aku melihat jari-jari manismu
perlahan memainkan hasrat
menyalakan lilin di tanah gelap

aku pun bangkit
dari sajadah kumalku
merangkak, menguntit cahayamu
berkata dalam kealpaan yang nyaris membatu;
jangankan shalat, syahadat pun aku tak mampu

ya, bagaimana caranya, kau
sanggup ajarkan aku
merapal syahadat cinta untukmu;
hanya namamu
dan aku

Kendalkemlagi, Ramadhan 2009

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *