Puisi-Puisi Syaiful Bahri

http://www.jawapos.co.id/
Sepotong Lagu Kecil

Ini kali lelaki itu mengajakmu pergi
Keliling kota paling plaza ini
Jalan raya penuh lampu merkuri
Dan taman taman kota
Alun alun kota
Lelaki itu mencintaimu
Seperti aku
Aku tidak marah
Dan sekali waktu
Kau memang pergi
Bersamanya
Aku tidak cemburu
Tahu aku
Meski tubuhmu pergi
Hatimu tetap di sini
Di hatiku.

2010

Sajak Ini Mestinya Ditulis Ayah

/1/
Aku tak peduli
Walau nanti kau tak kembali
Membawa anakanak
Kau singkap mereka bersama bendabenda
Di koper itu
Tapi tolong jangan kau ambil
Wangi parfummu yang menempel di kemejaku

/2/
Aku tak akan menjadi pohon
Yang akarnya menancap di rumah
Diam dan menanti kau datang, dengan ramah
Aku jadi daun saja
Bila ada angin melepaskanku dari dahan
Aku dapat terbang ke gedung malam
Dan pergi ke kampung yang kita kira surga
Saat malam pertama, bersamanya
Tetapi rupanya tak ada angin
Sebadai dirimu yang sanggup menghempaskan
Aku ke langit yang sama

/3/
Sudah dua tahun kau pergi
Aku senang sebab ranjang ini terasa lengang
Dan kakinya tak lagi berisik
Sebab sintal tubuhmu tak lagi mengganggu tidurku
Yang mengharuskan aku bekerja penuh semalam
Dan di kamar ini, Kamar dimana
Kita saling meminjam tubuh
Sedang turun salju, dingin sekali

2009

Selalu Begitu

membaca puisi aku yang dulu
betapa rumitnya, seperti Cinta ku padamu
sementara kata sejatinya sederhana
ku buka halaman buku puisi itu
ungkapan Cinta tenggelam di puncak kata yang jauh
selalu begitu
aku mengenangmu lewat puisi-puisi itu
lewat Cinta yang belum kau tahu
kenapa aku baru sadar di saat kau tak ada
di saat aku tahu bagaimana menulis puisi Cinta
tapi, ah, aku tulis saja puisi ini
sebagai ungkapan Cinta yang sia-sia
selalu, selalu begitu
puisi tak pernah bisa
Dan aku tetap saja menulisnya
selalu, selalu begitu
puisi tak pernah bisa
Dan ada saja yang tetap membacanya

2009

KARENA WAKTU
: D. ZAMAWI IMRON

KARENA WAKTU SEGALANYA BISA
BERUBAH. JUGA JALAN PULANG, JEMBATAN SURAMADU
DAN LAMPU LAMPU KENDARAAN TERASA ASING, TAK ADA PENJUAL
KELILING MENJAJAKAN NASI DAN TANGAN YANG MENJULUR
KE ARAH WAJAH. DI SELAT MADURA SEBUAH INGATAN JATUH
MENJADI KAPAL JUGA SAUH. MOBIL MOBIL MEMBUAT
KEMACETAN, RINDU MENINGGALKAN TUBUHKU MELESAT KE ARAH RUMAH
DAN AKU MENATAP KELUAR JENDELA BUS, ADA GEDUNG GEDUNG
TOWER TOWER TELEPON GENGGAM, SEGALANYA TERASA ASING
SEPERTI PUISI YANG GELAP, TAK ADA YANG BISA KUKENALI.
KARENA WAKTU SEGALANYA BISA
BERUBAH. TAK ADA LAGI NYANYIAN GADIS GADIS DESA
YANG MENCARI KAYU BAKAR JUGA SIUL PEMANJAT
POHON SIWALAN. SEORANG LELAKI MEMANDANGKU
SEPERTI PENDATANG BARU, SEPERTI PUISI YANG DIBACA
TERGESA GESA KEMUDIAN DILUPAKAN, PUN AKU. SEPANJANG JALAN
INGATANKU SEPERTI BINTANG DI ANTARA AWAN HITAM
SEBENTAR TERLIHAT LALU HILANG. SUMENEP PERLAHAN
MEMASUKI PAGI, KETIKA AKU SAMPAI DI RUMAH
TAK ADA YANG BISA KUTEMUI SELAIN KENANGAN
TAK ADA SIAPA-SIAPA!

2010

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *