Terompet

Faradina Izdhihary
http://www.suarakarya-online.com/

Ini gak bisa didiamkan lagi, Pak Camat. Harus segera diambil tindakan! Demikian Sapuan menyampaikan usulannya kepada pimpinan di kecamatan itu, baru-baru ini. Usulan itu disampaikan dengan penuh kemarahan. “Ya benar, Pak Camat. Kita laporkan polisi saja! Kebiasaan Trisno benar-benar menganggu ketentraman warga,” tambah Suratno pula.

Warga lain mengamini saja pendapat keduanya. Pak RT yang memimpin warga berdemo di kantor kecamatan, kemudian berkata dengan suara yang diatur dengan baik, agar terdengar wibawa. “Benar, Pak! Warga sudah resah. Ketenangan kami sangat terganggu.”

Pak Camat berbisik-bisik dengan sekretaris kecamatan dan beberapa pejabat lainnya. Setelah membetulkan dasinya yang sudah rapi, ia berdiri dan berpidato dengan suara penuh wibawa.

“Baiklah, Saudara-Saudara, keluhan Saudara kami tampung. Secepatnya saya akan mengambil tindakan. Tapi ingat, kita tidak boleh gegabah. Ini negara hukum. Kita harus mengumpulkan bukti-bukti sebelum mengambil tindakan. Sekian.” Pak Camat mengakhiri pidatonya tanpa memberi kesempatan warga untuk bertanya.

Namun, warga sudah cukup tenang dengan janji Pak camat. Warga bubar sambil tetap membincangkan soal Trisno. Suara mereka seperti dengung lebah. Tak jelas maksudnya.

Pak Camat benar-benar tak mau gegabah mengambil tindakan. Ia membentuk tim penyelidik. Itu keputusan akhirnya.
* * *

Tindakan Trisno sejak tiga tahun belakangan ini, tepatnya setiap menjelang malam tahun baru sangat meresahkan warga. Awalnya, sekitar empat tahun lalu, Trisno pindah ke perumahan di pinggiran kota itu. Perumahan Tentram Sentausa.

Di sana Trisno memulai hidup baru, rumah baru dan rumah tetangga baru. Tak ada yang tahu dengan pasti asal-usul Trisno. Mereka hanya tahu Trisno seorang kontraktor bangunan. Muda. Sukses dan kaya. Itulah Trisno.

Pada perayaan malam tahun baru pertama tinggal di perumahan itu, Trisno melakukan sesuatu yang mencengangkan. Trisno memborong semua terompet dari penjual yang lewat atau mangkal di perumahan.

Setiap anak di perumahan itu diberinya satu-satu tereompet bagus. Warga senang sekali. Mereka tak perlu mengeluarkan sepeser pun untuk memenuhi rengekan anaknya yang minta dibelikan terompet.

Alhasil suasana malam tahun baru tahun di kampung itu menjadi sangat meriah. Trisno menjadi pahlawan malam tahun baru di perumahannya.

Tak heran jika malam itu begitu banyak kiriman jagung bakar ke rumahnya. Trisno, warga baru yang tahu bersosialisasi dan mengambil hati warga.

Ternyata tak hanya tahun pertama saja Trisno memborong dan membagi-bagikan terompet pada anak-anak.

Bahkan tahun kemarin, dan tadi siang, semua warga diberinya terompet, gratis. Tak hanya satu. Bisa jadi satu orang menerima dua atau tiga terompet.

Berpuluh-puluh penjaja terompet keluar masuk perumahan menjajakan terompetnya. Semua dibeli Trisno. Semua dibagikan pada warga. Bahkan, setiap orang yang lewat jalan di depan perumahan pun sekarang ia beri cuma-cuma.

Kedermawanan Trisno menyebar kemana-mana. Sekarang tak hanya penjaja kecil yang menjual terompetnya ke perumahan. Puluhan truk keluar masuk ke perumahan. Menjual terompetnya pada Trisno. Dan selalu Trisno membelinya.
* * *

Kegaduhan sekarang seringkali terjadi di perumahan itu. Orang-orang tua dan para bayi tak bisa tidur baik siang maupun malam karena suara terompet terus-terusan terdengar. Anak-anak tak lagi mau belajar karena berlomba meniup terompet sekeras-kerasnya.

Para suami tak bisa konsentrasi bekerja karena beberapa kali harus mengeringkan ujung terompet setelah basah kena ludah anak-anaknya. Para istri uring-uringan karena halaman rumah, ruang tamu, bahkan kamar tidur pun penuh sampah.

Sampah bekas terompet yang rusak. Bayangkan, sedikit sulit diitiup, anak-anak akan lari ke rumah Trisno meminta ganti terompet yang baru.

Tak hanya warga perumahan yang menjadi resah. Para pedagang terompet pun sering beradu mulut karena berusaha lebih dulu menjual dagangannya. Meski berkali-kali Trisno berteriak pada mereka, “Tenang Bapak-Bapak! Semuanya akan saya beli, jangan khawatir”

Namun, suara Trisno seperti selembar daun luruh yang terbawa deras arus sungai.

Para penjaja keliling yang merasa terancam nasibnya karena kehadiran pedagang besar meradang. Perkelahian tak terhindarkan.

Mereka bersenjatakan clurit dan belati. Beberapa korban terpaksa dilarikan ke rumah sakit. Hansip tak sanggup menangani.

Warga ketakutan untuk keluar rumah. Mereka mengutuk Trisno. Mengutuk Trisno dan terompetnya.
* * *

Trisno bukan tak menyadari gerakan warga yang mulai menentang tindakannya membeli dan membagi-bagikan terompet. Tapi semakin keras warga menolak apa yang dilakukannya, semakin bersungguh-sungguh ia melakukannya.

Bahkan Lastri, istrinya, pun tak sanggup menghentikannya. Lastri tak pernah tahu apa motif Trisno melakukan semua itu. Tiap kali ditanya soal itu, Trisno menjawab dengan singkat.

“Sudahlah, jangan banyak tanya. Terompet adalah soal hidup dan matiku.”

Hanya itu yang Lastri tahu. Trisno tak mau berbagi soal itu. padahal dalam urusan lainnya, termasuk urusan pekerjaan, uang, dan ranjang sekali pun, Trisno begitu terbuka.

Oh ya, sebenarnya tak hanya soal terompet saja Trisno main rahasia dengannya. Masih ada satu rahasia besar yang sangat ingin diketahui Lastri. Rahasia kamar di samping gudang yang selalu dikunci rapat oleh Trisno. Trisno tak mengizinkannya membuka apalagi masuk ke dalamnya. Lastri tak tahu betapa setiap menjelang pergantian tahun, Trisno menyelinap ke kamar itu. Di sana ia membuka sebuah kotak tua.

Berisi beberapa terompet model kuno dan sepasang sepatu bocah laki-laki, kira-kira untuk anak kelas lima SD. Trisno selalu mengelus-elus terompet itu sambil meneteskan air mata.

“Bapak,aku telah jadi orang seperti yang Engkau harapkan,” begitu tiap kali ia mendongak ke langit seperti berbicara pada bapaknya yang telah lama menjadi penghuni sorga.

Trisno takkan pernah lupa peristiwa malam tahun baru saat ia kelas lima SD. Bapaknya, penjual terompet buatannnya sendiri, berjanji akan membelikan Trisno sepatu baru.

Sepatunya telah sobek. Ibunya sedang sakit. Bapak bekerja hampir dua bulan tanpa henti membuat terompet. Serupiah demi serupiah ia sisihkan penghasilannya untuk membeli sepatu Trisno setelah sebelumnya dibelikan beras dan obat ibu.

Tapi malam itu, malam naas tahun baru itu, seharusnya bapak pulang membawa sepatu baru buat Trisno. Namun sebuah mobil yang melaju kencang menabrak bapaknya hingga meninggal di tempat. Tak ada yang menolongnya hingga ditemukan esok paginya. Bapaknya tewas ditbarak pengemudi tak dikenal.

Trisno selalu ingat. Bapak meninggal sambil memeluk sepatu baru buat Trisno. Bapak tersenyum.
* * *

Sejak itu, Trisno menyimpan sepatu baru yang dibelikan bapaknya tanpa pernah memakainya. Ia menyimpannya agar selalu baru. Berharap suatu saat akan memakainya saat bapak pulang. Trisno selalu menyalakan lilin dan memberi bunga-bunga tujuh warna saat malam tahun baru. Kemudian ia duduk bersimpuh, membaca doa-doa untuk ayahnya.

Trisno berjanji akan membeli sebanyak-banyaknya terompet setiap malam tahun baru semampunya. Trisno tak ingin ada lagi Trisno-Trisno lain di luar sana.
* * *

Pergantian tahun baru yang dinantikan warga datang juga. Sejak sore seluruh warga sudah keluar. Anak-anak membawa tiga hingga lima terompet. Suara terompet tak henti-hentinya ditiupkan warga. Bayi-bayi menjerit. Orang-orang tua berlarian, lupa memakai tongkat dan kacamata. Mereka terinjak-injak warga yang memenuhi jalan perumahan. Terompet melengking hingga menjelang malam pergantian tahun. Terompet-terompet telah rusak sebelum detik pergantian tahun. Anak-anak menangis menjerit-jerit. Bapak-bapak kewalahan. Mereka tak lagi punya uang sebab beberapa hari tak bisa konsentrasi dalam bekerja. Ibu-ibu sibuk mendiamkan anak-anaknya. Seperti kalap warga berteriak-teriak meminta terompet pada Trisno. Tapi Trisno tak juga keluar. Para pedagang yang kalut, takut dagangannya tak habis terjual terus berdatangan. Detik pergantian tahun baru tinggal satu jam saja. Tapi Trisno tak kunjung keluar. Warga kalap. Pedagang nekat. Pak camat dihubungi dan segera turun ke lapangan diiringi grup ndangdut yang sebelumnya manggung di pendopo kecamatan. Warga yang kalap berteriak-teriak marah sambil berjogetan. ***

Tak ada satu pun warga yang bisa ditanyai. Mereka kesetanan. Ratusan orang pingsan, juga pak camat dan pak sekcam. Beberapa orang mati, termasuk bayi. Bahkan seorang ibu keguguran tanpa ada yang memberi pertolongan.

Tapi Trisno tak juga keluar. Ia larut memeluk terompet kuno dan sepatunya. Di kamar rahasianya. di antara nyala lilin dan aroma kembang setaman.
* * *

Esoknya, polisi menemukan bukti baru. Beberapa terompet kuno, sepasang sepatu anak-anak model tahun 70-an, lilin, dan parfum di salah satu kamar di rumah Trisno.

Trisno dijerat dengan tuduhan berganda. Melakukan perbuatan yang meresahkan warga dan menyebarkan aliran sesat. Pemujaan setan dengan meniup terompet di malam tahun baru.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *