BALADA TAWANG ALUN I

Imamuddin SA

bumi blambangan mengangah
tersayat pedang mataram raja;
luka

gerimis air mata merambah hujan darah
burung nazar berpesta di hamparan duka

adalah tawang alun raja blambangan
tersungkur kala penyerangan,
selincah siput memahat keselamatan

barat mata angin jadi kiblat melangkah
mendegup jantung biar nyawa tak termangsa;
laut jalanya

brondong tempat singgahnya
melenggang kaki ke lamongan kota
candipari tanah menyepinya

tawang alun raja blambangan
sempat menimba ilmu di giri padepokan
menyamar diri, menebar wewangi kesahajaan

ada ombak di hati
tawang alun mengukir mimpi
memetik teratai sejati
demi purnama lelakon bumi

– kala kau pujakan kembang itu;
mongko turuo nangeng ojo sampek turu

laksana topan, pikir menggulung badan
membongkar inti tembong sanepan
tawang alun diam mengulum percakapan

– mengapa kau membatu lagu?
berfikirlah namun hampa bebankan pikiranmu
kuncilah segala anasir bumimu
pun kini kau melambai lewat degup jantungmu;
adalah ini saripati ukoro yang merayu

sinar mercusuar membias dalam ketersesatan
tawang alun menggenggam tongkat perjalanan;
mengkhalwatkan hati bukan sekedar jasad ini
bersemedi merengkuh mimpi misteri
di hening candipari

segala yang tercari telah tersaji
membawa diri menapak derajat wali
menyandang gelar mbah sinareh;
wong seng turu nangeng ora turu

tawang alun berdiri
di atas terompah kesempurnaan misi
menepi hari menanti nafas terkulai

kala denyut tak lagi bertaut
tawang alun melepas segala yang terpagut
berpusara di ufuk candipari
mengakhiri kisah pelayaran nadi

sebagai prasasti bumi abadi
tanah nisan ini terukir nama balun nan bersemi
damai dalam legenda esok hari

Pebruari 2008, Lamongan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *