Gie, sang Intelektual Organik

M. Iqbal Dawami*
http://www.jawapos.com/

Soe Hok Gie (17 Desember 1942-16 Desember 1969) adalah seorang anak muda yang berpendirian teguh dalam memegang prinsipnya dan rajin mendokumentasikan perjalanan hidupnya dalam buku harian. Buku hariannya kemudian diterbitkan dengan judul Catatan Seorang Demonstran (1983).

Gie adalah anak keempat dari lima bersaudara keluarga Soe Lie Piet alias Salam Sutrawan. Dia adik kandung Arief Budiman atau Soe Hok Djin, dosen Universitas Kristen Satya Wacana yang juga dikenal vokal dan sekarang berdomisili di Australia. Gie dengan bangga menolak mengganti namanya. Bukan karena dia tidak nasionalis, tapi karena dia jujur, bahwa dia keturunan Tionghoa. Sebagai tokoh gerakan pembauran (gerakan di era Soekarno), Gie tidak memandang penggantian nama sebagai salah satu sarana pembauran. Gie juga bangga dengan julukan “China Kecil”.

Gie aktif di Lembaga Pembinaan Kesatuan Bangsa (LPKB) yang didirikan kelompok masyarakat keturunan Tionghoa. Dia agaknya lebih setuju dengan pendekatan yang dilakukan LPKB ketimbang yang dilakukan Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia (Baperki), juga kelompok besar golongan Tionghoa. Pada Februari 1963, sebagai delegasi pemuda yang setuju dengan asimilasi, dia ikut menemui Presiden Soekarno. Tapi, kritik-kritik Gie kepada LPKB membuat dia dipecat dari lembaga tersebut.

Pada saat ada tuduhan bahwa orang Tionghoa itu semua materialistis, pengkhianat, dan sebagainya, Gie mencatat 12 April 1962 ketika dia berdebat tentang masalah ini. “Aku mengetahui tadi. Tapi, aku juga menunjukkan bahwa tidak semua begitu dan itu dapat berubah. Kepribadian bangsa bagiku adalah suatu proses yang lama dalam situasi tertentu, tapi dalam situasi lain itu dapat berubah.”

Semuanya menunjukkan betapa sakitnya Gie berjuang membongkar garis batas kelompok solidaritas Tionghoa untuk dihubungkan dengan kelompok solidaritas lain yang juga masih begitu pluralistis. Dilema besar dalam menghadapi sikap orang-orang Tionghoa sendiri tentang “ke-Tionghoa-annya” tidak dapat dipecahkannya. Dia dipecat LPKB dan tidak mungkin menjadi anggota Baperki.

Dalam suasana itulah dia harus pula menghadapi suatu “kepastian” sikap pribumi terhadap masalah Tionghoa yang tidak peduli dan tak mau pusing mempersoalkan apakah itu artinya asimilasi atau integrasi, dan menganggap keduanya sama saja. Suatu kutub rasis bersebelahan dengan nasionalisme Bung Karno.

Gila Baca

Soe Hok Gie adalah putra seorang redaktur pelbagai surat kabar dan majalah, seperti Tji Po, Panorama, Hwa Po, Liberty, Hong Po, Kun Yung Pao, Min Pao, dan terakhir pada 1950 menjadi redaktur harian Sadar di Jakarta. Sejak SD, Gie dan Arief sudah sering mengunjungi perpustakaan umum dan beberapa taman bacaan di pinggir-pinggir jalan di Jakarta. Umur 14 tahun, dia sudah baca buku-buku tokoh besar macam Mahatma Gandhi dan Rabindranath Tagore. “Saya sering mendapatinya asyik membaca di bangku panjang dekat dapur,” kenang Arief.

Kakak perempuannya, Dien Pranata, bercerita bahwa ketika anak-anak sebayanya asyik mengejar layangan, Gie malah nongkrong di atap genting rumah. “Matanya menerawang jauh, seperti mencoba menyelami buku-buku yang dibacanya,” ungkap Dien.

Selain membaca, Gie suka menulis buku harian. Sejak usia 15 tahun, setiap hari dia menulis apa saja yang dialaminya. Catatan harian pertamanya bertanggal 4 Maret 1957, ketika dia masih duduk di kelas II SMP. Catatan terakhir bertanggal 10 Desember 1969, hanya seminggu sebelum kematiannya.

Semasa SMP, Gie sudah berani menghadapi ketidakadilan, termasuk melawan tindakan semena-mena sang guru yang mengakibatkan perdebatan. Sikap kritisnya semakin tumbuh ketika Gie mulai berani mengungkit kemapanan. Saat dirinya menyaksikan seorang pengemis sedang makan kulit buah mangga, dia pun merogoh saku, lalu memberikan uangnya yang cuma Rp 2,5 kepada pengemis itu. “Ya, 2 kilometer dari pemakan kulit mangga, ‘paduka’ kita mungkin lagi tertawa-tawa, makan-makan dengan istri-istrinya yang cantik-cantik. Aku besertamu orang-orang malang.”

Gie adalah ikon gerakan mahasiswa. Dia telah menjadi inspirasi bagi banyak aktivis kampus di era 1980-an hingga 1990-an. Bahkan, catatan hariannya yang telah dibukukan itu menjadi semacam bacaan wajib bagi peminat ataupun simpatisan dunia pergerakan.

Gie dikenal sebagai penulis produktif di beberapa media massa, seperti Kompas, Harian Kami, Sinar Harapan, Mahasiswa Indonesia, dan Indonesia Raya. Di rumahnya, Jalan Kebon Jeruk, Jakarta, di kamar belakang, ada sebuah meja panjang. Penerangan listrik suram karena voltase yang selalu turun kalau malam hari. Di sana juga banyak nyamuk. Ketika orang-orang lain sudah tidur, Gie mengetik karangannya.

Gie lebih banyak berjuang lewat tulisan. Kritiknya kepada Orde Lama dan Presiden Soekarno digelar terbuka lewat diskusi maupun tulisan di media masa. Ketika pemerintahan Soekarno ditumbangkan gerakan mahasiswa Angkatan 66, Gie memilih menyepi ke puncak-puncak gunung ketimbang menjadi anggota DPR GR.

Gie memang dianggap sebagai orang yang berseberangan dengan penguasa. Termasuk ketika Gie terang-terangan melawan Soekarno yang dianggap memberikan ruang terlalu berlebihan kepada Partai Komunis Indonesia (PKI). Menariknya, meskipun seorang antikomunis, Gie tetap protes ketika terjadi pembantaian masal terhadap orang-orang yang dianggap memiliki hubungan dengan PKI tanpa melalui proses pengadilan.

Indonesia membutuhkan banyak intelektual organik semacam Soe Hok Gie untuk menggerakkan bangsa. Sigap dan cepat tanggap, memiliki kesadaran kritis, tidak menyukai model kebijakan top down, lebih senang bergerak dari akar rumput, senang berkutat dengan perubahan, mampu menjaga kemandirian, tidak mudah dikooptasi oleh kekuasaan, kreatif, dan peduli orang-orang tertindas. (*)

*) Pencinta buku, staf pengajar STIS Magelang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *