Kapitalisme dan Zaman yang Psikopatik

Ridwan Munawwar*
http://www.jawapos.com/

KITA hidup di tengah zaman yang psikopatik. Suatu kurun waktu saat ancaman penyakit jiwa selalu mengintai dan datang tak terduga. Sejarah kejiwaan manusia, tampaknya, bergerak seperti medan magnetik, lengkap dengan sisi positif dan negatifnya. Kecanggihan zaman yang membawakan dinamika positif dalam kejiwaan manusia ternyata di sisi lain yang berseberangan juga diimbangi oleh ledakan patologi; timbulnya negativitas dan anomali-anomali kejiwaan yang semakin menemukan bentuknya yang paling tak lazim, ekstrem, dan mengerikan.

Titik episentrum dari krisis ini tak lain adalah kekuasaan ekonomi yang kacau dan despotik. Kapitalisme adalah sumber psikopatisme. Ada banyak alasan untuk mengatakan hal ini. Mari kita mulai dengan meninjau masa lalu. Dulu, di masa-masa pemekaran awal zaman modernisme, harapan masyarakat dunia akan datangnya zaman berperadaban baik dan sempurna bersinar begitu cerah. Abad modern, dengan teknologi dan sistem kapitalismenya, diyakini sebagai juru selamat yang akan membawa umat manusia menuju hari-hari yang cerah. Harapan ini mulanya bersinar di negara-negara kapitalis Barat.

Kapitalisme dan liberalisme terlihat menawarkan kebebasan dan kesamarataan hak kepada manusia; bahwa setiap orang punya kesempatan yang sama untuk meraih kentungan dan kesejahteraan hidup. Jiwa masyarakat kapitalisme sarat dengan harapan dan semangat ekonomi yang tinggi. Misalnya, dalam jiwa masyarakat Amerika timbullah bentuk kesadara dus ketidaksadaran kolektif yang lazim dikenal dengan istilah ”The American Dream”. Yakni, utopia pragmatis akan kesuksesan yang bentuknya tidak lain adalah finansial yang berlimpah.

Disadari atau tidak, The American Dream ini kemudian menular ke negara-negara lain, tak tertinggal negara-negara dunia ketiga yang Indonesia termasuk di dalamnya. Sisi positif yang ditularkan barangkali adalah semangat kerja yang tinggi dan eksplorasi dunia yang tertata rapi. Dengan didukung oleh perluasan media dan informasi, hal tersebut tampaknya menawarkan kesempatan yang kurang lebih sama luasnya kepada semua orang untuk memperbaiki taraf hidup.

Tetapi, ekses yang timbul kemudian tidaklah mendatangkan kehidupan ekonomi yang lebih baik, tapi lebih buruk. Semangat ekonomi itu kemudian diracuni oleh ilusi-ilusi akan kebebasan, yang kemudian berubah bentuk menjadi keserakahan dan individualisme yang keras dan bebal. Kegilaan hasrat-ekonomi pulalah yang menjadi virus yang meracuni banyak hal dalam kebudayaan kita, dari dimensi sakral sampai dimensi profannya. Agama dan pendidikan menjadi komoditas yang eksklusif, kesenian menjadi banalitas yang disorientatif, dan politik menjadi permainan citra dan bisnis.

Diskursus-diskursus keilmuan yang terlahirkan dalam situasi zaman ini penuh tendensi ekonomi yang memalukan. Contohnya, ilmu psikologi industri dan organisasi (PIO) yang seharusnya bisa memberikan kritik tajam kepada penguasaan industri atas manusia, dengan segala logika komoditasnya, malah memberikan berbagai dukungan dan afirmasi kepada penguasaan ekonomi-industrial yang represif terhadap realitas sosial. Akibatnya, lahirlah disparitas sosial yang kian hari kian mengeras namun abstrak sifatnya. Relasi kaya-miskin memang tidak sekontras dulu karena kaum miskin pun sudah terjajah oleh tirani citra kenikmatan konsumerisme yang menawarkan kesemuan-kesemuan. Di lain sisi, kaum miskin yang terepresi pun meledak, maka terjadilah kriminalitas yang begitu banyaknya, terutama di wilayah metropolitan. Dorongan umum dari tindak kriminalitas itu tidak lain adalah impitan ekonomi.

Mendingan kalau seandainya motif-motif kriminalitas itu masih mencari sesuatu yang logis. Masalahnya, kini banyak kriminalitas yang absurd, yang motifnya bisa sangat aneh dan tak masuk akal. Itulah kriminalitas yang psikopatik.

Kemudian, represi ekonomi ini berjalan paralel dengan represi politik yang begitu panjang dalam kesejarahan kita. Inilah yang menjadi faktor dasar psikologis dari pelaku mutilasi manusia yang dengan kejam membantai korbannya. Dalam level kolektif, pola represi politik yang panjang itu menciptakan krisis kepercayaan dari masyarakat luas terhadap negara, dan itu sangat mungkin telah terendapkan sebagai suatu agresivitas laten yang akan terpencar ke mana pun tanpa terduga. Bagai api dalam sekam.

Di tengah semua kekalutan tersebut, perhatian kita kemudian terfokus pada satu hal yang dipercaya sebagai tonggak pencerahan alternatif, yakni spiritualisme. Namun, benarkah hal itu memang mengandung relevansi yang diharapkan?

Spiritualisme Fragmentaris

Spiritualisme di sini memiliki batasan arti, yakni praktik-praktik olah spiritual yang kini menjamur di masyarakat perkotaan kita. Di kota-kota besar yang notabene adalah ruang episentrum dari sistem kapitalisme pasar, praktik-praktik itu laris sebagai pelarian dari kejenuhan pola hidup dan pola sosial yang terepresi.

Ada kecenderungan motivasi yang naif dan dangkal dari praktik-praktik spiritual itu, yakni ekonomisme. Karena itu, akan kita lihat pola interpretasi mereka akan ajaran spiritual -yang biasanya diadopsi dari sufisme Islam, Buddhisme, dan Taoisme- sangatlah dangkal; bahwa kejernihan rohani sangatlah penting dalam kesuksesan bisnis dan karir Anda, bahwa agama adalah panduan hidup untuk sukses (secara ekonomi). Sebuah penafsiran ajaran agama yang berangkat dari rasio instrumental yang kental. Dengan semangat ekonomisme religius semacam ini, orang-orang pun berbondong-bondong menjadi agen kapitalisme ekonomi.

Lewat bukunya, The Protestant Ethic and Spirit of Capitalism (1992), Max Weber sudah pernah mengingatkan kita bahwa hal serupa pernah terjadi pada sejarah Eropa dalam perkembangannya di masa industrial kontemporer. Spirit mencari laba sebanyak-banyaknya yang dilegitimasi oleh instrumentalisme keberagamaan Protestanisme Eropa pada akhirnya mejadikan represi kapitalisme alot untuk diantitesis. Sebab, ia telah memiliki sistem legitimasi yang mendasarkan diri pada asumsi-asumsi sakralitas.

Apa yang terjadi di negeri kita sekarang adalah perluasan dari deskripsi Weber. Dalam bukunya, On Belief (2001), secara humoris Slavoj Zizek menyatakan bahwa seandainya masih hidup, Weber akan menulis buku lagi dengan judul The Taoism Ethic and The Spirit of Global Capitalism. Dan sesungguhnya itu tidaklah berlebihan. Pasalnya, di Amerika Serikat, Western Buddhist yang diserap oleh berbagai korporasi industri telah meningkatkan secara signifikan kekuatan dinamika kapitalisme dalam arti yang negatif. Ini artinya, represi semakin meningkat sejalan dengan meningkatnya laju arus pasar kapitalisme.

Represi juga akan selalu menghasilkan ”individu sisa-sisa”. Mereka yang berada di luar sistem sebagai residu yang akan terus resistan dengan agresif pada sistem nilai sosial umum yang melegitimasi represi yang jarang disadari. Mendingan jika resistan itu bersifat meretakkan dan membangun kembali, tetapi kita harus waspada pada jenis resistansi tertentu yang hanya ingin melihat dunia kacau. Resistansi yang tunaarah. Resistansi yang psikopatik.

*) Esais, bergiat di komunitas filsafat BEING Community Jogjakarta dan studi di Prodi Psikologi UIN Sunan Kalijaga Jogja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *