Kematian Sang Penyair

Dati Wahyuni *)
http://oase.kompas.com/
Judul Buku : Mata Air Inspirasi; Mengenang Pemikiran dan Tindakan KH. Zainal Arifin Thoha, Pendiri dan Pelopor Pesantren Mandiri
Penulis : Joni Aridinata dkk.
Penerbit : Kutub, Yogyakarta
Cetakan : I Maret 2009
Tebal : xiii + 110 halaman

Jika selama ini kita mendengar, membaca atau mengikuti acara yang beraroma sastrawi, yang ada hanyalah pembacaan karya sastra berikut apresiasi terkadap karya tersebut. Sang Pengarang seakan mati. Yang hidup dan layak diapresiasi adalah Sang Karya.

Tentang Sang Karya dan Sang Pengarang ini, Goenawan Mohamad sebagaimana dikutip An. Ismanto, pernah menulis bahwa pembaca kita punya kecenderungan untuk menempatkan Sang Pengarang di pusat, walaupun semestinya yang berperan sebagai lakon utama di panggung sastra adalah Sang Karya. Pembaca kita,”memaksa” Sang Karya untuk mundur atau bahkan menghilang ke balik punggung Sang Pengarang. Sang Pengarang sendiri dimajukan dan, dalam bentuknya yang menakutkan, kecenderungan ini bahkan mencapai taraf nihilisasi terhadapnya, seperti yang terjadi pada kasus Pramoedya Ananta Toer.

Namun, dalam buku ini sementara waktu Sang Karya dipersilahkan untuk undur sejenak. Dan, memberikan tempat paling depan kepada Sang Pengarang. Sebab, kali ini para penulisnya hendak membaca Sang Pengarang, lantas disusul Sang Karya.

KH. Zainal Arifin Thoha, merupakan sosok Sang Pengarang yang diapresiasi para penulis buku ini. Gus Zainal, demikian para penulis menyebut Sang Pengarang, adalah salah satu penulis sastra, budaya, dan artikel ilmiah lainnya. Ia terlahir di Kediri, Jawa Timur, dan menetap di Yogyakarta. Selama menjadi penulis, ia melahirkan sejumlah karya yang terpublikasi melalui media massa, buku, dan suara vokalis. Diantaranya; puisi, cerpen, esai, opini dan lirik musik. Selain itu, ia juga seorang pendiri dan pelopor pesantren mandiri, PPM. Hasyim Asy?ari, di Yogyakarta. Sayangnya, belum genap berusia 35 tahun, kematian lebih dulu menjemputnya.

Kabar Kematian.

Tepat pada tanggal 14 Maret 2007 sekira jam 22.00 WIB, penyair muda ini menghembuskan nafas terakhir. Kontan saja para santri dan kawan-kawan serta penulis yang mengenalnya menjadi tercengang. Mereka tidak mengetahui penyebab kematian yang datang tiba-tiba itu. Sekitar pukul 19.00 WIB, Gus Zainal masih di pesantren dan berjama?ah Sholat Isya? bersama santri-santrinya. Setelah itu, ia pulang ke ndalem (rumah) dan suasana kediaman pun masih tampak seperti malam-malam sebelumnya. Namun, kabar kematian itulah yang akhirnya menyulap semua. Sang Pengarang telah berpulang dan kabarnya menyebar di sejumlah media cetak dan elektronik.

Tidak sedikit pertanyaan yang beriringan dengan do?a yang dihaturkan orang-orang yang merasa kehilangan Gus Zainal. Salah satunya; apakah proses kematian Gus Zainal sama seperti penyair-penyair yang telah meramalkan kematian mereka dalam puisi sebelum mati? Dalam buku inilah, pertanyaan itu dijawab Zen Rahmat Soegito (hlm.66-73).

Meraba Kematian

Ada beberapa penyair yang selama ini kita ketahui telah meraba-raba kematian mereka di puisi yang dicipta semasa hidup. Baca saja, semisal puisinya Kristanto Agus Purnomo atau Kriapur, yang berjudul “Kupahat Mayatku di Air”, Chairil Anwar dalam “Yang Terhempas dan Yang Putus”, Federico Garcia Lorca pada Primer Romancero Gitano. Akhir kehidupan mereka persis apa yang telah dibayangkan.

Kriapur meninggal di air dalam sebuah kecelakaan yang membuat mobil yang ia tumpangi amblas di dasar kali. Chairil Anwar mati di tahun yang sama dengan sajak yang ia tulis. Dan di Karet pula ia dikuburkan. Federico Garcia Lorca pada tanggal 19 Agustus 1931, 3 tahun setelah sajak itu ditulis, mati dan tidak diketemukan pula jasadnya.

Selain mereka, Gus Zainal pernah meraba kematiannya dalam puisi “Ciuman Terakhir Menjelang Kematian”. Pada puisi yang dimuat dalam antologi puisi tunggal “Engkaulah Cinta, Akulah Rindu” itu, ia menulis begini; “Tuhan beri aku ciuman, biar segera lesat ini sukma, dan terlemparlah bangkai badan dari bau semesta”. Gus Zainal pun dijemput maut dengan cepat dan mudah. Hanya dua cegukan dan beberapa menit menggigil kedinginan. Seperti permintaannya; “biar segera lesat ini sukma”.

Itu adalah bait penutupnya. Tapi, menurut Zen, yang lebih mengejutkan adalah bait pembukanya. Di bait pertamanya, Gus Zainal melukiskan malaikat yang berkeringat sembari melukiskan keadaan dirinya yang sedang sekarat, sesuatu yang luar biasa pun benar-benar kejadian.

Menurut penulis lainnya, berdasarkan informasi yang terhimpun, proses kematian Gus Zainal persis seperti yang terlukis dalam puisi itu. Ketika itu, Gus Zainal ada di ruang depan, di depan televisi, tiduran di atas karpet, dekat dengan jendela rumahnya.

Mirip ilustrasi puisi itu, di sana pula; di depan televisi, di atas sehelai karpet, di dekat jendela rumahnya, Gus Zainal pergi dengan cepat. Mungkin juga dengan mudah. Dan seperti itu pula yang dibayangkan Gus Zainal mengenai ikhwal kematiannya, seperti yang ia tulis di bait pembuka “Ciuman Terakhir Menjelang Kematian”. Gus Zainal menulis begini; “keringat begitu deras melumuri tangan malaikat, dan aku yang terpingsan-pingsan dekat jendela, memandang wajahmu dalam gaib asamaradana. Tuhan, beri aku ciuman, sebelum nyawa meregang”. Inilah kisah kematian yang mengejutkan.

Keunikan Lain

Berbeda penilaian, D. Zawawi Imron menemukan keunikan lain dari Gus Zainal. Zainal, menurut Budayawan dari Madura itu, adalah seorang anak muda yang hidupnya tidak hanya bermanfaat bagi dirinya sendiri. Lebih dari itu, ia ingin bermanfaat bagi banyak orang. Dia ingin mencetak banyak anak yang terampil menulis atau menyampaikan hasil tulisannya dalam bentuk tulisan (hlm.105).

Menurut Joni Ariadinata, selama yang ia kenal, Gus Zainal adalah salah satu orang yang mencintai kuburan. Baginya, kuburan adalah representasi yang paling jelas dari masa depan. Dari kuburanlah ia mendapat spirit dan selalu mendorong para santrinya untuk berbuat. “Sebaik-baik manusia adalah yang memberi manfaat kepada sesama”, demikian pesan Gus Zainal yang dikutip cerpenis dan redaktur majalah sastra itu.

Tidak kalah memberikan kesaksian, Muhidin M. Dahlan juga mengenang anjuran Gus Zainal untuk menziarahi kuburan. Namun, bagi penulis “Kabar Buruk dari Langit” itu, kuburan tak semestinya dipahami sebagai kuburan bangkai-bangkai semata. Rak buku sama dengan kuburan. Dalam rak pula, berjejer-jejer buku terdiam dan menantikan peziarah. Bukankah Gus Zainal tak pernah mengharamkan santrinya membaca dan menulis apapun? Bukankah ia juga pernah berkata bahwa hikmah harus dicari dan tersebar dibanyak halaman buku? Memang, menurut Kuswaidi Syafi?ie, Zainal betul-betul telah membangun fondasi hidup yang patut dicontoh oleh siapapun. Tasawuf telah mengantarkan dirinya pada kebijaksanaan dalam menjalani kehidupan.

Terlepas dari kesaksian mereka, Gus Zainal adalah Gus Zainal. Ia layak memiliki sebutan Sang Pengarang dengan bukti sejumlah karyanya. Dalam buku ini, apresiasi para penulis terhadap Sang Pengarang, cukup memberikan kesan dan wawasan pembaca. Antara Sang Pengarang dan Sang Karya, memiliki pertalian ruh (spirit) yang kuat dan penuh teka-teki. Meski demikian, akan lebih banyak teka-teki jika disusul Sang Karya-Sang Karya dari para Sang Pengarang lainnya.

*) Penikmat Sastra dan Mahasiswi Universitas Serang Raya (UNSERA).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *