Kota Yang Meninggalkan Kesepian

Denny Mizhar

Matahari kemerah-merahan mengantung di sisi barat langit. Senja sebentar lagi tiba, tak ada suara dari percakapan manusia. Keheningan mencekam lahir dari suara angin yang menerpa dedaunan rimbun pohon-pohon tertanam rapat di tanah tempat tinggalnya. Ahmad seorang tua berumur lima puluh tahunan hidup seorang diri. Kampung yang dihuninya lama ditinggalkan penduduknya untuk merantau ke kota.

Seperti hari-hari biasa, ia selalu sendiri menjalani kehidupannya sejak istri dan satu anaknya ikut penduduk kampung lainnya pergi ke kota. Ia senggaja tak ikut ketika waktu itu istrinya mengajaknya pergi ke kota mencari mata pencaharian yang lebih baik supaya nasib tidak mengganngunya dikemudian hari.

Ada rasa enggan Ia untuk beranjak dari kampung halamanya, ada rasa resah yang di simpan sejak seorang pergi ke kota dan berhasil menjadi kaya lalu mengabarkan pada penduduk kampungnya untuk pergi juga.

Nasib tak ubahnya senja, bertemu sebentar lalu hilang. Ia merasakan kesepian yang mendalam tapi tak ada rasa penyesalan. Kegiatan sehari-harinya yang mulia terus di lakoninya tanpa mengeluh. Pagi bekerja, hingga terik matahari tepat di ubun-ubun. Di tetangga kampong, lalu pulang. Sehabis itu pergi ke ladang sekerdar menjenguk bibit-bibit ubi-ubian yang di tanam terkadang juga menyirami. Hal tersebut dilakukan agar tak hilang panen esok, ketika waktunya tiba. Sebab itu mata pencaharian kedua selain bekerja di tetangga desa sebagai guru Sekolah Dasar yang hanya beberapa gelintir muridnya.

Dua puluh lima tahun menanti dengan kesetiaan pada istri dan anaknya. Tetapi tak juga ada kabar. Pernah Ia menitipkan surat pada tetangga yang pulang kekampung, ketika menjemput keluarganya yang tersisa ke kota. Ia menitipkan surat untuk istrinya. Tapi kabar tak juga kunjung datang, ucapan titip salam pun tak ada. Setiap kali ada yang pulang, ia tanyakan, tak juga temui jawab.

Terakhir kali Ia kirim surat dengan nada berharap dapat kabar, tapi sia-sia. Apakah tak sampai atau istrinya lupa, juga tak jelas. Sebab mereka yang pernah membawa titipan surat untuk keluarganya. Tak pernah kembali lagi.

Sering kali Ia juga bergumam pada dirinya sendiri, mungkin itu pelampiasan dari rasa sepinya. ?Ada alasan penting kenapa aku tak ikut ke kota bersama kalian. Biarpun di tanah ini tinggal aku sendiri tak juga aku akan beranjak meninggalkan rumah ini. Walaupun sedikit miring sebab lama tak ada perbaikan atau catnya yang cepat pudar, aku tak akan bergeming. Ini adalah tanah kelahiran yang harus di jaga bukan di tinggal. Kesepianku adalah diriku kini tidak esok hari, tepatnya ketika pagi membentangkan layarnya?.

Berlahan-lahan gumpalan awan hitam merayap menutup matahari kemerah-merehan di ujung barat. Serupa malam gelam pekat, senja hanyalah waktu bukan suasana dengan keremangan matahari pulang berganti malam. Rumah yang sedikt bocor di kamar dan balai tamu Ia beranjak masuk mencari wadah untuk menutup air yang masuk agar tak menyentuh tanah dan tertampung dalam wadah yang Ia punya. Kadang ember yang sudah tak rata, atas nya pecah atau panci yang tak utuh bentuknya sebab sudah tua umurnya setua anaknya yang kini ber umur dua puluh delapan tahun.

Semakin senyap saja waktu malam, hujan semakin deras. Ia bahagia sebab esok siang tak harus kekebun, alam berpihak padanya. Menggantikannya menyirami ladang yang Ia punya.

Lelap sudah tak ada mata terbuka, istirahat malam esok pagi harus bekerja. Wadah-wadah yang dibuat menahan air hujan rupanya sudah penuh dan tak ada lagi suara gemelitik di atas genting rumah yang tua. Katak-katak mulai menyiapkan diri mengalunkan musik dari kantong mulutnya menambah syahdu berjalannya malam. Saut-bersautan di sela-selanya satu sama lain tak ketinggalan jangkring pun membangun nada harmoni malam. Serta di ketukan yang kesekian tetes air dari pepohan mengatur ketukan sisa-sisa hujan. Hingga suara penutup ayam berkokok yang Ia punya menandai mentari akan datang menyapa rerumputan dan mengusir embun pulang.

Bersiaplah Ia membersihkan diri untuk pergi mengabdi. Sepi di wajahnya tak tampak, mungkin Ia menyembunyikan rahasia paginya. Sebab gumamnya tak selesai tentang rahasia pagi yang Ia punya. Diambilah tas yang sudah tua. Setua umurnya, rapi bersepatu Ia kayuh sepeda bututnya serupa lagu Iwan Fals Omar Bakri sering kali Ia dengar dari tape-tape tetangga kampung tempat bekerjanya.

Sungguh mulia Ia bekerja membagikan ilmunya walau ia tak mengeyam pendidikan tinggi. Beruntung saja Ia lulus dengan rangking yang selalu satu Ia dapatkan di sekolah yang sama. Dari situlah Ia di minta tolong mengajar ketia usianya remaja. Pada awalnya Ia hanya berladang. Bagi dirinya adalah nasib baik, menjadi pahlawan tanpa tanda jasa.

Tak banyak berubah sekolah dimana Ia bekerja, hanya kadang ketika pejabat pemerintah datang satu dua tembok dicatnya agar tak terlihat malu di hadapan para pengusa wilayah. Padahal itu harus memotong angaran-anggaran yang lain. Terkadang bantuan ala kadarnya datang dari Kepala Camat, tapi di simpan untuk membeli peralatan sekolah atau bahkan membelikan kebutuhan sekolah murid-muridnya. Tak banyak murid-muridnya sebab ada yang masuk ada yang keluar. Dan beberapa terpaksa pindah ketika anggota keluarganya pergi ke kota juga. Tak jauh beda dengan kampung sebelah dimana Ia tinggal.

Ia merangkap beberapa pelajaran, kadang Bahasa Indonesia, Bahasa Jawa, Ilmu pengetahuan Alam, Ilmu Pengetahuan Sosial ataupun Agama. Tak banyak Guru yang dipunyai sekolah dasar tersebut. Kepala Sekolah dan empat guru lainnya. Kepala sekolahpun jarang datang, sebab lebih memilih kerja berdagang dari pada mengajar. Ia sering kali mengantikan peran Kepala Sekolah untuk bertemu orang tua wali dari murid-murid sekolah tersebut bahkan undangan pertemuan sekolah di kantor dinas pendidikan yang jauh jaraknya Ia tempuh dengan sepeda ontelnya sering kali dilakukan.

Tamatan pendidikan sekolah dasar tak membuatnya malu untuk bertemu mereka yang lulusan Sekolah Menengah Atas ataupun Sarjana. Ia percaya diri dengan kemampuannya. Ketika rapat dengan para kepala sekolah dan para pegawai dinas, tak jarang Ia berharap mendapat perhatiaan. Bukan padanya, tetapi sekolah dasar tempat Ia mengajar. Perhatian khusus dari pemerintahan yang berwenang. Tetapi hasilnya nihil. Sebab tak sampai kuota yang di tentukan aturan pemerintah murid yang belajar di tempat tersebut.

Harusnya di tutup tiga tahun yang lalu, sejak berita besar berkumandang bahwa pergi ke kota akan menjadi lebih baik. Pekerjaan, pendapatan, kesejahteraan, serta sekolah yang lebih baik buat anak-anaknya. Ia menyadari akan ada gelombang besar-besaran urbanisasi di kampungnya dan kampung tempat Ia mengajar. Sebelum semua terjadi pernah Ia berujar pada murid-muridnya ?Di kota, memang enak. Tapi bagi kalian akan kehilangan tempat bermain, tempat main bola, sawah-sawah yang hijau, kalian akan lupa belajar? Entah dari mana ujaran itu di dapatkan. Mungkin saja dari berita yang di lihat ketika menghadiri rapat di kecamatan, tentang kota yang di beritakan.

Kini muridnya tinggal dua orang, tetangganya tinggal satu orang. Ia tak pernah lagi permengajar. Ia tak pernah lagi betandang ke rumah tetangga. Murid yang tinggal dua Ia suruhnya untuk pergi ke rumahnya saja. Kebetulan dua muridnya adalah anak tetangganya sekampung.

Tak ada kabar, tak ada berita tentang orang-orang yang pergi ke kota. Termasuk keluarganya, sawah, kebun, rumah, kesehariannya hanya itu lintasan kaki. Pada hari yang kesekian, entah apa nama hari dan berapa tanggal waktu itu. Tetangganya membawa tas besar dan anak-anaknya mendekat memberi salam. Ia tetegun, diam, tak ada kata, bahkan hurufpun tak keluar dari mulutnya. Hanya bibir yang sedikit menua mengecup tangan anak-anak tetangganya. Sambil tersenyum getir, Ia mengantar jalan tetangganya meninggalkan kampung halaman yang Ia diami. Kembali Ia panggul kapak, yang di bawahnya tadi. Ini lain, Ia tak pergi ke sawah, kebun atau ladang. Jalannya semakin kencang, kadang kalau lelah, kapaknya diseretnya. Terlihat ada garis panjang dari bekasnya.

?Nah, sekarang sudah tidak berguna lagi. Baiknya aku hancurkan saja? Sambil berteriak menghadap bangunan tua yang terbuat dari kayu sedikit lapuk. Ia, menuju bagian samping yang biasa digunakan tempat sembayang. ?Tuhan, tidak akan melindungimu? Kalimat itu dibisikkan tepat di pintu. ?Prak… prak..prak..kret..kriet… bruk?. Mudah sekali Ia melakukannya. Kini langkahnya Ia tujukan pada halaman depan. Tertulis Sekolah Dasar II yang sedikit memudar catnya. Ia merunduk, kapaknya lepas dari tangannya. Entah kenapa ini terjadi. Terlihat kakinya melemah, terjatuh bersimpuh dan berkata ?Tuhan, aku pasrah?. Tak ada lagi suara, sepi. Tanah kelahiran menjadi makamnya sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *