Kunci Keberhasilan Bangsa Jepang

Judul: Rahasia Bisnis Orang Jepang
Penulis: Ann Wan Seng
Penerbit: Hikmah (PT Mizan Publika)
Cetakan: Pertama, April 2007
Tebal: 302 halaman
Peresensi: Muhammad Ali
http://suaramerdeka.com/

SETELAH bom atom Amerika menghunjam jantung kota Jepang pada 1945, semua pakar ekonomi saat itu memastikan negeri ini akan segera mengalami kebangkrutan. Namun dalam kurun waktu kurang dari 20 tahun, Jepang ternyata mampu bangkit kembali, dan bahkan menyaingi perekonomian negara yang menyerangnya, Amerika.

Kemampuan negeri Sakura bangkit dari reruntuhan akibat perang dan kehancuran rekonomi dianggap sebagai sebuah keajaiban. Namun, semuanya itu diraih berkat hasil kerja dan usaha keras rakyatnya untuk memulihkan kembali harga diri bangsa dan negara yang telah tercemar.

Ann Wan Seng, sosiolog asal Malaysia, lewat buku ini menyingkap gaya hidup, semangat kerja, dan prinsip orang Jepang yang membuahkan hasil mengagumkan di bidang ekonomi.

Mereka dikenal sebagai bangsa yang memiliki semangat pantang menyerah dan sulit menerima kekalahan. Bagi mereka, lebih baik mati dari pada menjadi bangsa yang dihina. Zaman dahulu, ksatria Jepang yang dikenal dengan sebutan samurai akan melakukan harakiri atu bunuh diri dengan menusukkan pedang ke bagian perut jika kalah dalam pertarungan. Hal ini memperlihatkan usaha mereka menebus kembali harga diri yang hilang akibat kalah dalam pertarungan.

Semangat samurai itu masih kuat tertanam dalam sanubari mereka. Namun saat ini harakiri tidak lagi dilakukan, semangat dan disiplin samurai tersebut sekarang digunakan untuk membangun kembali ekonomi yang runtuh.

Etos Kerja

Orang Jepang juga dikenal sebagai bangsa yang kuat bekerja. Bagi mereka, bekerja merupakan segala-galanya. Lelaki yang bekerja keras menjadi kebanggaan istri dan seluruh keluarga. Bekerja sampai malam sudah menjadi kebiasaan. Sebaliknya, akan menjadi masalah yang luar biasa bila seseorang pulang lebih awal ke rumah. Ia akan mendapatkan berbagai kecurigaan negatif, seperti akan dipecat, sakit, atau malas bekerja.

Pada saat para pekerja di negara-negara Eropa Barat dan AS mengalami penurunan produktivitas, para pekerja Jepang menunjukkan prestasi yang cukup mengagumkan. Pada 1975, setiap sembilan hari, seorang pekerja di Jepang menghasilkan sebuah mobil senilai seribu poundsterling. Padahal, pekerja di perusahaan Leyland Motors, Inggris, memerlukan waktu empat puluh tujuh hari untuk menghasilkan sebuah mobil bernilai sama.

Kecekatan, keahlian dan kecepatan pekerja-pekerjanya jelas melebihi pekerja di negara mana pun. Karena itu , tidak mengherankan jika bangsa ini dapat pulih dan membangun kembali negaranya dengan cepat , walaupun seluruh sendi perekonomiannya lumpuh setelah dikalahkan Sekutu yang dipimpin AS dalam Perang Dunia II.

Seorang pekerja Jepang rata-rata dapat melakukan pekerjaan yang seharusnya dilakukan lima sampai enam orang. Di Indonesia, untuk memperbaiki jalan kampung yang rusak mungkin diperlukan lima belas orang, mulai dari pihak yang menerima pengaduan, memberi arahan, yang mengangkat peralatan, pemandu, hingga yang mengerjakan perbaikan jalan. Di Jepang, pekerjaan itu dapat dilakukan oleh tiga orang saja.

Bangga pada Organisasi

Biasanya, seseorang memperkenalkan diri berdasarkan identitas negara atau keturunannya. Namun bangsa Jepang lebih suka mengaitkan diri mereka sebagai anggota organisasi dan perkumpulan tempat ia berkarya.

Menurut mereka, kesuksesan sebuah organisasi tidak boleh dianggap sebagai kesuksesan individu, tetapi sebagai hasil kerja sama kelompok. Setiap anggota, baik tingkat bawah, tengah, maupun atas, memiliki peran dan kepentingan yang sama.

Semangat inilah yang menjadi tonggak utama kekuatan organisasi perdagangan bangsa Jepang. Mereka bangga bila dapat mencurahkan kesetiaannya pada organisasi.

Hal lain yang dimiliki bangsa Jepang adalah tidak suka pemborosan. Mereka memanfaatkan waktu dan sumber daya alam dengan sebaik-baiknya. Semuanya digunakan secara maksimal dengan tahapan yang maksimal pula. Coba bayangkan, mereka menanam padi di halaman rumah mereka dan tidak menyia-nyiakan sejengkal tanah pun tanpa menghasilkan sesuatu. Selain itu, keadaan negara yang sedemikian rupa mendorong bangsa ini untuk menggunakan sumber yang sedikit untuk mendapatkan hasil yang banyak.

Orang Jepang lebih suka menggunakan angkutan umum daripada kendaraan pribadi. Saat berada di dalam bus ataupun kereta api, mereka menggunakan waktu luang itu untuk membaca.

Hal ini berbeda dari para pekerja di Indonesia yang lebih suka membuang, mencuri, dan melewati waktu dengan sia-sia tanpa aktivitas yang bermanfaat.

Tak mudah menyesuaikan diri dengan kehidupan di Jepang. Bagi mereka yang baru kali pertama ke negeri ini, mungkin akan mengalami goncangan budaya. Cara hidup bangsa Jepang berbeda dari bangsa Asia lain. Mereka senantiasa bergerak gesit dan berjalan cepat, mengejar waktu. Kehidupan di Jepang serbacepat dan tidak ada istilah lamban dalam kamus kehidupan mereka.

Salah satu keistimewaan bangsa Jepang adalah kuatnya memegang tradisi. Kemajuan di bidang teknologi dan informasi tidak mengubah sedikit pun cara hidup rakyatnya. Meskipun dikenal sebagai salah satu negara paling maju di dunia, rakyatnya masih berpegang teguh pada tradisi. Nilai-nilai tradisional masih dapat dilihat dari sikap, cara berpikir, bekerja, perpakaian, berbahasa, dan jenis makanan mereka.

Buku ini tak sekadar membeberkan rahasia bisnis orang Jepang tetapi juga sekaligus memberi inspirasi bagi kita yang mau berubah. Bahwa untuk bisa maju, kita harus mempunyai semangat juang yang tinggi, etos kerja yang kuat, tidak boros, memanfaatkan waktu dan sumber daya sebaik-baiknya.

Kalau pembaca menemukan adanya materi-materi yang sama dalam pembahasan di beberapa bab yang berbeda, hal itu bisa dimaklumi, mengingat buku ini disusun dari artikel-artikel ekonomi lepas yang sudah pernah dipublikasikan di berbagai media yang terbit di Malaysia.

Di samping buku ini, Ann Wan Seng juga telah menulis buku “Rahasia Bisnis Orang Cina”, yang juga diterbitkan oleh Penerbit Hikmah, pada awal tahun 2007.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *