Let’s

Judul: Pesona “Barat”, Analisa Kritis-Historis Tentang Kesadaran Warna Kulit di Indonesia
Pengarang: Vissia Ita Yulianto
Penerbit: Jalasutra
Cetakan: Pertama, 2007
Tebal: 168 hal + xvii
Peresensi: Isma Savitri
http://suaramerdeka.com/

IKLAN produk kecantikan kini makin gencar mempromosikan keelokan kulit putih yang dianggap membawa nilai-nilai “kebaikan” seperti bersih, suci, indah, layak kulit para bangsawan atau priaayi kerajaan.

Oleh Vissia, kulit putih juga membawa nilai lain, yaitu ujud keterpesonaan kita akan dunia Barat yang diasosiasikan dengan dunia modern yang serbamaju – –entah itu canggih dalam penguasaan teknologi, ilmu pengetahuan, maupun kepemilikan mereka atas kulit putih dan mata biru yang dipandang lebih unggul secara rasial dibandingkan mereka yang berkulit gelap.

Anggapan bahwa ras kulit putih (kita menyebutnya bule) lebih segala-galanya dibandingkan yang tidak (atau belum) putih merupakan ajaran teori Darwinisme, yang menyebut bahwa ras kulit putih adalah ras yang superior dan identik membawa “gen baik”. Itulah mengapa, yang bukan “putih” sering merasa inferior, “kalah”, dan merasa bahwa diri mereka harus dipurifikasi agar setara atau sederajat dengan mereka yang putih alami.

Ide purifikasi inilah yang menghantui benak banyak masyarakat Indonesia, terutama perempuan. Mengapa perempuan, latar belakangnya tentu masalah identifikasi dan stereotipifikasi bahwa perempuan haruslah memiliki paras yang elok dan tidak boleh berkulit gelap.

Ini bisa dilihat dari banyak iklan produk kosmetik pemutih yang menggunakan perempuan sebagai model sekaligus sasaran produk mereka. Perempuan kini diseragamkan untuk menganut ideologi darwinisme, dengan mengedepankan jargon “Let’s ‘white’ and see!”.

Jargon ini menekankan penting dan hebatnya memiliki kulit putih. Dengan memiliki kulit putih, maka kesempatan dipercaya akan datang lebih banyak dibandingkan mereka yang berkulit gelap. Maka iklan produk pemutih berujar, “Hai perempuan Indonesia yang berkulit sawo matang! Pakailah produk kami, maka kamu akan percaya diri karena semua perhatian orang akan tertuju padamu!”.

Interpelasi atau panggilan inilah yang tiba-tiba menimbulkan ketakutan di benak perempuan Indonesia apabila tidak mengikuti ideologi darwinisme. Ada perasaan minder, inferior, malu, bahkan “kotor”, jika kulitnya tampak lebih gelap dibandingkan perempuan berkulit putih.

Banyak perempuan yang akhirnya mejadi terobsesi pada ke-“putih”-an. Menjadi putih adalah menjadi beradab, menjadi modern, dan menjadi ke-“barat-barat”-an. Barat menjadi simbol modernitas, lengkap dengan atribut positif yang melekat. Adapun Timur diidentifikasi dekat dengan- seperti sebutan Edward Said- orientalisme, yang identik dengan keterbelakangan, jauh dari peradaban, serta primitif.

Internalisasi ide bahwa putih itu baik, menurut Vissia disebabkan oleh persuasi yang amat gencar dari berbagai produk pemutih, dan diperkuat oleh televisi yang mendewakan dan sering menampilkan aktor ataupun aktris berwajah campuran (indo), sehingga kita pun makin sensitif dengan whiteness.

Sensitivitas ini (halaman 6), tidak terbatas pada karakter-karakter atau hal-hal yang bersifat fisik seperti warna kulit, bentuk hidung, bibir, warna rambut, postur tubuh, dan sejenisnya, namun justru terletak pada nilai-nilai yang tidak tampak (invisible norms).

Hal ini dibenarkan oleh Franzt Fanon, yang menyebut “putih” sebagai norma-norma yang tidak terlihat, bukan sebagai hal mengenai warna kulit (halaman 9). Adapun teoretikus lain seperti Richard Dyer, John Fiske, John Gabriel, dan Allen, menganggap bahwa “whiteness” sebagai inti dari politik rasis Barat pada abad dua puluh.

Dekonstruksi

Dalam buku ini, Vissia memaparkan bagaimana awal mula terjadi dekonstruksi warna kulit di Indonesia khususnya, mulai dari asumsi yang mengatakan bahwa kulit indah adalah kulit bangsawan keraton yang kuning langsat, hingga pengaruh global yang menekankan bahwa kulit putih adalah segalanya.

Vissia berpendapat, bahwa terjadinya dekonstruksi itu disebabkan oleh perasaan inferior yang dimiliki oleh bangsa Indonesia sebagai bekas jajahan Barat, yang masih ada hingga kini. Oleh Vissia, perasaan rendah diri ini disebut dengan mentalitas inlander.

Mentalitas inlander ini adalah segala pemikiran, konsep, dan perasaan rendah diri- termasuk mengikuti dan mengadopsi nilai-nilai Barat –yang dihidupi oleh orang Indonesia terhadap apa pun yang ada sangkut pautnya dengan bangsa lain dan menganggap apa pun yang melekat pada bangsa lain tersebut lebih superior dibanding dengan yang melekat pada bangsa sendiri (halaman 69).

Ketertarikan dan kekaguman akan superioritas Barat kontemporer berbentuk kesadaran, bahwa warna kulit yang indah dan yang superior adalah kulit putih. KArena itu bisa dikatakan, perilaku menginginkan kulit putih tersebut adalah salah satu ekspresi dan keterpesonaan mereka terhadap Barat (halaman 6).

Kekaguman terhadap keindahan warna kulit bule yang putih, juga dialami oleh presiden pertama Indonesia, Soekarno. Diambilnya Soekarno oleh Vissia sebagai contoh tokoh termasuk menarik. Karena meski Soekarno seorang yang antimentalitas inlander dan antiimperialisme, namun ia juga tak mampu menutupi ketertarikannya pada fisik para perempuan bule.

Menurut Soekarno, dengan cara mengencani perempuan bule, setidaknya ia mampu menunjukkan keunggulannya dari ras kulit putih. Ia mengangap, orang Indonesia yang berkulit sawo matang sepertinya akan memperoleh kebanggaan jika dapat menguasai dan membuat perempuan-perempuan bule tergila-gila padanya. Hal itu juga merupakan cara ala Soekarno untuk mengunci perasaan inferior terhadap Barat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *