Mimpi Sukarti

Yessie
http://oase.kompas.com/

Waktu kecil sebenarnya Sukarti bercita-cita jadi guru, tapi mimpinya itu kemudian harus kandas, Sukarti terpaksa tidak melanjutkan sekolah karena tidak ada biaya. Dulu dia kerap mengatakan kepada ibunya kalau dia ingin sekali menjadi seperti Ibu Rukiah, gurunya di sekolah dasar dulu. Ibunya selalu mendukung dan memberi harapan kalau Sukarti rajin belajar, maka suatu hari dia pasti dapat menggapai cita-citanya. Tapi semuanya hanya tinggal mimpi, Sukarti pun diam-diam memiliki mimpi yang lain, menjadi TKW seperti gadis-gadis di desanya. Kehidupan keluarga mereka lebih baik setelah bekerja di luar negeri. Walau ada beberapa yang bernasib buruk, Sukarti tidak takut dan bertekad mimpinya ini harus tercapai.

Sukarti memasuki sekolah dasar pada saat umurnya hampir sembilan tahun, waktu itu di desanya baru ada sebuah SD Inpres. Selama bersekolah Sukarti memang termasuk anak yang rajin belajar, tapi sayang kemampuan otaknya sangat terbatas. Selama SD Sukarti tercatat dua kali tinggal kelas, dan bisa membaca waktu kelas empat. Tapi Sukarti tetap bersemangat walau keadaan ekonomi keluarganya juga tidak mendukung. Bapak dan Ibu Sukarti hanya buruh tani dengan tujuh orang anak, dan Sukarti adalah anak keempat dari tujuh saudaranya. Tapi Sukarti bersikeras untuk melanjut ke SMP, waktu itu sebuah SMP negeri juga sudah dua tahun berdiri di desanya. Ibu Sukarti yang tau tentang mimpi anaknya untuk menjadi seorang guru itu pun mendukung anaknya. Akhirnya Sukarti pun melanjut ke SMP, waktu itu usianya sudah menjelang limabelas tahun. Tapi Sukarti harus puas dengan ijazah SMP nya, karena tidak ada biaya untuk melanjutkan ke SMA.

Berbekal ijazah SMP Sukarti sudah membulatkan hati untuk berangkat menjadi TKW, beberapa tetangga yang bercerita tentang keberhasilan anak mereka membuat tekad Sukarti semakin bulat. Dan ketika Sukarti menyampaikan maksudnya kepada Joko ? kekasihnya, laki-laki itu pun setuju bahkan berniat untuk ikut berangkat bersama Sukarti. Laki-laki desa tetangga yang bekerja di kilang padi Pak Carik ternyata juga ingin merubah nasib keluarganya. Sukarti dan Joko sudah hampir setahun ini memadu kasih, orangtua Sukarti sudah mengenal Joko. Bahkan bapak Sukarti menganjurkan mereka untuk segera menikah setelah Sukarti tamat SMP.

?Kita akan menikah sepulang dari sana, kita akan mengumpulkan uang yang banyak dan membahagiakan orangtua kita,? begitu kata Joko, membuat hari Sukarti berbunga-bunga.
?Iya, mas. Makanya, kita harus cepat-cepat cari informasi.? Sukarti sangat bersemangat.

Setiap hari Rabu biasanya Joko ikut ke kota, berbelanja bersama Pak Carik. Joko memang orang kepercayaan Pak Carik, karena selain sudah lama bekerja padanya, Joko juga seorang laki-laki yang baik, jujur dan sopan. Pada saat itulah Joko mencoba bertanya kepada Pak Carik, karena selain punya banyak kenalan di kota, salah seorang anak Pak carik juga sudah berangkat menjadi TKW dua tahun yang lalu. Joko sangat yakin, Pak Carik bisa memberikan informasi yang dicarinya.

Sepulang dari kota Joko langsung menemui Sukarti dan menyampaikan informasi yang sudah diterimanya dari sumber yang sangat dipercaya. Siang tadi sebelum pulang, pak carik mengajak Joko ke tempat seorang temannya yang mengurusi keberangkatan TKW.

Joko dan Sukarti sangat bersemangat karena ternyata mereka bisa dikirim bekerja ke negara tetangga. Mereka hanya perlu membayar sejumlah uang, maka seluruh proses keberangkatan akan ditangani pihak penyelenggara. Tekad Joko dan Sukarti sudah bulat. Mereka akan berangkat dan berjanji sepulang dari sana nanti mereka akan menikah.

?Dari mana kita dapat uang segitu, nak. Untuk makan saja kita udah ngos-ngos-an. Kalau ada duit segitu juga Ibu udah bisa dagang.? Begitu kata ibunya waktu Sukati mengutarakan maksudnya.

?Bu, ini kesempatan. Kalau sudah bekerja kan Karti bisa ngumpulin duit, Bapak dan Ibu kan sudah tua, mas Gino, mbak Parni dan mbak Juminten kan tidak mungkin bisa bantu ibu. Keluarga mereka aja kekurangan. Adik-adik juga harus sekolah, mereka pasti butuh biaya yang besar. Ini kesempatan merubah hidup kita, bu. Sampai kapan kita hidup seperti ini. Mas Joko juga ikut bu, dan kami berencana akan menikah sepulang dari sana.?

?Lha terus mau dapat duit darimana? Mau jual nggak ada yang bisa dijual, mau ngutang sama rentenir, mana ada yang mau minjemin duit sama orang miskin seperti kita. Sudahlah, nak. Buang mimpimu itu jauh-jauh, lagi pula bapakmu pasti nggak setuju kamu berangkat ke luar negeri. Kita jalani aja hidup seperti ini, dari dulu juga sudah begini.?

Sukarti pun hanya bisa mendesah kecewa, tetapi ternyata Joko mempunyai kabar baik untuknya. Sukarti pun kembali menghadap ibunya, kali ini juga ada bapaknya.

?Bu, ternyata kalau ndak ada duit segitu juga ndak apa-apa. Karti bisa tetap berangkat, nanti bayarnya dipotong dari gaji Karti setiap bulan.? Karti sangat bersemangat menyampaikan pada kedua orangtuanya.

Ibu Sukarti hanya diam dan menatap suaminya, kemarin dia sudah menceritakan maksud kepergian Sukarti.

?Bapak ndak setuju kamu berangkat! Sudahlah Sukarti, jangan macem-macem. Ngapain kamu jauh-jauh kerja ke luar negeri. Kamu menikah saja, ingat umurmu sudah berapa.? Cerita tentang nasib buruk para TKW yang sering didengarnya membuat laki-laki tua itu menolak mentah-mentah rencana Sukarti.

?Tapi ini juga demi keluarga kita, pak. Mas Joko juga ikut berangkat kesana, dan kami bermaksud menikah sepulang dari sana. Setelah dua tahun bekerja di sana kami pasti punya uang yang banyak.?

?Tidak. Bapak ndak setuju, pokoknya kamu tidak boleh pergi. Kalau Joko memang mau pergi biarkan dia pergi sendiri.?
?Tolong ijinkan saya pak. Ini demi mimpi dan masa depan saya.?
?Kamu dengar sekali lagi, kamu ndak boleh pergi.?

Keputusan orangtuanya sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat. Sukarti pun akhirnya menyerah dan hanya bisa menangis kecewa, Sukarti tidak mungkin melawan orangtuanya. Sukarti tidak berani, takut kualat. Dan Sukarti pun kembali hanya bisa pasrah pada nasib. Mimpi bekerja di luar negeri dengan gaji besar pun akhirnya sirna, mimpi untuk bisa merubah kehidupan keluarganya pun hilang sudah, Sukarti benar-benar kecewa.

Keesokan harinya Sukarti pun bermaksud menemui Joko kekasihnya, untuk menyampaikan berita buruk tentang gagalnya rencana mereka. Tapi berita yang didapat Sukarti ternyata tidak kalah buruknya . Joko kepincut anak gadis pak carik yang baru pulang dari negeri tetangga. Setelah dua tahun menjadi pembantu rumah tangga di negera tetangga, Ijah memilih tidak melanjutkan kontrak dan pulang ke kampung halamannya. Entah bagaimana awalnya, Joko dan Ijah kepergok sedang berduaan di kamar Ijah. Dan mereka pun harus dinikahkan, Joko tidak bisa menolak. Dan dengan terpaksa harus meninggalkan Sukarti.

Patah hati ditinggal kawin Joko yang sangat dicintainya, Sukarti pun semakin mantap untuk berangkat ke luar negeri walau tanpa Joko. Kebetulan sekali, Sumirah tetangganya juga bermaksud ikut berangkat. Sukarti pun kembali menemui kedua orangtuanya.

?Kamu itu dibilangin kok bandel. Pokoknya bapak dan ibu ndak setuju.?
?Pak, tolong saya pak. Saya juga ngak tahan lagi lama-lama di desa ini. Mas Joko juga akan menikah dengan anak pak carik. Saya ndak kuat, pak. Biarkan saya pergi, saya ingin merubah nasib pak. Sampai kapan kita harus seperti ini.?
?Kenapa kalau Joko menikah? Memangnya ndak ada laki-laki lain? Pokoknya kamu ndak boleh pergi. Apa kamu mau mati disana? Sukiyah, anak Pak Mahmud saja sebentar lagi dihukum mati di sana. Kamu mau bernasib sama seperti mereka??

Sukarti pun frustasi dan sakit hati, bagai sudah jatuh ketimpa tangga kenyataan yang harus dihadapinya membuatnya merasa hidup ini sudah tidak berarti lagi. Sukarti pun masuk ke kamar dan merenungi nasibnya sambil tiduran di atas dipan. Sukarti menangis, menyesali hidup yang sangat menyakitkan baginya.

Sore harinya Sukarti ditemukan sudah mati, gantung diri.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *