Neruda dan Penantianku Ketika Hujan Berlabuh

Denny Mizhar

Lalu kusentuh hati yang gugur, ketika hujan:
di sana aku tahu itu matamu yang menembusku,
ke pedalaman dukaku yang maha luas,
dan hanya sebuah bisikan bebayang nampak.

Sampailah aku pada soneta LXX dari buku CIUMAN HUJAN: seratus soneta cinta Karya Pablo Nerudah yang disulih oleh Tia Setiadi (penebit Madah, 2009) terhenti aku seketika membaca satu bait itu. pada kenangan seketika menyelinap menyapa.

Dia yang lama pergi meninggalkan aku dalam kesepian dan tak pernah kembali, walau hanya sekedar kasih kabar pun tidak. Tetapi ketika hujan turun, bayangannya ada di antara jatuhnya air hujan. Entah kenapa pula setiap kali hujan datang, rasa sepiku juga datang. Pernah suatu waktu, saking rindu padanya, aku membiarkan tubuhku basah oleh hujan yang berjam-jam lamanya. Hingga tubuhku jadi menggigil, kaku, tak dapat merasa. Itulah paling baik keadaan yang aku rasakan dari pada hanya memandang hujan.

Mungkin saja bawah sadarku selalu menyatuh dengan kepergiannya, ketika saat itu hujan turun dengan lebat dan aku tak bisa menahan, atau mungkin Tuhan memberi isyarat lain atas cintaku padanya. Sebelumnya aku juga punya kenangan, antara buku, hujan, payung.

Aku membuka ulang buku Neruda. Sebab merasa ada soneta yang persis dengan keadaanku. Tepatnya ada pada soneta LXIV. Baiknya aku baca ulang:

Matilde di manakah engkau? Menurun di sana kulihat
di bawah dasiku dan sedikit di atas hati
kesakitan tertentu yang tiba-tiba datang di antara iga,
kau pergi begitu lekas.

Aku butuh cahaya dari energimu
aku mencari berkeliling, patah harap.
Aku mencermati kehampaan tanpamu bagai sebuah rumah,
yang tak berisi apapun kecuali jendela-jendela merana.

Lepas dari kesenyapan yang terjal atap itu mendengar
pada guguran hujan purba yang tak berdaun,
pada bulu-bulu, pada apapun yang ditawan malam:

Maka aku menunggu seperti sebuah rumah yang sepi
hingga kau akan memandangku kembali dan mungkin dalam diriku.
Sebelum itu jendela-jendelaku bermuram durja.

Kepergiannya yang begitu cepat, secepat layu kembang mawar yang aku berikan padanya. Padahal waktu itu aku membutuhkan seorang yang dapat memberi tempat tubuhku bersandar, berbagi renungan atas buku-buku seusai terbaca, berbagi resah tentang kota yang hilang sejarahnya karena penguasa semena-mena. Seperti juga Neruda resah tentang rakyat Kuba ?Hai Kuba! Rakyatmu bergantung akan kesabaran akan cahaya bintang di sana? (Nyanyian Revolusi, Jalasutra 2001). Kerena juga Kuba yang penuh dengan penderitaan waktu itu, persis dengan Kota kita, kemiskinan masih dimana-mana, kebodohan masih banyak dipelihara dan segalanya berjalan dengan kesenangan. Aku suka sekali membaca Neruda waktu dia masih sering bersamaku. Dan aku menutup dengan epik-epik Neruda ?Sekarang ku buka mata dan teringat: pahit dan ajaibnya sejarah Kuba berkilau dan suram, elektrik dan gelap, dengan eforia dan menjadi penderitaan-penderitaan?.(Nyanyian Revolus, Jalasutra 2001).

Ah, betapa hambarnya hatiku kini.Dia tak pernah kembali, padahal lama penantian kian menepi pada keputusasaan yang dalam. Mungkinkah dia sedang berteduh di bawah payung lain (mungkin saja), dia dulu sering malu untuk berbicara apa adanya. Hanya sekali pernah bercerita tentang: penantian. Itupun seperti kayu yang patah dalam kisahnya yang tak sempurna.

Kini hanya ada Neruda serta Sonetanya dan hujan setiap hari membasahi di ujung jari-jari kakiku. Hingga langkah hanya dapat memanah penderitaan diri, serupa penderitaan rakyat Kotaku, berkali-kali menanti kesejahtraan, tak juga datang, serupa aku yang menantinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *