Penampilan yang Menguras Energi

A.S. Laksana*
http://www.jawapos.com/

KEPADA Anda, para pemetik hikmah, saya mengucapkan selamat karena Anda pasti selalu bisa merayakan panen dalam menghadapi setiap kejadian –apa pun kejadian itu. Dalam kasus Century, misalnya, Anda bisa memanen banyak hikmah di sana.

Pertama, Presiden SBY setelah ditunggu sekian waktu, akhirnya menyatakan bertanggung jawab dan ia membela Wakil Presiden Boediono dan Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam kebijakan penalangan Bank Century. Memang kita tidak bisa mengetahui secara jelas apa yang dipertanggungjawabkannya dan sampai di tingkat mana pertanggungjawaban itu. Namun, setidaknya presiden menyatakan bertanggung jawab. Penting bagi Anda memiliki presiden yang bisa bertanggung jawab. Sebaliknya, Anda bisa keleleran jika negeri ini memiliki presiden yang tidak bertanggung jawab.

Kedua, kita tahu bahwa ternyata begitulah cara para politisi berkoalisi. Mereka minta hak untuk bersuara keras demi menjaga agar tampak gigih memegang prinsip, tetapi kalau bisa janganlah menteri-menteri dari partai mereka digusur.

Ketiga, Ketua DPR Marzuki Alie suka memain-mainkan palu seenak sendiri. Ia sedikit mirip dengan Thor, dewa petir bangsa Skandinavia, yang bersenjatakan palu dan suka mengayun-ayunkan palunya pada waktu mabuk.

Keempat, kita menjadi tahu bahwa pengguyuran dana Rp 6,7 triliun untuk Bank Century dilakukan bertahap sebanyak 23 kali dalam waktu kurang lebih delapan bulan. Meskipun menurut Pak Jusuf Kalla, Bu Mul mengakui bahwa dirinya terjebak dalam kasus ini, tetapi faktanya pengguyuran itu tetap dilakukan. Kalau Pak JK benar, saya kira jebakan itu sedemikian hebatnya sehingga orang yang merasa terjebak bisa menyetujui pengguyuran sepanjang 23 tahap.

Kelima, meskipun presiden menyatakan bertanggung jawab dan membenarkan kebijakan KSSK, tetapi tetap tidak ada pertanggungjawaban kepada publik ke mana saja dana talangan itu mengalir setelah diberikan kepada Bank Century. Di Amerika Serikat, perusahaan asuransi raksasa AIG membuat pengakuan untuk apa saja dana talangan dari pemerintah sebesar 180 miliar dolar disalurkan. Di antaranya untuk menutup kerugian, menyuntik sejumlah bank yang terseok-seok akibat krisis global, dan untuk memberikan bonus besar-besaran kepada para karyawannya. Yang terakhir itu membuat warga AS melakukan protes dan Obama marah atas kebijakan pembagian bonus tersebut.

Keenam, pembelaan mengambang oleh Pak Presiden kepada dua anak buahnya saya kira akan membuat para politisi Senayan semakin bersemangat mengumpulkan amunisi untuk terus mengupayakan pemakzulan. Apalagi jika menteri-menteri dari partai mereka digusur. Entah upaya itu berhasil atau tidak, saya kira prosesnya akan memakan waktu panjang dan itu akan membuat pemerintahan ini berjalan tersendat-sendat.

Ketujuh, pemerintahan SBY mengeluarkan energi yang besar sekali untuk mengurus kasus Century. Teman baik saya, sebut saja BJ, menyampaikan kepada saya kesimpulan yang sungguh tepat untuk kasus ini. Ia bilang, ”Sepanjang dua periode pemerintahan SBY, tak pernah kita mendengar atau menyaksikan pemerintah melakukan usaha untuk mereka yang masih hidup di bawah garis kemiskinan sebesar apa yang mereka lakukan sekarang untuk menyelamatkan muka dua orang saja.”

Saya pikir ia benar. Bahkan kasus lumpur Lapindo yang begitu menyengsarakan rakyat tidak pernah dipikirkan sehebat ini. Masalah pendidikan tidak pernah menjadi perbincangan sealot kasus Century di kalangan para politisi. Sepak terjang makelar kasus tidak pernah dibicarakan sesengit ini. Birokrasi yang penuh pungutan liar nyaris dianggap wajar-wajar saja. Dan, penyakit-penyakit sosial yang kita baca beritanya di media massa cetak dan internet atau kita tonton di layar televisi tidak pernah diberi perhatian seserius ini.

Tetapi kenapa dalam kasus Century pemerintah SBY begitu keras melakukan upaya apa saja untuk meredamnya? Untuk menyelamatkan muka? Saya khawatir begitulah yang terjadi. Para pengamat politik sering menyatakan bahwa SBY terlalu peduli mengenai pencitraan diri. (Maafkan bahwa pernyataan itu membawa imajinasi saya kepada seseorang yang setiap hari becermin dan melulur kulitnya atau memulas mukanya agar tampak sempurna. Pada perempuan yang terlalu peduli terhadap penampilan, misalnya, perkara sanggul saja bisa menguras kesabaran dan memakan waktu berjam-jam.)

Dengan kepedulian yang berlebihan terhadap pencitraan diri, saya merasa presiden telah menjadikan pemerintahannya tampak terlalu cengeng dan pengeluh dan serba kikuk ketika sejumlah hal ia rasakan mengganggu citra dirinya. Ia kelihatan berpikir keras hanya karena takut citra dirinya rusak. Dan kerja keras semacam itu niscaya akan melahirkan kesia-siaan bagi banyak orang.

Tentu saja itu kesimpulan jika kita membenarkan bahwa fokus SBY adalah pencitraan diri. Saya tidak bisa membaca pikiran orang, dan tentu Pak SBY tidak akan setuju pada analisis tentang citra diri itu. Namun, sejak awal saya melihat ia terlalu bekerja keras untuk urusan penampilan. Ini agak harfiah.

Mungkin ini bukan hal penting untuk dibicarakan, tetapi pernah ada satu kurun waktu ketika saya benar-benar memperhatikan pose-pose Pak Presiden di media massa. Menurut saya, setiap posenya dan bahkan sampai sekarang, adalah pose orang yang ”bekerja keras” untuk tampak luwes. Dengan kata lain, ia terlalu ”menyadari” dirinya –dan dengan demikian nyaris tidak ada spontanitas. Saya bahkan pernah menulis kolom tentang pose-pose SBY dalam pelbagai potret yang saya saksikan di koran maupun majalah. Dan ia selalu tampak kaku justru karena ”bekerja keras” untuk kelihatan luwes.

Tetapi saya tidak berspekulasi sejauh itu ketika menulis kolom tentang pose-pose SBY yang terlihat kaku di setiap kesempatan. Saya hanya menyatakan bahwa ia terlalu menyadari dirinya adalah seorang presiden dan ia menyadari sedang berhadapan dengan kamera dan menyadari gambarnya akan dilihat orang di seluruh Indonesia. Itu kesadaran yang tingkatnya sangat permukaan, saya kira.

Presiden pertama kita, Bung Karno, saya kira juga orang yang sangat menyadari penampilannya. Ia menyadari bahwa dirinya tampan ketika mengenakan peci dan memasang atribut ”balok-balok” jenderal di dadanya. Dan ia menjadi sangat percaya diri dengan penampilan seperti itu sehingga enak dipandang. Pada Pak SBY kita melihat posenya sebagai orang yang takut penampilannya keliru. Saya kira di situ keduanya agak berbeda.

Uraian ini semestinya akan lebih tepat sekiranya saya menyertakan foto-foto SBY, tetapi kalaupun saya tidak menyertakannya, akan mudah bagi Anda untuk mendapatkan foto-foto Pak Presiden di koran-koran. Sebenarnya saya hanya iseng saja dalam kolom tentang pose-pose presiden itu. Tetapi dari hal-hal permukaan yang sangat sepele itu kadang kita bisa menggali sesuatu yang tersembunyi jauh di bawah permukaan. Dan saya ingin mengasah itu terutama untuk membedah bahasa para politisi kita. Mereka terlalu seenaknya dan menganggap bahwa orang banyak adalah sekawanan onta yang bisa diberi jawaban apa saja. (*)

*) Cerpenis yang beralamat di aslaksana@yahoo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *