Percakapan Mata

Faisal Syahreza
http://www.suarakarya-online.com/

Ibu emang mau pergi kerja. Tapi tanpa lipstik dan bedak. Tanpa sebuah kemeja juga bahkan tanpa celana yang layaknya untuk kerja ke kantor. Ibu emang pegawai. Tapi aneh. Ibu tak punya kantor. Atau bisa dibilang terlalu banyak tempat ibu bekerja, hingga tak tahu persis aku di mana sih tempat ibu kerja sebenarnya. Jadwal ibu yang padat dan tak ada liburan, kecuali mungkin sakit, membuat waktu untuk mengurus aku sepertinya nol. Makanya ibu mengajak aku kerja, intinya ke mana ibu kerja aku selalu dibawa.

Dan mulai saat itulah sambil ibu kerja, ibu tak lupa mengajari aku berkata dan melafalkan kalimat padaku; minta sedekahnya, kasihanilah! Ibu sering kepanasan.

Di saat matahari terik, ibu masih kukuh berdiri. Sewaktu mobil-mobil yang berhenti di lampu merah, ibu sudah siap pasang wajah. Wajah ibu terbakar. Jadi hitam dan legam. Keningnya kerut. Pipinya rompak, tirus.

Keringatnya yang bau. Bajunya yang lusuh dan kain sarung corak batik murahan tambah debu. Kerudung ibu yang membungkus kepala tak menentu, mungkin itu hanya untuk membuatnya agar tak terlalu panas, tapi sama saja. Ngegembol tas yang butut, berisi mangkok plastik dan aqua isi air putih. Tubuh ibu makin kering. Kurus tak keurus.

Aku digendong ibu, makanya aku tahu. Jadi aku bukan sok tahu. Aku suka liat yang lain, teman-temanku, di angkutan.

Aku tahu dan aku sudah kenal mereka. Meski tak pernah kita sepakat kenalan dengan mengucapkan selayaknya orang dewasa kenalan seperti ‘boleh kenalan?’ atau ‘kenalan dong’.

Aku mengenali teman-temanku dari sorotan matanya. Ia yang mengucapkan ‘hai’. Lalu kembali aku menjawab ‘hai juga’.

Tentunya kujawab dengan tatapan mata pula. Temanku sepagi ini, mereka mau pergi sekolah dan bermain di sana. Belajar Matematika dan merangkai huruf menjadi urutan namanya.

Ibu-ibu temanku sangat berbeda dengan ibuku. Mereka memakai kalung dan cincin yang melingkar indah di leher, di pergelangan tangan dan jemarinya. Kilaunya mengingatkan aku pada bapak. Ah, terlalu sedih bila kuceritakan.

Bagaimana kilauan itu bisa mengingatkan bapak. Hanya sedikit ya aku ceritakan agar tak penasaran. Itu juga nanti ya. Ibu-ibu itu memakai baju dari butik tomodachi. Tas sopie martin. Sepatu edward forerr.

Atau donatello. Tak lupa asesoris dari factory outlet yang terkenal. Aku tak kenal jelas dan tak tahu bagaimana susunan kata merk-merk itu. Aku cukup sekadar tahu dan dengung di telingaku.

Bapak seorang pengangguran yang lama tak punya apa-apa. Bahkan katanya harga diri pun sudah hilang. Bapak sudah dianggap sampah masyarakat, aku tak pernah merasa bau bila ada kesempatan dekat bapak.

Karena bapak bukan sampah. Bapak bertemu ibu di pasar sederhana atau pasar Cimindi entah pasar Cicaheum, aku senciri tak tahu persis. Ibu hanya penjual gorengan. Yang kemudian dilamar oleh seorang jambret. Dengan mas kawin cincin hasil curi setengah gram, kemudian matilah bapak dipukuli orang-orang. Ibu menangis berjam, bahkan berhari. Ini cerita pun aku tahu dari temanku, yang agak lebih tua usianya dariku. Mereka memanggilku anak copet.

Air mata yang menetes dari ibu kini sudah habis tersedot tanah. Juga tanah miliknya ibu hilang, digusur. Dan kini menjelma menjadi gedung-gedung milik orang bule. Makanya ibu juga tidur di sepanjang jalanan kota. Mulai dari jalan Braga, Setia Budi, Antapani Astana Anyar, Cikutra, di bawah jalan layang, Alun-alun kota dan terminal-terminal. Tapi kalo aku boleh jujur aku paling senang tidur di bawah jalan layang. Malam hari dari sana terasa hangat sekali. Mungkin dindingnya siang hari menyerap panas, hingga terasa hangat saja. Ibu tak jarang tidur di sana, ada jadwalnya sih. Tergantung nantinya mau dari mana start kerjanya.

Rute kerja ibu mirip kakak-kakakku saja. Aku tahu itu kakakku juga dari sorot matanya. Karena tak mungkin kita bisa tiba-tiba mengangkat saudara begitu. Aku tahu mereka penyanyi.
Dan bukan penyanyi yang bagus lagi. Suaranya kadang sumbang, fals. Bukan kadang sih, sering.

Bertatto. Beranting. Jadi pengen. Enggak ah, takut ibu marah dan tak kasih makan. Tapi setahu dan seumur hidup ibu tak pernah memarahi aku. Kecuali untuk satu alasan saja, tak mendapatkan uang yang banyak, karena wajahku kurang memelas. Tak jarang ibu menampar aku, supaya wajahku merah kesakitan, lalu memerah. Dan mengotorinya, alhasil gatal rasanya.

Ketika sore mulai meredupkan matahari. Angin kering yang menerbangkan debu, masih berkutat aku dan ibu di jalan. Mangkal di lampu merah.

Kami tak bisa dipisahkan dengan uang receh, seribuan kalo beruntung ada uang lima ribuan. Kami tak bisa dipisahkan dengan lampu merah. Dengan nasi bungkus yang kami rindukan. Dengan sela waktu istirahat menghitung uang. Semuanya tak bisa dipisahkan.

“Kamu tadi tidur, bukannya kerja,” kata ibu padaku.Dingin trotoar yang, masih menempel pada pipiku. Juga debu yang makin lekat di bajuku. Ibu tak pernah membelikan baju lagi. ‘Makin kotor makin menguntungkan’. Kata ibu sewaktu dulu ketika aku keheranan bajuku tak pernah dicuci.

Ibu juga sudah tak lagi memandikanku. Seperti teman-temanku yang kujumpai lagi di sore ini. Mereka memakai bedak dan pakaian yang wangi. Bagus. Dan tidak kotor.
“Mau ke mana teman?”
Tanyaku dalam sorotan mataku.
“Mau ke mall. Jalan-jalan. Beli es krim. Nonton bioskop. Beli balon. Beli baju.

Beli sepatu. Main ke rumah teman. Ke rumah kakek. Ke pasar malam. Ke kebon bintang.” Hampir setiap mata teman-temanku yang kutanya menjawabnya sekitar itu.
Suatu kali aku pernah bertanya pada ibuku. Mengenai nasib aku yang berbeda dengan teman-temanku itu.
“Bu mengapa kita berbeda dengan yang lain?”

“Itu bukan urusan kita, itu urusan yang di atas.” Aku sama sekali tak ngerti. Ibu ngomong apa. Tapi aku tak mau banyak tanya saat itu. Soalnya keadaan itu, ibu sedang diusir dari sebuah pelataran mall. Maksud ibu aku tahu ke mall itu, ibu ingin berteduh.

Soalnya hujan. Bukan untuk kerja meminta-minta. Tapi satpam, mengusir ibu dan aku. Di bajunya satpam ada sebuah huruf yang tak bisa kueja, aku tak pernah sekolah. Tapi coba menerka huruf-huruf yang tertera di atas saku baju itu. Dan aku menebak namanya.

Aku tertawa, karena dari sorotan matanya ia sudah mengenalkan diri. Namanya mungkin Amat, Usro, Ujang dan entah lainnya masih banyak kemungkinannya. Tapi itu nama yang tak jauh beda dengan bapak. Nama orang miskin. Hihihi. Belagu satpam itu. Aku pun pergi menjauh dari mall yang di atasanya kulihat poster bergambar telepon genggam. Dan di bawahnya kulihat banyak buku-buku dipampang dalam etalase. Kami terpaksa pasrah dipeluk hujan.

Bila hari mulai gelap, kami berbegas pulang. Ibu pernah sekali mengajakku pulang naik bis kota. Perasaanku senang bukan kepalang.

“Kita naik bis kota terakhir yang menuju terminal Ledeng.” Aku sudah hapal tempat itu. Pasti maksudnya terminal itu rumah.

Tapi perasaan bahagiaku hanya sejenak saja. kulihat berbagai orang mulai tak nyaman melihat, aku dan ibuku naik bis kota. Ada seorang ibu rumah tangga yang mulai menjauhi. Ada bapak-bapak pulang dari pasar yang meludah. Ada buruh. Ada kuli. Ada pedagang kaki lima. Ada anak muda tak sekolah. Ada anak sekolahan.

Mahasiswa juga ada. Semuanya menutup hidungnya. Aku heran. Biasanya kulihat, ketika lampu merah berhenti ketika kerja. Orang-orang itu mau dan sudi menggendong anak kecil di pangkuannya. Memuji-muji tentang dan sanjungan lucu. Mereka semua tak pernah tega membiarkan anak kecil berdiri terhimpit.

Terombang-ambing dalam perjalanan dalam kendaraan. Tapi tidak denganku.

Mereka cuek saja. Gerangan apa yang membuat hakku copot begitu saja. Mulai saat itu, aku suka minta pulang jalan kaki saja. Biar kita, aku dan ibu bisa menghapal jalan sekalian. Tapi setahuku ibu seperti hapal di luar kepala jalan-jalan di kota kembang ini, hihi lucu kota yang banyak sampahnya begini di bilang kota kembang.
Malam yang dingin, ibu masih menuntunku.
Menelusuri jalan. Masuk ke gang-gang. Atau apalah di jalan aku selalu melamun kok.
Tapi ibu biasanya bertemu temannya. Kini ibu juga sering ketemu temannya di jalan. Mata ibu mengucapkan,
“Berangkat kerja ya?”

“Iya, ni lagi dandan.” Jawab mata teman ibu dengan genitnya. Mike-up teman ibu tebal, roknya tinggi. Bajunya mini. Dan kulitnya terlihat licin. Seperti sebuah barbie yang kumuh dan lusuh. Teman ibu tak cantik menurutku. Sudah kurus dan badannya bungkuk. Angin malam yang bisa membuat wanita seperti itu.
“Laris ya.” Doa mata ibu dengan terpaksa.

“Iya.” Lalu tanpa basa-basi teman ibu itu diboyong ke dalam mobil. Teman-teman ibu lainnya lagi. Pergi ke diskotik kelas teri. Di biliar.

Bergoyang dan mabuk. Dengan tukang becak, sopir angkut atau truck, pemuda kurang kerjaan dan banyak lagi. Sisanya mungkin mangkal di simpang jalan, lampu merah merokok dan ngobrol-ngobrol jorok.

Nah bila malam belum juga aku tertidur. Di jalan atau di terminal, aku mendengar kakak-kakakku yang lain sedang bermain. Malam-malam bermain. Suara motor yang berdesing mengajak aku kenalan. Mereka saling memperebutkan tembok untuk dicoreti dengan nama gank mereka. Hihi kalo aku punya uang lebih kubelikan buku agar mereka menuliskan di buku itu. Tapi ngeri kakakku, mereka membawa besi, rantai dan samurai pendek, untuk apa ya? Aku juga tak ngerti lagi-lagi.

Namun pagi yang tak jauh beda ini, dengan hari kemarin dan pasti tak beda juga dengan hari esok datang juga. Aku merasa hari tak pernah berubah atau berbeda. Tak ada hari senin untuk upacara. Tak ada hari rabu untuk menengok bibi.
Tak ada hari sabtu untuk berkumpul dengan keluarga.

Tak ada juga minggu untuk berlibur ke kebun binatang. Semua hari sama. Juga ketika orang-orang menyambut tahun 2008 ini. Hanya itu yang bisa kutahu, tentang angka-angka.

Mungkin lotre. Tapi aku masih kecil, berusia sekitar setengah jumlah jari tanganku. Aku tak mau tolol dalam usiaku yang masih kecil, dengan memasang. Menebak permainan idiot itu.

Ya sudahlah, aku mau makan pagi. Terus kerja. Dan kembali lagi pada ceritakku yang tak berubah. Seperti sudah kuceritakan barusan. Ibu tak kulihat ketika bangun. Ibu sudah adu mulut dengan musuhnya, eh entah temannya.
“Onah kau kasih aku, ikan asin yang kau beri pewarna pakaian.”
“Alah gembel aja ribut, makan saja!”

“Dasar penipu, pedagang penghuni neraka. Dari mulai baso tikus sampai tahu formalin dijual.” “Wah, kamu sendiri ibu macam apa, anak sendiri dijadiin mesin peminta-minta?”

Akhirnya ibu beres juga marah-marahnya, setelah itu wajah ibu dan Bi onah malah berubah jadi tikus. Oh ini rupanya yang sering disebut tikus, korupsi dari karunia Tuhan. Dalam sorotan mataku, tak beda ibuku dengan seorang mantan presiden yang sedang sekarat dan telah mati kueja dan kuterka saja huruf dan gambar-gambar di koran semalam, sewaktu kujadikan alas tempat tidur di terminal. Yang bertuliskan
‘SELAMAT BERTOBAT’.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *