Perempuan di Atas Batu

Herlino Soleman
http://suaramerdeka.com/

AKHIR-AKHIR ini ini aku sering berada di suatu tempat tanpa tahu alasan mengapa, untuk apa, dan mau bagaimana aku berada di tempat itu? Pernah kejadian, tiba-tiba aku berada di pancuran Kali Wetan. Aku menyadari berada di Kali Wetan setelah memang berada di tempat itu. Bahkan sudah duduk di sebatang pohon besar yang roboh dekat pancuran. Hampir tak kusadari kapan aku punya niat, lalu berjalan kaki menuju Kali Wetan yang terletak di sebelah timur kampung, menuruni tebing yang agak curam, kemudian sampailah di Kali Wetan yang dinaungi kerindangan pohon beringin. Namun semua perilaku sebelum aku berada di Kali Wetan, sekali lagi, benar-benar tanpa kusadari sama sekali. Seolah dalam satu tarikan napas aku dapat berada di Kali Wetan atau di tempat mana pun.
Peristiwa itu terjadi berulang-ulang. Pernah tiba-tiba aku telah berada di Pantai Kuta, Karang Bolong, Padalarang, Bekasi, dan berbagai tempat lain. Kali ini aku berada di kota lama, maksudku bukan kota tua, melainkan kota yang pada masa lampau pernah menjadi tempat tinggalku. Sekali lagi, tanpa benar-benar kusadari alasannya, aku benar-benar telah berada di kota ini. Aku terperangah. Bukankah aku memang tidak tahu-menahu untuk apa aku datang ke kota ini? Bukankah aku tak punya maksud apa pun dengan berada di kota ini? Sekilas kota tampak telah banyak berubah, tapi apa peduliku? Aku lebih suka tinggal di kampung; bergelut dengan lumpur, bersenandung bersama burung-burung, atau sekadar menikmati embusan angin di atas bukit Si Kapat. Kota benar-benar telah berubah, tapi sekali lagi, apa peduliku? Kota ini tak membawa keistimewaan apa pun bagiku. Waktu dulu aku pernah tinggal untuk beberapa tahun, tak lebih yang kulakukan dan yang kudapatkan darinya sama dengan yang dilakukan dan didapatkan penduduk lain.
Sungai? Ya, sungai dan banjir bandang yang pernah merenggut ratusan nyawa dalam sekejap. Bahwa banjir bandang yang perkasa dan teramat garang itu menyisakan kesedihan bagi penduduk, dulu aku turut merasakan, tapi selebihnya kuanggap sebagai hal yang biasa saja. Sama biasa dengan saat sungai itu kering pada musim kemarau.
Aku sama sekali tak mengeti mengapa kini aku kembali tenggelam di kota ini? Ah, tapi pertanyaan menggugat ini sebaiknya tak kubiarkan mencari jawaban. Biar saja semua terjadi. Bukankah hidup telah mengajariku dengan berbagai ketiba-tibaan? Bukankah ketiba-tibaan sering memberikan keberuntungan dalam hidup? Ketiba-tibaan telah menjadi filsafat yang sering berkuasa atas beberapa bagian hidupku. Jadinya, aku lebih baik berjalan, menyusuri tepian jalan berdebu di bagian selatan kota. Tapi celaka, baru beberapa menit berjalan, tiba-tiba aku teringat Sari.
Dulu aku sering menyusuri jalanan kota ini dengan berboncengan sepeda motor bersamanya. Hampir setiap sudut kota ini telah kami jamah. Tapi aku yakin, ketiba-tibaan atas ingatan ini bukan hal yang bakal membawa keberuntungan. Aku yakin, ini justru akan membawa petaka. Paling tidak, aku yang tak pernah membiarkan hati dan perasaanku terpengaruh oleh kenangan, kali ini akan benar-benar terpengaruh.
Aku jadi teringat dulu aku pernah menyuruh Sari menungguku di tepi sungai. Ingatan ini sungguh menggugat. Sampai kini, jika ia masih menungguku, telah berapa tahun ia menunggu?
Gusti! Tapi tunggu, apakah ia benar-benar masih menungguku? Dulu aku berkata kepadanya, ?Tunggulah di sini, jangan ke mana-mana sebelum aku datang menjemputmu! Tak usah khawatir, jika angin bertiup lembut sementara kau telah lelah menunggu, kau akan kembali segar.?
?Kau akan ke mana?? Sari bertanya tanpa ekspresi.
Seharusnya waktu itu ia menanggapi permintaanku untuk menunggu dengan ekspresi wajah yang keras; entah marah atau sekadar merasa heran. Tapi waktu itu pertanyaannya benar-benar tanpa ekspresi. Seolah-olah ia dalam kelelahan dan tak berdaya. Seolah-olah ia sudah tak memiliki harapan karena aku benar-benar akan pergi lama dan ia akan kelelahan menungguku.
?Hm… Selama ini kau bukan gadis yang mesti tahu ke mana lelakimu pergi, Kekasih! Kau hanya kuminta menunggu, di sini, di tepian sungai yang membelah kota kita ini. Jalanan ramai dan gedung-gedung itu tak perlu membuatmu risau. Kau jangan terpengaruh. Kau mengerti??
Sari mengangguk. Benar-benar hanya mengangguk. Angin lembut menggeraikan rambut ikalnya. Tapi angin tak mampu mengubah wajahnya yang tanpa ekspresi. Aku lalu menunjuk sebuah batu besar di tepi sungai dan menyuruhnya duduk di atas batu itu. Aku yakin, Sari pasti bertanya, sampai kapan ia harus menungguku? Sampai kapan ia harus duduk di batu itu? Tapi ia tak mengucapkan pertanyaan-pertanyaan itu. Ia hanya menurut, berjalan lunglai menuju ke batu besar, lalu memanjat dan kemudian duduk di atasnya.
Aku pergi begitu saja tanpa menoleh lagi, tanpa memberikan lambaian akhir sebelum berpisah. Tak terpikir olehku waktu itu, bahwa kemungkinan Sari bisa menungguku hanya sampai akhir musim kemarau. Setelahnya, batu itu akan tenggelam karena kenaikan debit air sungai akibat hujan setempat atau bahkan hujan di hulu. Mengingat hal ini, setelah bertahun-tahun aku pergi dan kini baru teringat aku menyuruhnya menunggu, seharusnya aku tak perlu begitu menyesalinya. Ada sedikit kekhawatiran memang, tapi dengan ringan kujawab sendiri kekhawatiranku bahwa pada akhir musim kemarau dia akan naik ke darat, kemudian menenggelamkan diri dalam kehidupan kota. Jadi dengan ringan pula kukatakan kepada diri sendiri semuanya pasti sudah berakhir. Mungkin siapa pun akan mengutuk perilaku yang tak bertanggung jawab, tapi aku sama sekali tak peduli.
***
SELAMA ini mungkin aku terseret euforia penciptaan sejarah. Keberadaannya telah menjadi ego yang paling dominan pada setiap individu. Semua kehendak tertuju pada keinginan melestarikan hidup yang demikian pendek menjadi sebuah kelanggengan. Aku tak tahu mengapa aku harus tergelibat demikian jauh dalam putaran labirin kehidupan macam begini? Untung saja kehidupan lama begitu membosankan, lalu hidup di kampung, hingga aku benar-benar melupakan Sari.
Pada babak kehidupan normal, tentu Sari memang akan naik ke darat begitu hujan turun yang menyebabkan debit air sungai naik. Akan tetapi, apakah kemampuan me?nunggu Sari begitu saja kalah oleh Sunan Kalijaga sebagaimana diceritakan dalam ba?bad? Aku kira tidak sesederhana itu. Pa?ling tidak, secara sederhana aku berpikir kesetiaan cinta sulit terkalahkan oleh apa pun.
Saat berpikir demikian, waktu itu senja berasap, tiba-tiba aku telah berada di tepian sungai tempat dulu aku meminta Sari menunggu. Seolah tanpa sebab tanpa awalan sama sekali, aku benar-benar telah berada di sini, di tepian sungai yang tak pernah berubah: banjir pada musim hujan dan kering pada musim kemarau.
Dan begitu saja Sari tampak masih duduk di atas batu. Aku benar-benar kaget. Ternyata ia masih setia menungguku. Aku jadi heran, sesungguhnya apa arti diriku baginya hingga ia rela bertahun-tahun menungguku di atas batu di tepi sungai? Bagaimana mungkin ia bisa bertahan dari luapan arus yang deras pada musim penghujan? Bukankah batu itu pasti tenggelam? Bagaimana mempertahankan diri dari seretan arus yang alangkah kuatnya? Untuk bernapas saja tentu susah. Apakah saat banjir ia naik ke darat dan setelah air surut ia kembali duduk di batu besar itu?
?Kau pulang juga akhirnya, Kekasih? Sejak kau pergi aku terus menunggumu di sini. Tak sedetik pun aku meninggalkan batu ini. Bahkan saat banjir pada musim hujan, aku tetap duduk di sini. Aku khawatir jika meninggalkan batu ini barang sekejap, kau tiba-tiba datang. Aku takut jika kau datang tak melihatku berada di sini, kau tentu menganggapku telah pergi entah ke mana. Lebih parah lagi jika kau menganggapku telah tidak setia. Aku tak ingin membuatmu kecewa. Makanya aku hanya duduk dan duduk saja sejak kau pergi, tanpa sedetik pun meninggalkan batu ini. Akar-akar dan rumputan yang menjalari tubuhku ini menjadi buktinya. Percayalah!? Sari menyapa dan berargumentasi.
?Gusti!? Aku berteriak dalam hati.
Mengapa bukan caci-maki, umpatan, atau sumpah serapah?! Mengapa justru cinta, kerinduan, dan kesetiaan yang ia persembahkan kepadaku yang telah bertahun-tahun membiarkannya terus menunggu? Aku ma?sih terdiam. Lebih tepatnya, aku terkesima!
?Seperti yang kuduga!? Sari berkata lagi.
Sorot matanya penuh gairah.
?Kau menduga apa?? Aku bertanya penuh keheranan, penuh rasa bersalah.
?Aku menduga bahwa kau tak akan percaya bahwa aku selalu menunggu tanpa pernah meninggalkan batu ini barang sedetik pun. Tapi biarlah. Itu bukan masalah yang perlu kugugat darimu. Yang penting apa yang telah kukatakan, itulah yang telah kulakukan. Dan sekarang aku benar-benar gembira menerima kedatanganmu. Kau pasti membetulkan dugaanku, kan??
Kesiur angin, dengung kumbang, raung kendaraan, asap pabrik, atau sekadar denyutan di kepala yang membuatku demikian pusing. Begitu lancar tutur katanya. Begitu ceria wajahnya. Bahkan setelah menungguku bertahun-tahun yang semestinya membuatnya menjadi lelah dan kemudian marah?
?Dugaanmu benar, Sari.?
?Kau tak pernah memanggil namaku sebelumnya. Kau selalu memanggilku kekasih, bahkan sejak pertama kita berkenalan di bawah pohon asam kranji di kampus kita. Waktu itu aku menganggapmu kemaki, tapi segenap perhatianmu kepadaku setelah itu telah memupus anggapanku yang ternyata salah. Waktukah yang telah mengubah panggilanmu itu? Aku ingin semuanya seperti dulu. Aku ingin semuanya seolah tak berubah, bahkan jika telah kau temukan perempuan lain selama kepergianmu. Bagiku, saat ini kau ada, sebagaimana barusan juga ada di sini. Kemarin, kau ada di sini. Dua hari, seminggu, sebulan, setahun, sewindu yang lalu kau selalu ada di sini bersamaku. Aku menganggapmu pergi hanya sebentar untuk membeli minuman atau rokok atau membeli keduanya dan nasi bungkus untuk kita nikmati bersama dalam tamasya sehari di tepian sungai ini. Itu pula yang menyebabkan aku masih ada dan hidup. Ah, kau tak perlu bengong, Kekasih. Tolong lepaskan semua jerat akar-akar yang membelit kaki, tangan, dan seluruh tubuhku. Bukalah tas-mu! Aku pinjam sarungmu. Aku malu. Pakaianku telah robek-robek begini. Dan sarang burung di kepalaku tolong pindahkan ke rumpun marenggo itu. Kasihan. Entah ini sudah turunan yang ke berapa. Mereka selalu setia kepada alam. Bercinta, beranak-pinak, dengan kicauan dan kepakan sayap mereka yang tak pernah berubah. Kuharap setelah ini kita akan melakukannya juga. Kita tak boleh kalah oleh burung-burung!?
Sari mencerocos bicara tanpa bisa kusela. Di kepalaku ada kumparan besar yang telah rusak. Apa yang harus kukatakan kepada Sari untuk menanggapinya? Kini ia lembut memandangku. Setelah kulepaskan akar-akar, rumputan, dan reranting pohon yang menutupi tubuhnya, dikenakannya sarung yang telah kuberikan, lalu dengan cekatan ia melompat ke arahku, kemudian memelukku erat-erat. Senja telah menjadi gelap, tapi lampu jalanan di kejauhan masih bisa menuntun kami menentukan arah. Setelah melepaskan pelukannya, Sari kembali mencerocos bercerita tanpa bisa kusela hingga pagi tiba dan matahari memancarkan sinar.
***
SEKARANG kupastikan Sari akan menjadi arah bagi segenap hidupku yang akan datang. Maksudku, aku tak akan meninggalkannya lagi. Aku akan membawanya serta ke mana pun aku pergi. Akan kuturuti semua permintaannya. Akan kulayani apa pun yang ia mau. Kuantar ke mana pun ia pergi. Dan jika saatnya nanti aku mengajaknya bersama-sama tinggal di kampung, tentunya kehidupanku akan kembali pada strata utama kesegaran yang menciptakan semangat hidup yang bergairah. Bersamanya aku ingin menikmati kesegaran pagi, siang, sore, dan malam. Ada unggun yang menyala, angin yang berhembus, pucuk-pucuk pinus, lambaian kaliandra, dan kabut yang tak selalu berakhir dengan gerimis!
Ah, aku jadi teringat sebuah lukisan yang dulu pernah kukhayalkan. Saat itu senja yang redup. Aku berada di Kali Wetan. Tiba-tiba aku melihat wajah Sari yang tersamar dalam kabut yang demikian rendah. Ia duduk pada sabatang pohon besar yang roboh dekat Kali Wetan menghadap ke pancuran. Aku melihatnya seperti sebuah lukisan yang tak pernah selesai. Setiap titik, setiap garis, dan setiap paduan warna yang diusapkan di atas kanfas, selalu menciptakan titik, garis, dan paduan warna lanjutan yang selalu tereduplikasi lagi hingga paduan warna yang ada tak pernah berhenti. Bukan hanya itu, lukisan itu juga berhasil merekam gemericik suara pancuran, kicau burung-burung, dengung kumbang, kokok ayam hutan, gerutu bajing, dan lengkingan sepasang elang. Dalam keadaan seperti itu, siapakah yang berani menisbikan keagungannya? Keterdiamannya yang tetap hidup lewat sorot matanya, posisi tubuh yang sigap-siap tapi menampakkan kelembutan, dan gerakan-gerakan kecil yang diwakili anak-anak rambutnya, menciptakan sebuah kharisma yang agung. Kurang ajar! Siapa pun tak perlu membayangkan tentang bidadari atau putri Yunani bergaun putih membawa obor dalam kegelapan hutan pinus! Benar-benar tak perlu! Siapa pun cukup membayangkan apa yang telah kugambarkan. Prinsip orisinalitas gambaran yang telah kuterakan, maksudku, tak perlu menciptakan gambaran pembanding yang mirip sebab hal ini akan mengarah pada terbentuknya sebuah kepalsuan.
Pada waktu itu aku tiba-tiba berteriak. Inilah hidup yang kumaksudkan! Ada tebing, pancuran, suara-suara binatang dan sesosok wajah yang tersamarkan kabut. Jika angin bertiup menggeraikan kabut, cuaca terang dan bumi jadi telanjang. Dan kini, setelah Sari kembali kutemukan, lengkap dengan prinsipnya untuk tetap hidup bersamaku, aku harus segera membuat keputusan yang pasti. Aku harus segera mengawininya, lalu memboyongnya ke kampungku.
?Tidak mungkin!? Reaksinya begitu keras ketika semua maksudku itu kusampaikan kepadanya. Siang yang panas jadi tambah rusak.
?Mengapa tidak mungkin?? Aku bertanya heran.
Sari, masih dengan ekspresi wajah yang serius, kembali berkata bahwa ia tidak mungkin meninggalkan kotanya, meninggalkan kehidupannya. ?Aku terlanjur menya?tu dengan ruh batu itu. Kau yang lama meninggalkannya, meninggalkanku, tak punya hak memisahkan kami. Aku begitu mencintaimu. Aku yakin tak seorang perempuan pun memiliki cinta sebesar dan sesetia cintaku kepadamu. Meskipun demikian, jika kau ingin melanjutkan hidup bersamaku, di sinilah, di kota ini tempatnya. Kuatnya keinginanku untuk hidup bersamamu di sini, bukan karena aku telah jadi keras kepala! Aku hanya ingin memastikan bahwa hidup harus dijalani dalam kenyataan, bukan dalam khayalan apalagi ilusi!? Katanya meneruskan. Semuanya ia ucapkan dengan penuh keseriusan. Samasekali tidak ada kesan main-main atau sekedar menguji kesetiaanku.
Aku terdiam. Kesiur angin yang sejuk tak mengurangi rasa gerahku. Bertahun-tahun ia menungguku tanpa sedetik pun meninggalkan tempatnya menunggu, dengan rasa pedih, lapar, haus, panasnya siang, dinginnya malam, dan basahnya hujan yang sama sekali tak dihiraukan adalah sebuah karakter yang dasyat. Kali ini perlukah aku menaklukkannya?

Watukarung, September 2009

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *