Perempuan Politik

Syarif Hidayatullah
http://www.sinarharapan.co.id/

Inilah kesedihanku, saat meja makan begitu lengang dan kosong. Seperti sebuah piring tanpa lauk dan nasi, seperti hatiku pula yang kini mulai ditumbuhi rumput-rumput sunyi dan gelisah yang semakin lama semakin meninggi.
Aku tak pernah melarang istriku untuk terjun dalam partai P untuk mencalonkan diri sebagai anggota legislatif di kota D. Benar-benar tak begitu masalah bagiku, selagi itu bermuara pada hal positif, dan baik bagi dirinya, aku bahkan mendukungnya, meski sebetulnya setengah hati saja.
Rasa takutku selalu saja menghantui, tentu saja aku berpikir tentang anakku yang masih berumur enam belas tahun dan yang paling kecil baru lima tahun. Anak-anakku pasti lebih membutuhkan sosok ibu di rumah ini, terutama bontotku, Rasya. Bila ia aktif di partai, lantas siapa yang mengurus mereka?
Seperti kali ini, untung saja anakku Jannah sudah bisa memasak, meski itu hanya telur goreng atau mi rebus. Aku tanya pada Jannah saat pulang kerja menjelang magrib tadi. Ia menjawab seperti biasa.
?Ibu belum pulang, dia masih ada acara di tempat yatim piatu, katanya mengadakan santunan. Entahlah.?
Aku tangkap nada kekecewaan dalam setiap kata-kata yang keluar dari anak tertuaku itu. Kasihan betul ia, ia harus merawat Rasya yang masih suka kencing sembarangan. Hal ini bukanlah hal mudah bagi Jannah, terutama karena Rasya cenggengnya bukan main.
Apa yang harus aku lakukan? Sempat dulu aku melarang istriku untuk ikut masuk partai, aku sebutkan alasannya sedetail mungkin tentang anak-anak kami yang kelak terbengkalai. Tapi ia malah balik menyerangku dengan kata-kata tajam menusuk telinga dan hatiku, ia berkata seperti sedang menghadapi musuh politiknya ketimbang aku sebagai suaminya, ia bilang aku tak menghargai kemajuan wanita, tak suka melihat istrinya maju, tak bangga memiliki istri yang menjadi politisi dan entah kata apalagi yang ia ucapkan. Aku sungguh muak mendengarkannya.
Bila tak ada Mpok Asiah, mungkin rumah ini sudah berantakan, kotor dan pakaian kotor yang menggunung. Mpok Asiah, pembantu kami itu hanya bekerja pada pagi hari, menyapu halaman dan rumah, mengepel lantainya serta mencuci pakaian kami. Selanjutnya, istrikulah yang mengerjakannya. Ia menjadi koki yang sangat hebat dengan makanan yang ia sajikan yang selalu begitu lezat. Tapi tidak kali ini, bahkan di meja ini terasa sunyi sekali.
***

Aku kesal dengan suamiku, mengapa ia tak menghargai perjuanganku untuk mencalonkan diri sebagai anggota legislatif? Apakah salahku? Apakah ia sengaja menghalang-halangiku karena ia merasa kedigdayaannya sebagai lelaki di rumah ini mulai goyah?
Ah, di mana-mana lelaki tetap sama. Ingin berkuasa, ingin menang sendiri dan tentu selalu ingin di atas bahkan untuk sesuatu yang kami lakukan di atas kasur. Perempuanlah yang selalu menjadi boneka, dimainkan ke kiri dan ke kanan tanpa memedulikan perasaan boneka itu.
Tetapi kini, aku bukanlah boneka lugumu Mas, aku bukan boneka lugu yang saat malam pertama kau cumbu dan dilumat olehmu tanpa berkata apa pun meski sakit terasa menggigit tubuh. Aku bukan boneka lagi, bukan boneka perempuan-perempuan yang kalah oleh kenyataan pahitnya.
***

Aku menunggu istiriku, Karti. Karti dulu terasa berbeda dengan sekarang. Karti dulu begitu lugu dan sangat penurut sekali atas semua kemauanku. Aku begitu senang bila Karti seperti itu. Tetapi kini? Ah, haruskah aku menyesali keputusanku yang membiarkan Karti masuk partai?
Sudah pukul delapan malam Karti belum juga datang. Aku berniat menunggunya sampai ia pulang. Aku ingin bicara dengannya. Mungkin aku tak bisa melarangnya untuk tidak masuk partai, tapi mungkin aku bisa memintanya untuk lebih memperhatikan keluarganya. Terutama kedua anakku. Mudah-mudahan ia seperti kata-katanya yang kukutip pada kain rentang di pinggir jalan yang dihias dengan foto cantiknya: MENDENGAR, MELAKSANAKAN DAN BERTANGGUNG JAWAB.
Mudah-mudahan saja.
***

Aku baru saja pulang. Kulihat suamiku berada di ruang tamu. Aku berlalu begitu saja darinya, tapi kemudian ia memanggilku. Aku lelah Mas, kukatakan itu padanya kuharap ia mengeti kata-kataku, memahami keadaanku.
Tapi Masku memaksaku untuk mendengarkanku, bahkan aku disebut sebagai istri yang membangkang. Aku kesal dengan kata-katanya, kelelahanku yang menggrogoti tubuhku akhirnya kubiarkan untuk pembicaraan sumpah serapah seisi kebun binatang sana.
Masku, malah memukulku dan berkata aku tak tahu diri. Aku menangis sejadi-jadinya dan kemudian berlari menuju kamar. Aku kunci pintunya dan kemudian aku membenamkan tangisku pada bantal. Aku benar-benar merasa seperti boneka yang tak dihargai, boneka yang terpenjara di dalam jeruji besi.
***

Aku marah besar ketika istriku bahkan tak mau mendengarkanku, ia malah menyebutku anjing!
Aku duduk di sofa rumah dan mulai memikirkan tentang Karti, inikah istriku? Aku seperti tak mengenal Karti. Ini bukan Karti, benar-benar bukan Kartiku! Kartiku dulu tidak lain seorang gadis desa yang kemayu dan sangat patuh pada suami. Tetapi mengapa ia berubah demikian cepatnya?
Aku menyesali pukulan yang kuhempaskan ke mukanya. Ini pukulan pertamaku selama pernikahanku yang menginjak delapan belas tahun. Pukulan pertama yang membuatnya menangis dan terisak begitu dahsyat, bahkan aku dapat mendengarnya dari kejauhan. Aku tak tega, tapi aku ingin memberikan pelajaran yang berarti baginya. Setidaknya, ia harus tetap menghormatiku posisiku sebagai seorang suami. Aku tak ingin menjadi suami yang dilangkahi harga dirinya. Bila ini terjadi, hanya tinggal menunggu waktu saja hancurnya rumah tangga ini.
Jannah kemudian datang dan menanyakan apa yang terjadi, tapi aku memeluknya dengan erat. Aku benar-benar tidak tega kepada anakku. Aku benar-benar kasihan pada mereka yang mungkin kini mulai kehilangan sosok ibu. Aku pun mulai mengutuk kata-kata pada kain rentang dengan foto cantik wajah Karti.
Aku muak! Aku benci!
***

Pagi harinya aku tak menyapa Masku, bahkan aku tak memasak apa pun untuk rumah ini. Aku mengurung diriku pagi itu dan kemudian berangkat untuk menghadiri sosialisasi partai di kampung B.
Kesibukan seperti inilah yang dapat menghapus masalah keluarga. Aku berusaha melupakan kedua anakku untuk sementara, juga pada suamiku yang kini kuusir dari ranjangku.
***

Aku kesal dengan tingkah laku istriku, aku semalam tidur di sofa. Aku benar-benar berang, aku tak sudi lagi tidur seranjang dengannya.
Tapi kini ia bahkan tak memasak seperti biasa untuk sarapan kami. Aku kemudian memasak mi rebus. Rasya kuraih dan kusuapi sendiri. Sebentar lagi aku akan berangkat ke kantor dan barangkali aku akan menitipkan Rasya pada tetangga sebelah. Sahabatku, sahabat Karti pula. Namanya Arini.
Arini maklum saat aku menitipkan Rasya, bahkan ia begitu senang menyambut anakku itu, Arini memang tidak mempunyai anak dan telah menjanda begitu lama. Menurut kabar, suaminya meninggalkan Arini karena Arini mandul.
Pada Arini pula kadang aku mengungkapkan keluh kesahku perihal Karti, ia terkejut saat mendengar ceritaku tentang pertengkaran kami semalam dan Arini siap membantuku bila aku membutuhkan bantuannya. Aku menyambut gembira kemauannya itu.
Benar saja, pulang dari kantor pada malam harinya, aku lihat Arini masih berada di rumahku sambil mengajari Rasya membaca dan mengobrol-ngobrol dengan Jannah di ruang tamu. Aku tenang melihat kejadian itu, aku pun tersenyum dan bergabung dengan mereka yang telah menyambutku.
***

Saat aku pulang, kedua anakku telah tidur pulas dan kulihat Arini baru saja pamit dari rumah kami karena aku berpapasan dengannya di jalan.
Masku memuji Arini yang cekatan menjaga anak-anak kami dan mulai memojokkanku dengan kata-katanya yang menyayat hati. Harusnya kau seperti Arini, ujar suamiku.
Amarahku mulai terbakar, tapi aku tak keluarkan karena aku takut kembali ditampar. Tetapi semakin lama kata-kata Masku semakin menyakitkan, semakin tak menghargaiku sebagai seorang istriku yang dulu merawat Jannah susah payah, melahirkan Rasya dengan mempertaruhkan nyawa.
Suamiku berbicara tentang Arini tanpa memedulikan perjuanganku selama ini. Hatiku begitu sakit mendengarkannya dan bahkan aku mulai tidak tahan. Ceraikan saja aku Mas! Tiba-tiba kata-kata itu begitu saja keluar dari mulutku dan disambut oleh Masku dengan tak kalah amarahnya.
Ia tampak begitu emosi dan aku pun tak kalah sengitnya. Aku sudah muak dan sudah tidak betah di rumah ini.
***

Aku terperanjat kaget mendengar kata-kata istriku semalam yang memintaku cerai. Arini yang mendengarkan ceritaku pun tak kalah kagetnya. Tapi sejujurnya aku pun sudah tidak memiliki harapan lagi kepada Karti untuk berubah. Ia mulai keras kepala dan tidak menghargaiku lagi sebagai suami.
Keputusan bercerai aku pikir adalah hal yang terbaik. Aku mulai mempersiapkan semuanya, meski Arini sempat melarangku melakukan hal ini. Tidak baik buat anak-anakmu, ini akan mengguncang perasaan mereka, ujar Arini padaku.
Aku sudah tidak peduli. Amarahku telah membulat. Bila amarahku api, maka api itu akan membakar apa pun yang berusaha menghalanginya.
***

Pada Johan, penasihat kader partai aku katakan retaknya rumah tanggaku dan aku ingin bercerai. Johan sempat melarangku untuk bercerai, karena itu akan memperburuk keadaan, terlebih lagi soal pemilih. Itu hanya akan merusak reputasiku. Keluarga itu bisa jadi sorotan masyarakat, bila kamu diceraikan oleh suamimu mereka akan menganggapmu tidak becus mengurus keluarga. Untuk mengurus keluarga saja tidak bisa, apalagi mengurus daerah. Masyarakat akan berpikir seperti itu. Bagaimana mereka akan memilihmu?
Benar juga apa yang dikatakan Pak Johan kepadaku. Tapi keputusanku untuk meminta cerai dari suamiku telah meruncing. Aku tidak ingin mentalku, perasaanku digigiti oleh kata-kata suamiku yang selalu mengiris-iris bagai pisau itu.
Melihatku keras kepala. Pak Johan hanya menggeleng-gelengkan kepala, tapi kemudian Pak Johan memberikan solusi lain kepadaku, ia membisikiku dan aku tersenyum karena ide Pak Johan begitu tepat dan cukup licik sebetulnya. Tetapi aku tetap menyetujuinya karena aku bukan lagi boneka.
***

Saat pengadilan dimulai, ada rasa bersalah menghinggapiku. Aku pikir ini bukan yang terbaik, apalagi saat kedua anakku kutinggalkan di rumah. Aku lihat mata gelisah mereka. Ah, mereka tak akan memiliki ibu lagi. Aku ingin memperbaiki rumah tangga ini.
Tapi aku keget saat di pengadilan. Sambil menangis Karti bercerita soal pemukulan yang diterimanya. Bahkan ia mulai menunjukkan lebam tangan kanannya. Entah oleh siapa dan karena apa. Tetapi ia menyebut namaku, akulah yang melakukannya. Lebih kaget lagi, ia sebut-sebut Arini sebagai kekasih gelapku. Orang-orang yang hadir di pengadilan menjadi begitu simpati pada Karti. Aku berteriak bohong dengan lantangnya, tetapi pembantuku yang hadir sebagai saksi saat itu mengatakan bahwa aku telah melakukannya. Entah Mpok Asiah dibayar berapa untuk membenarkan kebohongan itu.
Akhirnya perceraian itu tak terhindarkan. Aku lihat senyum licik yang tak pernah kulihat pada senyum-senyum Karti dulu. Aku pun pulang. Entah apa yang harus kukatakan kelak pada kedua anakku.
Sesampainya di rumah, aku tak mendapati apa-apa selain rumput-rumput sunyi yang semakin banyak memenuhi rumah ini.***

wismasastra, 2009

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *