Puisi-Puisi Gita Nuari

http://www.suarakarya-online.com/
NOL

baiklah, kau telah menulis sunyi di batu itu
yang kemudian kau biarkan digauni lumut dan semut
aku tak menduga ada kabar bahwa menara
yang kau bangun dengan airmata, terbakar tadi malam
orang-orang memadamkannya dengan bersorak
kejam, katamu. keji, kataku
sudah kuhallo berulang kali ponselmu
tapi kesunyian yang kuterima
kau sengaja mencuri suaraku
tapi kau sembunyikan
gairahmu
kosong, katamu. hampa, kataku

Depok, 2010

SEBATAS KEPAK

diterang paling derang
langkahmu terbaca mataku
tapi di ujung kelokan
kau hilang di rimbun hutan dua ekor capung
bersenggama di atas danau
di ujung paling mendung, kau muncul
menjelma gelang-gelang airah, baru kali ini
rindu bersayap gelap
terbang sebatas kepak
singgah karena lelah

Depok, 2010

MINUMAN

kita seharian minum
bergelas-gelas keraguan
pergi menuju entah
pulang lupa arah
kita seharian makan
berpiring-piring kepalsuan
pikiran ke kiri
langkah ke kanan
jangan saling tikam
jika jalan penuh tikungan
ambil kompas
mari berlayar di lautan lepas

Depok, 2010

LAGU SENDU

tanganmu menyentuh
dingin telaga
seketika bayang kita
pecah di sana
bunga kamboja lepas dari tangkai
didorong angun melata ke dalam debar
hati meruncing. kalimat memar
dimana gerangan
penyejuk api?
ini lagu tak kunjung usai
merintih sampai kamar

Depok, 2010

IKRAR

berulangkali cemara bergoyang
mencorat-coret
cakrawala di benak
kupu-kupu lintas,
belah pandangan
di kaca jendela.
cinta telah senja?
sepagi ini kau membatu
di simpang ragujanin
kata-kata membisu
madu jadi empedu
aku tuang lima sloki
pertanyaan ke telingamuk
apan cinta jadi cincin kata?
(aku tunggu jawab di bawah kitab)

Depok, 2010

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *