Rasanya Malu pada Mpu Tantular…

Kris Razianto Mada
http://cetak.kompas.com/

Tahun 2007, riuh sekali penerbitan sastra Jawa dari Jawa Timur. Tercatat sedikitnya 15 buku dengan beragam isi diterbitkan sepanjang tahun lalu. Ada geguritan, kumpulan cerita cekak (cerita pendek), hingga novel.

Tahun ini, para sastrawan Jawa di Jatim tidak ingat berapa pastinya buku yang terbit. Namun, hampir dipastikan tidak sampai lima buku terbit sepanjang tahun ini dari provinsi dengan penduduk terbanyak di Jawa dan Indonesia ini.

Bagi Ketua Perhimpunan Pengarang Sastra Jawa Surabaya (PPSJS) Bonari Nabonenar, itu salah satu tanda kesalahan dalam pengembangan sastra Jawa. “Penerbitan karya masih mengacu pada keberadaan festival atau acara-acara terkait sastra Jawa. Untuk tahun ini, penerbitan boleh disebut antiklimaks,” ucapnya.

Sepanjang 2007 setidaknya ada dua perhelatan nasional terkait sastra Jawa. Ada Kongres Bahasa Jawa yang digelar pemerintah. Ada Kongres Sastra Jawa yang dibuat para pengarang. Sebaliknya, sepanjang 2008 tidak ada festival. Jadi, tidak ada ajang untuk unjuk kebolehan bagi para pengarang. Boleh jadi gara-gara itu para pengarang memilih bentuk kreasi lain daripada menerbitkan buku sastra Jawa.

Pasalnya, penerbitan buku sastra Jawa bukan perkara mudah untuk kondisi saat ini. Pengarang dan penerbit, semenjak akhir tahun 1980-an, harus siap rugi karena buku tak laku.

Pewajiban belajar bahasa Jawa di sekolah-sekolah sejak bertahun-tahun lalu tidak banyak menolong. Seperti halnya model pembelajaran bahasa lain di sekolah, pembelajaran bahasa Jawa tidak untuk mendorong anak cakap berbahasa dan suka membaca karya sastra Jawa. Jangankan murid, para guru sekalipun tidak cakap dan tidak suka membaca karya sastra Jawa.

Dalam kondisi itu, wajarlah para pengarang lebih suka melabuhkan karya pada Jaya Baya atau Djaka Lodang. Pada majalah bahasa Jawa itu, mereka paling banyak mengirimkan cerita pendek dan cerita bersambung. Dengan cara itu, hasrat berkarya tetap terpenuhi. Di sisi lain ada bayaran mengalir, meski mungkin tidak sebanyak bayaran dari media massa mapan lainnya. Darah baru

Meski minat baca terhadap karya sastra Jawa di kalangan pelajar teramat rendah, masih ada harapan baru untuk pengarang. Di berbagai daerah, beberapa pengarang atau penggiat yang menjadi pengajar dengan getol membentuk komunitas sastra Jawa.

Di Surabaya dan Bojonegoro setidaknya sudah muncul beberapa nama baru yang berasal dari kalangan pelajar dan mahasiswa. Namun, masih harus diberi waktu lagi sebelum nama-nama baru itu hadir secara konsisten sebagai pengarang sastra Jawa.

Sementara di daerah-daerah lain, nama-nama baru muncul dari kalangan umum. Namun, amat sedikit yang bisa konsisten berkarya. Karya mereka juga lebih banyak beredar di kalangan amat terbatas. Karya penggurit di Tulungagung amat jarang terbaca sampai Kediri atau Trenggalek.

Peneliti pada Balai Bahasa Surabaya Mashuri menyatakan, kondisi itu bisa diperbaiki. Prioritas perbaikan pertama dengan mengubah pusat kegiatan. Segala kegiatan terkait sastra Jawa jangan lagi di kota besar seperti selama ini. “Memang tidak mudah, tetapi perlu dicoba,” tuturnya.

Pusat kegiatan perlu digeser ke wilayah pinggiran. Di sana, para pembaca setia sastra Jawa masih banyak. Seharusnya mereka disentuh dengan berbagai kegiatan terkait sastra Jawa. Sentuhan itu akan menggairahkan sastra Jawa di pinggiran.

Prestasi

Selain soal karya yang minim, para pengarang Jatim juga sudah dua tahun tidak mendapat Rancage. Anugerah itu diberikan untuk pengarang dan penggiat sastra berbahasa Lampung, Sunda, Jawa, dan Bali. Anugerah untuk pengarang sastra Jawa diraih pengarang Jatim hingga 2005.

Setelah itu, tidak ada lagi pengarang Jatim yang dapat anugerah itu. Penerbitan belasan buku sepanjang tahun lalu tidak cukup membuat anugerah itu hinggap ke Jatim. Panitia seleksi penerima Rancage hanya memberikan Jatim untuk kategori jasa untuk penganugerahan 2008. Untuk kategori ini, Jatim diwakili redaktur majalah Jaya Baya, Sriyono.

Tidak mudah mengharapkan anugerah itu kembali ke Jatim. Apalagi, praktis hanya dua buku terbitan Persatuan Pengarang Sastra Jawa Bojonegoro (PPJB) yang muncul tahun ini. Namun, harapan itu harus dipelihara.

Rasanya malu Jatim kepada Mpu Kanwa yang menggubah Arjuna Wiwaha, kepada Mpu Tantular yang menyusun Sutasoma, dan Mpu Prapanca yang mengarang Negara Kertagama kalau sastra Jawa terpuruk di sini. Di Jatim ini justru sastra Jawa mulai dikembangkan. Jangan sampai di Jatim sastra Jawa redup lalu mati. ” Pusat kegiatan perlu digeser ke wilayah pinggiran. Di sana, para pembaca setia sastra Jawa masih banyak. “

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *