Sajak-Sajak Alex R. Nainggolan

http://www.suarakarya-online.com/
Seperti Pertama Kali

seperti pertama kali engkau kusentuh ada yang tertinggal
pembuluh dadaku juga getaran yang sama
saat kukecup kulitmu menepikan ketakutanku
lalu membesarkan nyaliku sebagai lelaki
betapa engkau ingin selalu kupuja tanpa jenuh
telah kau lecut setiap kesadaranku menyadarkan
dengan penuh sebagai lelaki di sampingmu
mendampingi meski tahun-tahun
terkelupas dipenuhi kejenuhan

Jakarta, 1 Januari 2008

Sarapan Pagi

sarapan pagiku hanya gegas langkah orang-orang berangkat kerja
terkadang pula jeritan tetangga sebelah bertikai
pada kenyataan yang pahit dengan amarah yang kerap melilit
meski masih ada cahaya matahari mengusir sunyi
pada bekas-bekas embun di batang pohon
meski ada suara bayi yang tertawa menyambut pagi
berlarian di beranda sarapan pagiku hanya berita-berita ngeri
di layar televisi atau hamparan diksi dengan anyir darah
di halaman surat kabar meski masih ada senyum sang istri
sekadar mengantarku untuk
menjejakkan kaki terlibat dalam
keramaian tumpah-ruah dalam
jadwal rutin kehidupan

Jakarta, 29 Januari 2008

Engkau Duduk di Sudut

engkau duduk di sudut
seperti ingin merenggut segalanya
kejadian demi kejadian
yang membuat kita semaput
engkau duduk di sudut
seperti ingin menjemput
segala sunyi yang lama berdiam di dalam harilalu kau
bungkus kegelisahan itu
merebutnya dengan perlahan
agar tak sampai kepadaku
sebab cemas itu memang bukan buatku bukan milik kita

Jakarta, 29 Januari 2008

Bayangan

ada yang mampu menipudi muka cerminbukan sejati
namun sunyi kembali
mengambil nyaliterapungbagai masa
lalu berkabung
tetap saja menguntit
diam pada setiap sakit
hingga engkau menjerit
“pergilah engkau jauh.
aku sudah terlalu jenuh. untuk selalu memujimu.
dengan panorama senja yang membeku.”
namun ia terus datang
semacam lonceng jam yang berdentang

Jakarta, Januari 2008

Hujan Februari

hujan februari mengusik nyali langit hitam angin bergulung
aku menggambar mimpi mungkin masih ada tempat singgah
teduh dari hujan yang penuh raung
hujan februari
menyemai takuttak bisa kuriangkan hati
untuk sembunyi dari kalut
nyatanya air begitu semaput
membuat kulit kaki keriput
dingin yang tak bisa jadi selimut
sampai tubuh mengkerut
semoga bukan sengkarut!

Jakarta, 1 Februari 2008

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *