Cara Sehat untuk Sukses

Linggar Mulyono*
http://www.jawapos.co.id/

Bagaimana cara meraih sukses? Pertanyaan itu menggayuti pikiran sebagian besar di antara kita. Banyak juga yang berpendapat bahwa kesuksesan identik dengan punya uang banyak.

Jalan pikiran itu sungguh tidak tepat. Uang bukan segala-galanya untuk meraih sukses, walau memang diperlukan. Namun, uang bukan faktor nomor satu yang membuat kita sukses dalam hidup, bisnis, maupun pekerjaan. Bahkan, beberapa pengusaha sukses menempatkan uang sebagai faktor kelima untuk sukses. Artinya, ada empat faktor lain yang dianggap lebih penting dalam mendukung kesuksesan seseorang.

Mereka menempatkan kesehatan sebagai faktor nomor satu. Faktor kedua karakter, kemudian pendidikan, networking atau jaringan, baru faktor uang. Jadi, punya uang tapi tidak pintar dan tidak punya networking susah untuk sukses. Punya uang, pintar, punya networking, tapi punya karakter buruk, suka menipu, dan tidak pernah bersyukur juga sulit untuk maju. Begitu pula punya empat faktor untuk sukses tapi tidak sehat, sakit-sakitan, mana mungkin bisa sukses.

Itulah sebabnya, kesehatan merupakan faktor kunci untuk mencapai sukses. Untuk bisa sehat, caranya ternyata sangat sederhana dan gampang, tidak perlu keluar banyak uang. Kalau tidak percaya, silakan baca buku Success, Healthy, Happiness karya Ali Murtadlo-Tatik Suryani. Pasangan suami-istri itu membuat buku yang sangat enak dibaca dan ringan, tapi bermakna. Seperti buku saku yang merangkum rumus-rumus rumit menjadi sederhana.

Dua penulis, tampaknya, ingin ”menjembatani” para pembaca dengan buku-buku kesehatan yang umumnya berisi hasil-hasil penelitian yang rumit dan berat. Selain itu, penulis mengemasnya dengan kalimat yang memotivasi pembaca untuk mencoba dan menerapkan cara-cara gampang untuk sehat.

Ali yang direktur utama JTV (Jawa Pos Group) juga mengutip untaian kata-kata mutiara dari berbagai sumber di setiap awal artikelnya untuk ilustrasi dan memberi bobot tulisan. Misalnya, ketika menerangkan pentingnya udara segar, dia mengutip kalimat dari Danish Proverb: ”Udara segar memiskinkan dokter.” (hlm. 114).

Karena itu, untuk sehat, salah satunya, kita bisa melakukan deep breath pagi, siang, dan sore. Gampang dan tanpa biaya. Ali memberikan petunjuk yang gampang diikuti: tekuk lidah ke langit-langit, ambil napas panjang sebanyak-banyaknya melalui hidung, dan mulailah berhitung.

Dalam artikel Tidur, Pencernaan Nglembur, Prof Tatik yang rektor STIE Perbanas Surabaya memberikan tip simpel agar pembaca mempunyai body mass index ideal. ”Jangan makan terlalu malam, makanlah sebelum jam tujuh. Sebab kalau Anda makan lantas tidur, akan menyiksa organ pencernaan. Begitu mata Anda terpejam, pencernaan bekerja lembur.”

Untuk kasus ini, Tatik mencuplik untaian kata-kata John Keats: ”Orang yang benar-benar bebas adalah orang yang bisa menolak undangan makan malam tanpa memberikan aneka alasan.”

Sebenarnya, itu adalah penyederhanaan dari uraian panjang lebar yang diberikan Hiromi Shinnya dalam bukunya The Miracle of Enzyme. Hiromi juga menganjurkan agar kita tidur empat atau lima jam setelah makan malam. Sebab, bila kita makan lantas tidur, insulin akan mengubah karbohidrat dan protein menjadi lemak. Akibatnya, badan gampang melar.

Makan malam sebelum tidur juga mengakibatkan sleep apnea alias ngorok. Apakah badan gemuk mengakibatkan ngorok atau ngorok mengakibatkan badan gemuk? Dua fenomena itu (badan gemuk dan ngorok) disebabkan oleh satu hal yang sama: Makan menjelang tidur malam.

Mengapa terjadi sleep apnea? Sebab, makanan yang ada di lambung saat tidur akan meluap naik menuju kerongkongan saat Anda merebahkan diri. Saat hal itu terjadi, tubuh menyempitkan saluran pernapasan untuk mencegah isi lambung memasuki tenggorokan. Jadilah Anda tercekat, sesak napas, lalu ngorok.

Lima puluh satu artikel tentang kesehatan yang disajikan dan semuanya sangat gampang untuk diikuti itu sesungguhnya merupakan saripati dari sejumlah buku kesehatan yang dijadikan referensi penulis. Mulai soal diet terbaik; mengapa sebaiknya Anda menjadi macan sehari saja, sementara yang enam hari lainnya jadi monyet; pilih makanan yang enzime friendly; buah untuk dimakan bukan diminum; the power of air putih, sampai soal rokok dan gorengan.

Buku ini sesungguhnya gabungan dari tiga bab. Itulah sebabnya, penulis menyebut sebagai trilogi, masing-masing terdiri atas 50-an artikel. Tiga bab itu saling mengisi dan melengkapi sebagai bagian dari faktor yang membuat seseorang sukses. Sama halnya dengan bab Healthy, dalam bab Happiness, Ali-Tatik juga menunjukkan bagaimana karakter yang baik, yang bisa mendorong seseorang meraih sukses.

Dalam artikel berjudul Pikiran Negatif, Buang Jauh (hlm. 193), misalnya, Ali-Tatik mengingatkan bahwa curiga, buruk sangka, dan pikiran-pikiran negatif lainnya akan membuat badan kita kehilangan banyak energi karena merasa tertekan. Dampak lain dari sisi medis adalah melemahnya sistem kekebalan tubuh. Akibatnya, tubuh mudah sakit. Ketika sakit, sesorang tidak akan cepat sembuh karena selalu melihat sesuatu dari sisi negatif. Hidup yang demikian indah dan memberikan banyak kesempatan dilewatkan dengan sia-sia. Padahal untuk sukses, kita harus sehat, harus prima secara fisik maupun mental. ”Usaha yang hebat berasal dari sikap yang hebat,” tulis mantan wartawan Jawa Pos itu.

Penulis buku Road Map to The Top ini juga mengajak kita untuk selalu mensyukuri apa yang sudah kita dapatkan. Sebab, syukur merupakan sumber kebahagiaan dan kesejahteraan. Orang yang bersyukur dengan hati yang tulus akan merasa tenang, plong, bebas dari tekanan. Ini diuraikan dalam tulisan Syukuri What We Have (hlm. 145). Sikap ini cocok dengan ucapan Mignon McLaughlin: Kita jarang bahagia dengan apa yang kita miliki sekarang, tapi kita akan menyesalinya jika kita kehilangan apa yang telah kita miliki.

Karakter yang diperlukan untuk menuju sukses seseorang tentulah karakter yang baik. Bagaimana kita menjaga antusiasme dan fokus dalam menangani satu hal. Kita dituntut sabar dan ikhlas karena bersama kesulitan selalu ada kemudahan. Satu musuh sudah terlalu banyak, jangan berharap terlalu banyak. Tetap tertawa ketika diuji, dan tepat waktu.

Ali-Tatik mengajak para pembaca bertekad untuk menjalani karakter yang baik itu selama 14 hari, dengan semangat tinggi untuk berubah. Tekad untuk tidak marah dan tekad untuk mengerjakan kebaikan lainnya. Perubahan itu juga membutuhkan ketekunan, jangan lakukan pengecualian. Menurut Ali, mindset dan otak bawah sadar kita bisa berubah jika dilatih konsisten dalam jangka 14 hari. ”Kalau sudah dilatih selama dua minggu itu, insya Allah, kita akan menuju manusia yang punya habit baru,” tulis Tatik yang meraih gelar doktor dari Unair dengan predikat cum laude.

Dalam esai Kumpuli yang Salih Kerja (hlm. 25), penulis mengajak untuk sering bertemu dengan orang yang salih kerja. ”Mari kita ikut seminarnya para CEO agar ketularan profesional. Mari kita banyak ketemu dengan pebisnis agar muncul jiwa bisnis,” tulis Ali.

Selain menambah wawasan, seminar juga dapat memperluas jaringan. ”Anda tidak perlu lebih baik dari yang lain. Anda juga tidak perlu terbaik dari yang lain. Anda cukup berbeda saja dari yang lain.” Ini adalah kepintaran untuk sukses yang diajarkan guru marketing Hermawan Kartajaya (hlm. 44).

Ajaran Hermawan itulah yang juga diterapkan Ali Murtadlo untuk memajukan JTV. Dia tidak mau latah menayangkan sinetron meski di TV lain jadi primadona. JTV juga tidak mau meniru menayangkan acara variety show untuk menarik hati pemirsa. JTV terbukti bisa eksis karena justru memberi konten lokal yang lebih besar dan keunikan dalam acara-acaranya.

Buku ini tidak hanya berisi saran-saran sederhana agar kita hidup sehat dan berkarakter baik, tapi juga memuat pengalaman pekerjaan dan perjalanan hidup dua penulisnya dalam meraih sukses. (*)

*) Direktur Graha Pena.
Judul Buku: Success, Healthy, Happiness
Penulis: Ali Murtadlo dan Tatik Suryani
Penerbit: Jaring Pena Surabaya
Cetakan: Pertama, Maret 2010
Tebal: 200 halaman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *