Jalan Tragis Para Teroris

Muhammadun AS*
http://oase.kompas.com/
Judul buku : Politik Para Teroris
Penulis : Mutiara Andalas
Pengantar : AM. Hendropriyono
Penerbit : Kanisius Yogyakarta
Cetakan : 1, 2010
Tebal : 132 halaman

Terorisme merupakan epifeni terburuk paling tragis yang terjadi di langit milenium abad ke-21 sekarang ini. Hampir manusia sejagat disibukkan dengan gelombang terorisme yang terus menyeruak hampir di sekujur tubuh benua di dunia ini. Amerika Serikat (AS) menjadi negara pertama yang terlibat paling serius dengan skandal dan tragedi terorisme. Tragedi 11 September 2001 menjadi tonggak hadirnya terorisme yang menggempur ruang public tanpa celah sedikitpun. Jaringan terorisme akhirnya menggelembung luar biasa, bukan saja AS yang waspada, tetapi seluruh manusia jagat raya terlibat keras untuk menghadang terorisme. Tak terkecuali Indonesia yang mendapatkan serangan bertubi-tubi para teroris. Indonesia sungguh amat rawan, karena tragedi terorisme selalu datang menghantui public dan mengancam keselamatan manusia Indonesia.

Walaupun baru-baru ini Indonesia mendapatkan apresiasi positif dunia ihwal komitmennya dalam memberantas terorisme, tetapi itu bukanlah ?garansi? bahwa Indonesia terhindar dari ancaman terorisme. Indonesia masih sangat rawan, terbukti para gembong teroris banyak bercokol di berbagai daerah di Indonesia. Banyaknya gembong teroris yang mengakar kuat di bumi Indonesia merupakan fakta yang layak diamati secara serius, karena terkait politik terorisme yang dilakukan untuk melakukan gerakan global dalam mengubah peta politik dunia. Buku bertajuk ?Politik Para Teroris? hadir sebagai jawab atas sekian persoalan politik yang mengitari terorisme di dunia saat ini.

Penulis melihat bahwa jaringan terorisme yang memperlihatkan diri di panggung politik sebagai pembawa luka yang tak kenal kasihan untuk menumpahkan darah dan menghadirkan tragedi kematian. Mereka menciptakan terror anti-kemanusiaanya dan berharap ketakutan yang diciptakan menjadi epifeni yang terus menggempur ruang ketakutan publik (hal. 38). Politik yang dilakukan adalah menghilangkan kedamaian, kenyamaan, ketentraman, dan kesejukan. Semua itu, bagi mereka, harus dihapuskan, karena akan melanggengkan ketakutan dan memudahkan melakukan gerakan terorisme. Ketakutan public akan memudahkan melancarkan politik terror. Dan target korban akan gampang dipolitisir, sehingga mampu menjinakkan media public ke arah yang berbelokan. Politik terror menghadirkan dunia penuh simpang-siur, karena disitulah terorisme berkembang subur.

Di samping itu, terjadi ketakaburan politik yang dijalankan dunia global saat ini. Kaum teroris takabur dalam berpolitik dengan melakukan hegemoni ketakutan tanpa menginginkan dunia untuk damai dan lestari. Hegemoni ketakutan inilah yang menjadi takabur politik, sehingga terorisme datang dengan penumpasan dan kegilaan pembunuhan. Tragisnya lagi, takabur politik ternyata juga disambut dengan takabur politik serupa, sehingga yang hadir dalam dunia global saat ini adalah ?perang kepentingan? yang dilancarkan bersamaan. AS menjadi Negara penghadang kaum teroris dengan cara yang hegemonic pula, sehingga terjadilah perang besar yang mengorbankan kaum sipil yang tak mafhum sedikitpun.

Buku ini juga menyuguhkan argument bahwa isu terorisme bukanlah tentang kebaikan melawan keburukan, atau Islam melawan Kristen, melainkan tentang perang memperebutkan ruang publik. Isunya mengenai mengakomodasi keberagaman, mengenai pemenuhan hasrat hegemoni, baik ekonomi, militer, bahasa, agama, maupun budaya. Ekologis manapun akan memberi tahu kita mengenai berbahaya dan rapuh sebuah kultur tunggal. Dunia hegemonic itu laksana pemerintah tanpa oposisi sehat. Ia menjadi sejenis rezim dictator. Ibaratnya menaruh dunia tanpa kantong plastik sehingga memutus pernafasan. Suatu ketika, kantong plastik itu akan pecah (hal. 40).

Kultur tunggal yang hegemonic yang dipegang kaum teroris merupakan akibat ?ulah nakal? yang diagungkan dunia modern. Globalisasi selain menyeberangkan cita-cita (migration of dream), globalisasi juga menyeberangkan tragedi (migration of nightmare). Walaupun awalnya terorisme menggema di AS dan Afghanistan, tetapi karena kultur global yang tunggal, akhirnya terorisme juga hadir bukan saja ruang geografis yang terbatas, melainkan melampaui struktur geografis yang dihuni penduduk bumi. Efek domino politik menjadikan mereka mendapatkan akases politis yang luar biasa di berbagai belahan dunia. Karena mendapatkan serangan yang juga hegemonic dari AS, kaum teroris akhirnya juga menjadi isu global yang mengancam seluruh penduduk dunia.

Teroris memang sedang menempuh jalan tragis dalam hidupnya. Selalu saja ada klaim kebenaran yang dilancarkan untuk melegitimasi kebiadaban kaum teroris. Sebagai pelaku, dalih agama selalu dilekatkan dalam gerakan mereka. Sementara kalau dilihat dari sisi korban, terorisme sama sekali bukanlah berdalih agama, karena merupakan jihad yang membabi-buta. Ini justru melanggar doktrin agama. Bagi korban, terorisme jelas merupakan tragedy kemanusiaan yang harus dijauhi dan berantas oleh Negara bersama dengan masyarakat.

Negara dan masyarakat sudah saatnya memberikan suguhan pembelaan rasa atas berbagai korban biadab yang bernama terorisme. Suguhan pembelaan rasa akan menjadi keteduhan yang menentramkan jiwa para korban, sehingga bisa bangkit kembali mengangkat harkat dan martabat hidup yang akan diperjuangkan. Tugas selanjutnya bagi para komunitas kebangsaan dan keagamaan adalah melakukan pembacaan kritis hermeneutis atas teks agama dan kemudian disebarluaskan, sehingga teks agama tidak dijadikan kedok jaringan terorisme yang seringkali menyelubungi aksi anti-kemanusiaanya dengan baju teks kitab suci. Dan kemudian mengangkat wacana terorisme dan kemanusiaan sebagai tema kebangsaan untuk dialog antar agama. Dialog lintas agama sangat penting untuk menciptakan persepsi baru ihwal ke-Indonesia-an, sehingga tercipta kerukunan beragama tanpa harus mencurigai.

Jalan hidup tragis yang dilalui teroris menjadi fakta yang harus segera dijawab dengan agenda tersebut. Sekarang tinggal komitmen dan kekompakan para pemuka masyarakat dan agama untuk saling bergandeng tangan dalam membangun arah masa depan peradaban dunia.

*) Analis Sosial.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *