KOPI HITAM SANG ADIB

David Khalilurrahman, Qaris Tajudin
http://www.ruangbaca.com/

Sebagai seorang realis, Naguib Mahfouz banyak terinspirasi oleh lingkungan sekitarnya, termasuk kafe dan tempat tinggalnya. Tempo menelusuri tempattempat di Kairo yang menjadi ilham bagi karya-karya besarnya.

Kedai kopi itu sudah renta. Didirikan pada 1772. Dinding dalam dari kayu berwarna kuning mulai memudar. Beberapa bagian bahkan terkelupas. Langit-langitnya hitam gelap, dengan cahaya lampu meredup. Sebuah lentera persegi delapan tergantung di tengahnya, ditemani beberapa lampu beling, dan sebuah lampu kristal menjuntai. Untuk para tamu tersedia kursi kayu setengah lingkar, meja besi kecil persegi empat, dan pinggan kuningan sebagai alas untuk kopi atau teh.

Terletak di kawasan tua di pusat kota Kairo, kafe El Feshawi yang hampir seluruh dindingnya ditutupi cermin besar berukir itu menyuarakan kejayaan aristokrasi masa lalu yang sudah redup. Di antara cermincermin kuno itu terpajang sejumlah foto sang pendiri kedai kopi itu, Mustafa el-Feshawi. Mengenakan torbus merah, berpakaian ala bangsawan abad lalu, ia menunggang kuda. Di sudut lainnya ia berpose bersama Raja Fuad (raja terakhir Mesir) dan Ratu Faridah, Perdana Menteri Mustofa an- Nuhas, penyanyi Farid Athras, dan selebritas 1960-an. Tak ada foto bapak revolusi Gamal Abden Nasser yang menghapus sistem kerajaan di Mesir.

Yang agak berbeda adalah foto di sebuah ruangan dua kali dua meter. Foto itu amat bersahaja. Naguib Mahfouz, sang sastrawan, tampak berpose bersama seorang penjual buku keliling berbaju jelabiyah (jubah besar). Naguib mengenakan setelan jas berwarna cerah, berkaca- mata tebal, kaki kirinya dilipat ke atas kaki kanan, bersepatu mengkilat. Di depan mereka terlihat meja dengan setumpuk buku.

Tak tersedia catatan tahun berapa foto ini diambil, namun dalam keterangannya disebutkan foto ini hasil cetakan kali ke-18, tahun 2000. Cuaca Kairo yang ekstrem dan berdebu pasti membuat pemilik kedai harus berulang kali mencetaknya agar tak menguning dan rusak. Repro ke-18 ini saja sudah diselimuti debu tipis, seperti nasib sepasang radio tua, aksesoris kuningan, dinding asbes dan meja-kursi di ruangan bernama Qa?ah Naguib Mahfouz (Ruangan Naguib Mahfouz) itu.

Pantas jika nama Naguib diabadikan. Ia adalah pelanggan terhormat. ?Setiap pagi, sebelum pergi menuju kantornya, Naguib datang sekitar pukul tujuh, menyapa orang sekitarnya, menyimak koran, dan menulis,? kata seorang pelayan yang biasa melayani sang adib kepada Tempo. Naguib biasa memesan kopi hitam (ahwa saadah), dan tak pernah ikut main domino atau catur, dua permainan yang biasa tersedia di kedai-kedai kopi di Kairo.

Kedai itu tersuruk dalam gang-gang sempit Khan Khalily, pasar tradisional yang menjual berbagai cinderamata untuk wisatawan. Di sini aroma asap buah-buahan dari pipa shisa bercampur dengan asap kemenyan yang dibawa bocah pengemis dekil. Pedagang keliling lalu-lalang menjual kerajinan kulit, perempuan Nuba menawarkan tato hena, pengemis dan suara berisik pemilik toko bercampur.

Kawasan ini sangat diakrabi sastrawan peraih Nobel Sastra itu sejak kecil. Dia lahir, tumbuh dan berkembang di kawasan padat ini. Rumah nomor 8 di Beit Al-Qadi Square, Gamaleya, tempat Naguib lahir pada 11 Desember 1911, sudah tak ada lagi. ?Di Gamaleya keluarga kami mendapat julukan Al- Sabilji yang berarti mereka yang memiliki Sabil (pancuran air minum), yang disediakan untuk orang yang melintas di jalanan,? kata Naguib kepada surat kabar Al-Ahram.

Khan Khalily dan Gamaleya hanya terpisahkan oleh Masjid Husain, tempat kepala cucu Nabi Muhammad, konon, dikuburkan. Dan dari kedai kopi yang tersuruk di gang tua ini, inspirasi mengalir deras dalam novel-novelnya. Dari situlah Naguib menangkap kehidupan orang-orang kecil dalam novel Khan al-Khalily (1945). Pada 1975, meski tak lagi tinggal di sana, Naguib tetap merekam kehidupan masyarakat Khan Khalily lewat Hadrat al-Muhtaram (The reverend Sir).

Berjalan ke arah Pasar Atabah di pusat kota, menyusuri ganggang sempit dan pesing, kita akan sampai pada sebuah jalan bernama Bain al-Qasrain, atau Antara Dua Istana. Istana itu tak ada lagi, tapi Naguib mengabadikannya adalam novel berjudul Bain al-Qashrain (Palace Walk) (1956). Dari balkon rumah yang terletak di antara Jalan Bain Qasrain dan An-Nahasiin inilah, Amina?salah seorang tokoh dalam novel itu? melihat menara masjid Al- Qal?un dan Barquk.

Ke arah yang berlawanan, dekat pemakaman ratusan hektar di kawasan al-Darrassa, Naguib terilhami untuk membuat novel al-Lish wal Kilab (The Thief and the Dogs) (1961). Makam yang bentuknya sudah seperti rumah itu memang dijadikan oleh para gelandangan dan orang miskin sebagai tempat tinggal. Pencoleng dan pelacur kelas kambing juga berkumpul di sini. Juga anjing- anjing liar yang berharap makan dari sampah.

Setelah terkenal, Naguib pindah ke kawasan yang lebih elit dan modern di seberang Nil, Agouza. Ia pun memiliki tempat nongkrong baru, sebuah kafe berkelas yang bisa dikunjunginya hanya dengan menyeberangi jembatan Tahrir. Kafe yang pernah disebut oleh Roald Dahl dalam cerita pendeknya, Madamme Rosette, itu berdinding kayu dipelitur kuning-kecoklatan, mengkilat. Jendela kacanya besar-besar, mirip etalase. Di luar tertulis: ?Cafe Riche: Bars and Restaurant, 17 Talat Harb St, Founded 1908?. Deretan botol minuman keras terpajang di atas gerobak kayu. Meja-mejanya beralas kain bermotif biruputih dan dikeliling dua pasang kursi kayu.

Kafe ini didirikan oleh pengusaha Austria Bernard Stinkberg pada 26 Oktober 1908. Setelah setahun, ia menjualnya ke pengusaha Prancis Henry Riche. Nama pemilik kedua ini pun dilekatkan pada kafe ini hingga sekarang. Kafe ini kemudian berpindah-pindah tangan hingga jatuh ke Abdel Malak Khalil dan anaknya, Magdi.

Berbeda dengan El Feshawi yang amat kental nuansa kerajaan, Riche terkenal sebagai tempat berkumpulnya pimpinan majelis revolusi dan pergerakan nasional kelas menengah. Ini terjadi seiring pulangnya kaum intelektual Mesir dari luar negeri, khususnya Prancis, di antara dua perang dunia. Lahir juga pendukung sosialisme dengan ragam alirannya. Di kafe ini pula sejumlah proyek sastra dan pemikiran tumbuh. Di antaranya adalah ide menerbitkan majalah al-Kitab al-Mashri, yang dinakhodai Taha Husayn, Majalah al-Jadidah, dan Gallery 68.

Di Majalah Al-Jadidah itulah esai pertama Naguib berjudul ?Matinya Keyakinan Lama dan Munculnya yang Baru? dimuat. Itu terjadi jauh sebelum Naguib ikut ngopi di Riche, yaitu pada terbitan Oktober 1930.

Hingga kini atmosfer sastra dapat dirasakan di sini. Sepenampang jendela kaca yang besar termaktub informasi, jadwal, poster dan pamflet sejumlah kegiatan seni-budaya-film. Karikatur besar memuat wajahwajah ramai seniman, budayawan, sastrawan dan pemikir Mesir. Ruangan luar yang merupakan selasar berdinding separuh kaca berdiri kursi-meja berderet-deret rapi. Di atasnya tergeletak tumpukan buku-buku karya Naguib Mahfouz, Yahya Haqqi, Yusuf Idris, Ehsan Abd el-Quds, dan sastrawan lainnya. Di seberang kafe itu, dulu terdapat gedung teater tempat Om Kolthoum (Ummi Kultsum) biasa menyanyi.

Sejak 1963, setiap Jumat petang jam 6 sampai 8 malam digelar Salon Sastra Mahfouz di selasar kafe ini yang dihadiri kalangan sastrawan dan budayawan. Di antara mereka, Gamal el-Gheitani, Amal Danqel, Yahya Tahir Abdullah, Sarwat Abaza, Sayyed Khamis, Naguib Sourur, Fathy Sa?ed. Di Majelis Sastra Jumatan ini diperbincangkan segala hal dari persoalan kecil hingga permasalahan sosial, politik, sastra, budaya dan lainlainnya. Di sinilah Gerakan 1960-an yang dikomandani Naguib Mahfouz muncul. ?Kami memiliki cara berpikir yang sama. Tapi seringkali perdebatan amat tajam dan membuat pemilik kafe selalu menegurku karena saya adalah anggota paling tua,? kata Naguib kepada Al-Ahram tentang diskusi di Riche.

Salah satu saksi mata pertemuan- pertemuan itu adalah Muhamad Husain Shadiq, pelayan kafe yang oleh para sastrawan dipanggil Filfil (cabai). Pria berkulit hitam dari Mesir Selatan ini mengabdi tanpa cacat sejak 1942. Karenanya, pemilik kafe meletakkan lukisan foto Filfil di salah satu dinding kafe dengan satu kata di bawahnya: ?Al-Qudwah? (Sang Teladan).

Kepada Tempo pria berusia lebih dari 70 tahun itu menceritakan kebiasaan Naguib. Menurut dia, setiap hari Naguib Mahfouz datang ke kafe ini dengan berjalan kaki dari rumahnya dikawasan Agouza, di seberang sungai Nil. Sepanjang jalan ia menegur-sapa orang-orang, bersalaman, menanyakan kabar- perihal, membeli koran Al- Ahram, duduk, memesan secangkir kopi hitam kesukaannya, membaca dan menulis.

Di kafe itu tergantung potret hitam putih terawat bersih yang membuktikan kehadiran Naguib. Dalam foto itu Naguib Mahfouz mengenakan setelan jas kotak-kotak cerah, duduk di kursi. Sementara Ammu (Om) Filfil berdasi kupu-kupu, baju putih lengan panjang dan celana hitam, menyajikan secangkir kopi buatnya. Kata Ammu Filfil foto ini diambil tahun 1960-an. Di sudut ruangan ini juga terdapat foto hitam putih Naguib Mahfouz sedang duduk tekun-tunak membaca koran.

?Dia (Naguib) selalu duduk di sana, di pojok kafe, dan tak lama kemudian belasan orang akan mengelilinginya. Jika kamu baca cerita-ceritanya, kamu akan mendapatkan sejumlah karakter yang diambil dari pelanggan kafe ini,? kata pemilik kafe itu. Dari kafe itu juga Naguib mendengar kabar percobaan pembunuhan Nasser yang kemudian ditulis dalam novel Al-Karnak.

Ruang bagian dalamnya merupakan ruangan utama restoran dengan desain senada. Terdapat seperangkat bufet coklat tua, radio tua antik, aksesoris kuningan, lampu temaram, musik lembut bertiup. Potret Om Kolthoum di masa mudanya terpampang besar di seberang tangga melingkar. Di ruang itu pula berderet foto seniman, sastrawan, budayawan, kalangan perfilman dan pemikir Arab, antara lain foto Taha Husayn, Abbas Akkad, Taufik El-Hakim, Lois Awad, dan Ismail Yasin.

Di atas mereka semua, foto Naguib berukuran besar bertengger. Naguib difoto separuh badan, memakai sweater hitam, jas warna senada, tahi lalat besar di pipi kiri, dan kacamata tebal. Menurut Ammu Filfil, foto ini diambil selepas Naguib menerima hadiah Nobel Sastra 1988. Dalam pojok kiri foto itu tertera sebaris kata kenangan dan tanda- tangan dalam bahasa Arab, ditulis miring: ?Salon Budaya Riche, kenang-kenanganku pada Kafe Riche. Naguib Mahfouz 1989.? Penulisnya, kini sudah pula menjadi kenangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *