Puisi-Puisi Alfiyan Harfi

MALAM DESEMBER

udara basah
runtuh dirayap kelam
dunia beku menawarkan
duka yang menyenangkan

ada sebuah kata
yang belum mampu kau cipta
namun alam
menampakkannya padamu
dan hanya bagimu

dalam cermin kau melihat
masa kecil menatapmu:
senja berlarian
di atas bukit dan padang rumput
rautnya sama dengan rautmu
mengingatkanmu pada seseorang
yang kau tak mampu mengingatnya

kau sentuh ia, dan ia menyentuhmu
sebuah rupa daramatis
yang sepertinya jenius tak dikenal
pernah melukisnya

kau tutup cermin itu
dan ingin mengajukan pertanyaan
namun masa tua mencegahmu

2006-2008

NAMA

ketika terbangun dari tidur
kukenakan kembali namaku
baru saja aku telah melupakannya
padahal selain nasib dan tangisan
ia adalah milikku yang pertama

kami begitu mirip
seperti saudara kembar
aku sangat mencintainya
dan dia sangat mencintaiku
tapi layaknya kekasih
seringkali kami bertengkar

seringkali aku tinggalkan ia berdiri
di tepi taman yang hujan
orang-orang menyapanya
dan mengira ia adalah diriku
di kamarku, tanpa nama
aku tertawa memikirkan hal itu

namaku hidup bersama mereka
sementara aku telah pergi darinya
ke jalan-jalan, sungai-sungai
dan menenggelamkan diri

2006-2008

MUSIM HUJAN TIBA SEBELUM WAKTUNYA

Tahun ini musim hujan tiba sebelum waktunya
aku kembali mendengarkan detak jam
atau gerimis yang runtuh menggenangi halaman

Seorang anak kecil dan seorang tua yang buta
lewat di antara guguran daun-daun kering
bayangannya terlihat jelas dari jendela kamarku

Seekor burung di rumahku tak lagi mau bernyanyi
ribut kelepak dalam sangkarnya yang asing–
mungkin ia tak menyukai makananku

Ada yang pelan-pelan mengetuk pintu
mungkin lelaki buta dan anak kecil itu
ketika kubuka, aku hanya mendapati diriku sendiri

Mei, 2006

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *